Teleskop Antariksa Legendaris Berakhir Membara Setelah 22 Tahun Mengorbit
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
SUMATERA UTARA - INTARTA.com - Sebuah teleskop antariksa kenamaan milik NASA mengakhiri perjalanannya dengan cara dramatis: jatuh kembali ke atmosfer dan terbakar, hampir 22 tahun setelah diluncurkan. Neil Gehrels Swift Observatory yang tak berawak itu memasuki kembali atmosfer pada Rabu pukul 07.39 waktu setempat di Amerika Serikat, atau 12.39 UTC, di atas wilayah Sumatera Utara.
Badan antariksa Amerika Serikat itu menyatakan sebagian besar wahana diperkirakan hangus saat melintasi atmosfer, meski beberapa komponen mungkin selamat dari proses tersebut. Hingga laporan awal, belum ada kabar kerusakan di darat akibat jatuhnya observatorium tersebut.
Baca Juga:Ketika Sebuah Garis Memisahkan Masyarakat Adat yang Sudah Menyatu Berabad-abadMisi yang jauh melampaui rencana awal
Swift diluncurkan pada 2004 dengan tiga teleskop di dalamnya. Tugas awalnya hanya dua tahun: mempelajari ledakan sinar gamma, semburan energi terbesar di alam semesta. Namun misi itu justru bertahan hampir 11 kali lebih lama dari rencana, hanya terpaut beberapa hari dari usia 22 tahun.
Selama itu, satelit seberat sekitar 1.452 kilogram dan bernilai 500 juta dolar AS tersebut mengamati ratusan ledakan supernova, lubang hitam yang merobek bintang, suar sinar-X bintang, asteroid, dan komet. Kontribusinya juga tercatat dalam hampir 7.000 makalah ilmiah yang diterbitkan.
Baca Juga:Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar DolarMeski kondisinya masih baik, Swift perlahan kehilangan orbit, sebagian karena badai geomagnetik kuat yang dipicu letusan Matahari. Pada Juli, NASA menggandeng perusahaan swasta Katalyst Space untuk menaikkan kembali ketinggian orbitnya.
Upaya penyelamatan yang gagal
Misi penyelamatan itu memakai wahana robotik berlengan tiga bernama LINK. Namun tak lama setelah mencapai luar angkasa, wahana tersebut mengalami masalah kendali sikap hingga berputar tak terkendali. LINK kemudian jatuh kembali ke Bumi pada September, sementara Swift menghentikan operasinya pada 20 Oktober.
Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini terasa dekat bukan hanya karena jalur jatuhnya melintasi Sumatera Utara, melainkan karena ia menjadi pengingat nyata bahwa benda-benda buatan manusia di orbit tidak abadi. Ketika satelit sebesar ini kembali tanpa kendali, yang menentukan aman atau tidaknya bukan sekadar ukurannya, melainkan seberapa banyak bagiannya yang terbakar habis di atmosfer dan seberapa akurat prediksi jalur jatuhnya. Kali ini, tidak adanya laporan kerusakan di darat menjadi kabar yang melegakan, tetapi juga menegaskan pentingnya pemantauan sampah antariksa dan rencana akhir misi sejak awal peluncuran.
Kepergian Swift sekaligus menutup satu bab penting astronomi: sebuah observatorium yang dirancang untuk tugas singkat, tetapi justru menjadi mata yang setia mengawasi ledakan-ledakan paling dahsyat di langit selama dua dekade. Data yang dikumpulkannya akan terus dipakai para peneliti, bahkan setelah wahana itu sendiri tiada.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Ketika Sebuah Garis Memisahkan Masyarakat Adat yang Sudah Menyatu Berabad-abad

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Lula Menangi Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro di Putaran Kedua

Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna

Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui Perkiraan

India Luncurkan Satelit NVS-03, Perkuat Alternatif GPS Buatan Sendiri
Berita Terkini
Lihat Semua
Tujuh Cara Menabung Sambil Membantu Orang Tua tanpa Mengorbankan Keuangan

Tiga Cara Sederhana Mengatur Gaji Kecil agar Tetap Cukup sampai Akhir Bulan


Aktivis Demokrasi Divonis 10 Tahun Lagi atas Tuduhan Kolusi Asing


