Peringatan Keras Pemimpin Tertinggi Jelang Pemilu Penentu Arah Konflik
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam aksi militer baru setelah pemilu sela pada Selasa, dan sempat menyatakan sedang mempertimbangkan apakah akan "menyelesaikan" lawan. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berbicara tentang "peluang bersejarah yang hanya terjadi sekali" untuk menggulingkan pemerintahan.
Baca Juga:Sesumbar Bisa Beres dalam 10 Menit, Ancaman Serangan Baru Kembali MengemukaPeringatan di Tengah Pemilu Penentu
"Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, maka angkatan bersenjata Republik Islam dan bangsa yang akan menentukan waktu dan syarat untuk mengakhirinya," kata Khamenei dalam pernyataan pada Sabtu itu.
Ia juga disebut menyampaikan kepada para komandan militer puncak bahwa setiap level atau jenis ancaman harus dijawab dengan respons yang segera, berdampak, dan tanpa batas geografis. Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama yang dilaporkan antara Khamenei dan jajaran militer puncak, yang dihadiri Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi, Panglima Angkatan Darat Amir Hatami, dan Komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi.
Baca Juga:Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja KoalisiDiplomasi Berjalan, Ancaman Masih Menggema
Perang ini dimulai pada 28 Februari dengan serangan gabungan, yang kemudian dibalas dengan serangan terhadap aset Amerika di sejumlah negara kawasan. Sejak itu, pelayaran melalui jalur laut strategis di kawasan itu dibatasi, padahal jalur tersebut biasanya mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Upaya diplomasi masih berjalan untuk mencegah pertempuran kembali pecah. Mediator dari Qatar berada di ibu kota untuk berunding dengan para pejabat senior, sementara Wakil Presiden JD Vance dilaporkan mengirim surat kepada kepala keamanan Mohsen Rezaei atas arahan Presiden Trump demi menghidupkan kembali perundingan.
Nada keras juga datang dari jajaran militer dan diplomat. Juru bicara angkatan darat Mohammad Akaraminia memperingatkan bahwa serangan lanjutan hanya akan memperluas cakupan perang, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan "pukulan yang mengguncang bumi" bagi siapa pun yang berani melukai rakyatnya, dan menegaskan tidak akan ada lagi "garis merah".
Dampak yang Bisa Dirasakan Pembaca di Indonesia
Bagi pembaca di Indonesia, konflik ini bukan sekadar kabar jauh. Pembatasan pelayaran di jalur minyak strategis telah memicu lonjakan harga energi global, dan gejolak harga energi dunia berpotensi ikut terasa pada biaya bahan bakar, ongkos distribusi barang, hingga harga kebutuhan sehari-hari di dalam negeri.
Langkah berikutnya yang patut dipantau adalah hasil pemilu legislatif di kedua negara, perkembangan perundingan yang dimediasi Qatar dan Pakistan, serta apakah ancaman serangan lanjutan berubah menjadi aksi nyata atau justru mereda lewat jalur diplomasi. Setiap perkembangan di titik ini bisa dengan cepat mengubah harga energi dan sentimen pasar global.
Sumber: CNA
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Sesumbar Bisa Beres dalam 10 Menit, Ancaman Serangan Baru Kembali Mengemuka

Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi

Washington-Tel Aviv Kabarnya Matangkan Serangan ke Iran Usai Pemilu AS

Jerman Masih Menahan Sikap soal Hasil Pemilu Israel yang Belum Pasti

Jelang Pemilu Sela, Amerika Serikat Tuding Kanada Coba Campuri Hasilnya

Sinyal Dialog Dibuka, Syarat Pembukaan Jalur Strategis Tetap Tegas
Berita Terkini
Lihat Semua
Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Penyebab yang Jarang Disadari

Bukan Dompetnya yang Bermasalah, Ini 5 Pola Pikir yang Membuat Keuangan Sulit Berubah

Gaji Selalu Habis Sebelum Akhir Bulan? Ini 6 Cara Menabung yang Masih Masuk Akal

Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus Bekerja

