FinansialArtikel

Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Menabung dengan Lima Langkah Ini

Redaksi Intarta

Oleh

Gaji Pas-pasan Tetap Bisa Menabung dengan Lima Langkah Ini
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Gaji naik sedikit, tetapi uang tetap habis di akhir bulan. Keluhan ini akrab bagi banyak pekerja muda, dan jawabannya sering kali bukan menambah penghasilan dulu, melainkan mengubah cara uang diatur sejak gajian masuk.

Menabung dari gaji pas-pasan bukan soal menunggu penghasilan besar. Ia soal arah: setiap rupiah diberi tempat sebelum sempat habis untuk hal-hal yang tidak direncanakan. Tanpa arah, uang cenderung mengalir ke pengeluaran yang paling mudah dijangkau, yaitu belanja spontan.

Baca Juga:Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Segitu? Lima Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Mengubahnya

Bocor Halus yang Menguras Gaji

Kebocoran paling berbahaya justru yang tidak terasa. Kopi Rp20 ribu setiap pagi, makan di luar, dan pesan makanan daring karena lelah sepulang kerja bisa menghabiskan Rp70 ribu hingga Rp100 ribu sehari hanya untuk kenyamanan sesaat. Kopi harian Rp20 ribu saja setara Rp600 ribu sebulan, atau sekitar Rp7 juta setahun bila tidak dikendalikan.

Di sana juga ada langganan aplikasi yang jarang dipakai, ongkos kirim berulang, dan ajakan nongkrong karena takut tertinggal dari teman sekantor. Gaya hidup yang meniru orang berpenghasilan lebih besar membuat gaji kecil terasa makin sempit, padahal yang dikejar sering kali bukan barangnya, melainkan rasa tidak mau ketinggalan.

Baca Juga:Sudah Menabung tapi Saldo Tak Kunjung Bertambah? Ini Lima Kesalahan yang Sering Tak Disadari

Lima Langkah yang Bisa Dimulai Bulan Depan

Langkah pertama, pakai pembagian yang lentur. Rumus 60-30-10 bisa menjadi patokan: 60 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan fleksibel, dan 10 persen untuk tabungan serta dana darurat. Bila 10 persen masih berat, mulai dari 5 persen pun tidak masalah, asal konsisten, karena kebiasaan kecil yang bertahan lebih berharga daripada nominal besar yang hanya bertahan sebulan.

Langkah kedua, pisahkan rekening menurut fungsinya. Satu rekening untuk kebutuhan harian, satu lagi khusus tabungan atau dana darurat, bila perlu di bank yang berbeda agar tidak mudah disentuh. Begitu gajian masuk, pindahkan tabungan lebih dulu lewat transfer otomatis, dan anggap uang itu bukan lagi uang belanja.

Langkah ketiga, buat sistem otomatis dan rutin. Niat bisa berubah setiap hari, tetapi sistem bekerja sendiri. Sisihkan Rp20 ribu per hari atau Rp100 ribu per minggu, dan dalam setahun jumlahnya bisa mencapai jutaan tanpa terasa berat. Langkah keempat, kurangi bocor halus tanpa menyiksa diri: batalkan langganan yang tidak dipakai, buat kopi di rumah beberapa kali seminggu, dan pesan makanan daring hanya saat benar-benar perlu.

Langkah kelima, tambah penghasilan secara realistis dari keterampilan yang sudah dimiliki, misalnya jasa desain kecil, tulisan lepas, konten, atau menjadi penjual kembali barang yang pasarnya dipahami. Tambahan sekecil apa pun tetap berarti, asal diarahkan untuk memperkuat tabungan, bukan untuk gaya hidup baru.

Simulasi Gaji Empat Juta dan Tiga Juta

Dengan gaji Rp4 juta per bulan, pembagian 60-30-10 berarti Rp2,4 juta untuk kebutuhan pokok, Rp1,2 juta untuk kebutuhan fleksibel, dan Rp400 ribu untuk tabungan dan dana darurat. Dalam 6 bulan tabungan itu menjadi Rp2,4 juta, dan dalam setahun mendekati Rp5 juta, tanpa lembur dan tanpa keajaiban kenaikan gaji.

Dengan gaji Rp3 juta, pendekatannya bisa lebih lentur. Setelah kebutuhan pokok Rp2,4 juta, sisakan Rp500 ribu untuk kebutuhan harian dan hiburan, lalu Rp100 ribu per minggu untuk tabungan otomatis. Bila itu masih berat, mulai dari Rp20 ribu per minggu pun tetap berarti, karena yang dibangun adalah ritme, bukan sekadar angka.

Agar tidak terasa berat, ubah cara memandangnya: bukan kehilangan uang, melainkan memindahkan uang untuk diri di masa depan. Tulis tujuan tabungan, entah dana darurat Rp6 juta atau liburan tanpa utang, dan evaluasi setiap 3 bulan apakah pembagiannya masih realistis. Bila satu sisi pengeluaran naik, tekan sedikit sisi lain, tanpa menyalahkan diri sendiri.

Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan mimpi yang menunggu gaji besar. Ia hasil dari serangkaian keputusan kecil yang diulang setiap bulan: menutup kebocoran yang tidak penting, menyisihkan uang lebih dulu, dan terus berjalan meski perlahan. Langkah pertama, sekecil apa pun, adalah bagian tersulit sekaligus terpenting.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua