RagamArtikel

Ruang Tenang di Ruang Publik, Kebutuhan Mendesak bagi Penyandang Autisme

Redaksi Intarta

Oleh

Ruang Tenang di Ruang Publik, Kebutuhan Mendesak bagi Penyandang Autisme
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Akses terhadap fasilitas pengembangan diri dan ruang publik yang ramah bagi penyandang autisme masih menghadapi tantangan besar. Wadah pameran seni dan pelatihan kreatif bagi individu autistik mulai berkembang, tetapi distribusinya belum merata dan masih berpusat di kota-kota besar. Akibatnya, talenta anak-anak spektrum autisme di daerah terpencil atau kota kecil belum terjangkau secara optimal.

Persoalan ini mengemuka dalam diskusi "Reimagining Movement for Everyone" yang diinisiasi studio kreatif Kreaby bersama Hyundai Motorstudio di Senayan Park, Kamis (4/6/2026). Director & Co-founder Kreaby, Arani Aslama, mengungkapkan bahwa selain perluasan distribusi karya ke luar kota besar, hal krusial yang mendesak dibenahi adalah infrastruktur fisik di area publik yang belum mengakomodasi kebutuhan sensorik penyandang autisme.

Baca Juga:Jokowi-Gibran Tampil Bersama, Pengamat: Wajar, tapi Desakan Mundur Tetap Menguat

Ruang Tenang sebagai Ruang Pemulihan

Arani menekankan pentingnya pengelola fasilitas umum atau penyelenggara acara untuk menyediakan quiet room (ruang tenang) atau area jeda khusus. Fasilitas tersebut berfungsi sebagai ruang pemulihan bagi individu autistik ketika mengalami overstimulasi sensorik, kondisi di mana otak menerima terlalu banyak informasi dari pancaindra akibat kebisingan, lampu yang terlalu terang, atau keramaian publik. Kehadiran ruang tenang ini diyakini dapat memberikan rasa aman bagi mereka untuk tetap aktif beraktivitas di luar rumah.

Pada kesempatan yang sama, Director Nathan's Foundation, Adelle Odelia Tanuri, menyoroti aspek kesiapan keluarga mengenai pentingnya intervensi dini atau early intervention. Orang tua diimbau peka terhadap keunikan tumbuh kembang anak sejak balita dan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak serta terapis jika mendapati gejala keterlambatan komunikasi atau perilaku tertentu.

Baca Juga:Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Penyebab yang Jarang Disadari

Adelle mengingatkan para orang tua bahwa mereka tidak berjalan sendirian dalam mendampingi anak autistik. Ekosistem dukungan atau support system dan komunitas edukasi saat ini sudah semakin terbuka untuk membantu keluarga melewati masa-masa awal diagnosis. Langkah intervensi yang cepat dan tepat sejak usia dini terbukti secara klinis mampu mengoptimalkan potensi serta kemandirian anak hingga mereka dewasa kelak.

Inklusivitas Bukan Sekadar Kampanye

Menciptakan lingkungan inklusif bukan lagi sekadar kampanye moralitas, melainkan kebutuhan mendesak yang melibatkan regulasi tata kota dan kesadaran sosial. Selama ini, banyak penyandang autisme terisolasi di dalam rumah bukan karena mereka tidak memiliki potensi, melainkan karena ruang publik sering kali "terlalu bising" dan tidak ramah terhadap kebutuhan sensorik mereka.

Bagi masyarakat umum, edukasi untuk tidak memberikan stigma negatif atau tatapan menghakimi ketika melihat anak autistik mengalami tantrum di tempat umum adalah langkah awal yang sangat berharga. Sementara bagi pelaku industri dan pemerintah, penyediaan sudut tenang di mal, stasiun, bandara, dan taman kota adalah investasi inklusivitas yang nyata untuk menjamin hak setara bagi setiap warga negara.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua