InternasionalBerita

Peringatan Keras Pemimpin Tertinggi Jelang Pemilu Penentu Arah Konflik

Redaksi Intarta

Oleh

Peringatan Keras Pemimpin Tertinggi Jelang Pemilu Penentu Arah Konflik
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi, pada Sabtu (31/10) memperingatkan dua negara adikuasa agar tidak melancarkan serangan baru. Peringatan itu muncul setelah adanya ancaman serangan lanjutan seusai pemilu legislatif yang dinilai menentukan arah konflik.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam aksi militer baru setelah pemilu sela pada Selasa, dan sempat menyatakan sedang mempertimbangkan apakah akan "menyelesaikan" lawan. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berbicara tentang "peluang bersejarah yang hanya terjadi sekali" untuk menggulingkan pemerintahan.

Baca Juga:Sesumbar Bisa Beres dalam 10 Menit, Ancaman Serangan Baru Kembali Mengemuka

Peringatan di Tengah Pemilu Penentu

"Jika musuh sekali lagi melancarkan serangan militer atau teroris, maka angkatan bersenjata Republik Islam dan bangsa yang akan menentukan waktu dan syarat untuk mengakhirinya," kata Khamenei dalam pernyataan pada Sabtu itu.

Ia juga disebut menyampaikan kepada para komandan militer puncak bahwa setiap level atau jenis ancaman harus dijawab dengan respons yang segera, berdampak, dan tanpa batas geografis. Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama yang dilaporkan antara Khamenei dan jajaran militer puncak, yang dihadiri Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi, Panglima Angkatan Darat Amir Hatami, dan Komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi.

Baca Juga:Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi
Khamenei disebut belum terlihat di depan publik sejak mengambil alih kepemimpinan pada Maret, setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan di awal perang. Ia juga memerintahkan para komandan memperbarui daftar target hingga mencakup "segala jenis aset berwujud maupun tidak berwujud milik musuh Amerika-Zionis".

Diplomasi Berjalan, Ancaman Masih Menggema

Perang ini dimulai pada 28 Februari dengan serangan gabungan, yang kemudian dibalas dengan serangan terhadap aset Amerika di sejumlah negara kawasan. Sejak itu, pelayaran melalui jalur laut strategis di kawasan itu dibatasi, padahal jalur tersebut biasanya mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Upaya diplomasi masih berjalan untuk mencegah pertempuran kembali pecah. Mediator dari Qatar berada di ibu kota untuk berunding dengan para pejabat senior, sementara Wakil Presiden JD Vance dilaporkan mengirim surat kepada kepala keamanan Mohsen Rezaei atas arahan Presiden Trump demi menghidupkan kembali perundingan.

Nada keras juga datang dari jajaran militer dan diplomat. Juru bicara angkatan darat Mohammad Akaraminia memperingatkan bahwa serangan lanjutan hanya akan memperluas cakupan perang, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi memperingatkan "pukulan yang mengguncang bumi" bagi siapa pun yang berani melukai rakyatnya, dan menegaskan tidak akan ada lagi "garis merah".

Dampak yang Bisa Dirasakan Pembaca di Indonesia

Bagi pembaca di Indonesia, konflik ini bukan sekadar kabar jauh. Pembatasan pelayaran di jalur minyak strategis telah memicu lonjakan harga energi global, dan gejolak harga energi dunia berpotensi ikut terasa pada biaya bahan bakar, ongkos distribusi barang, hingga harga kebutuhan sehari-hari di dalam negeri.

Langkah berikutnya yang patut dipantau adalah hasil pemilu legislatif di kedua negara, perkembangan perundingan yang dimediasi Qatar dan Pakistan, serta apakah ancaman serangan lanjutan berubah menjadi aksi nyata atau justru mereda lewat jalur diplomasi. Setiap perkembangan di titik ini bisa dengan cepat mengubah harga energi dan sentimen pasar global.

Sumber: CNA

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua