PolitikBerita

Pemilu Israel Buntu: Blok Netanyahu Unggul Tipis, Mayoritas Masih Jauh dari Genggaman

W

Oleh Redaksi Intarta

Kamis, 29 Okt 2026 18:36 WIB

Pemilu Israel Buntu: Blok Netanyahu Unggul Tipis, Mayoritas Masih Jauh dari Genggaman
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Pemilihan umum Israel belum menghasilkan pemenang yang jelas. Setelah hampir 90 persen suara dihitung, blok yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memang berada di depan, tetapi tidak satu pun kubu yang mendekati mayoritas di parlemen.

Komisi Pemilihan Pusat Israel mencatat, dengan 89,8 persen surat suara terhitung, blok Netanyahu diproyeksikan meraih 53 kursi dari total 120 kursi Knesset. Blok oposisi yang dipimpin mantan panglima militer Gadi Eisenkot dari partai Yashar membuntuti dengan 48 kursi.

Angka itu berarti kedua kubu masih jauh dari 61 kursi yang menjadi syarat mutlak untuk membentuk pemerintahan yang aman. Negosiasi koalisi yang alot diperkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu ke depan.

Partai-partai Arab cetak rekor

Salah satu kejutan terbesar pemilu kali ini datang dari partai-partai Arab. Dua partai mayoritas Arab diproyeksikan meraih total 19 kursi, rekor tertinggi yang melampaui capaian sebelumnya sebanyak 15 kursi.

Perolehan itu membuat partai-partai Arab berpotensi menjadi penentu dalam pembentukan pemerintahan berikutnya. Namun, kerja sama semacam itu selama ini tabu dalam politik Israel. Netanyahu sudah menegaskan menolak pemerintahan yang bergantung pada dukungan partai Arab, bahkan menyebutnya sebagai pengkhianatan.

"Siapa pun yang ingin menawarkan alternatif substantif dan tulus terhadap pemerintahan Netanyahu yang berlumuran darah harus berbicara dengan kami untuk membuka jalan bagi perubahan yang didambakan publik Israel," kata pemimpin Joint List, Yousef Jabareen.

Di kubu oposisi, tanda keterbukaan mulai muncul. Pemimpin partai Demokrat, Yair Golan, menyatakan dukungannya untuk membawa partai-partai Arab ke dalam koalisi.

"Kita tidak boleh lagi menerima pembagian rasis Netanyahu antara suara Yahudi dan suara Arab. Kita punya tanggung jawab, dan kita punya peluang untuk membentuk pemerintahan perubahan dalam kemitraan dengan warga Arab Israel," tulis Golan.

Ratusan ribu suara pos masih dihitung

Hasil akhir masih bisa bergeser karena penghitungan suara pos yang disebut "amplop ganda" baru dimulai pada Kamis pagi. Komisi Pemilihan memperkirakan masih ada antara 430.000 hingga 480.000 surat suara semacam itu yang harus dihitung.

Surat suara tersebut sebagian besar berasal dari tentara, narapidana, dan diplomat di luar negeri, serta pemilih yang tidak dapat mencoblos di tempat pemungutan suara yang ditetapkan. Jumlahnya setara dengan hampir 10 persen dari total suara, sehingga secara teori masih bisa mengubah pembagian kursi secara cukup berarti.

Penghitungan penuh ditargetkan rampung pada Jumat sore, sementara hasil resmi baru akan diumumkan pada 4 November.

Presiden desak hindari pemilu ulang

Presiden Isaac Herzog, yang memegang peran kunci dalam menunjuk pihak yang akan mencoba membentuk pemerintahan, mendesak semua partai untuk datang dengan pikiran terbuka saat konsultasi dimulai pekan depan.

"Satu hal harus jelas, dan saya sudah mengatakannya sebelum pemilu juga. Kita harus melakukan segala cara, tentu saja setelah kemarin, untuk menghindari putaran pemilu berikutnya. Jadi saya berharap semua yang datang ke sini datang dengan pikiran terbuka," kata Herzog.

Berdasarkan kebiasaan, presiden menunjuk pemimpin partai peraih suara terbanyak untuk mencoba membentuk koalisi, meski ia tidak diwajibkan mengikuti konvensi itu. Sosok yang ditunjuk kemudian memiliki waktu 42 hari untuk merangkai pemerintahan.

Israel pernah mengalami lima kali pemilu dalam rentang April 2019 hingga November 2022 akibat kesulitan serupa dalam membentuk dan mempertahankan pemerintahan koalisi. Kekhawatiran akan terulangnya kebuntuan itu kini membayangi proses politik di Yerusalem.

Partisipasi pemilih kali ini tercatat sebagai yang tertinggi dalam beberapa dekade, dengan warga Arab Israel datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah besar. Pengamat menilai tingginya partisipasi itu antara lain dipicu oleh kampanye kubu Netanyahu yang bernada keras terhadap warga Arab Israel, yang justru memobilisasi mereka untuk memilih.

Sumber: DW News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Ikuti Intarta di

Facebook

Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.

i

intarta

Berita & Media

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua