Terkini
EkonomiBerita

Produksi Dipangkas, 18 Emiten Batu Bara RI Malah Untung Besar-besaran

W

Oleh Redaksi Intarta

Kamis, 22 Okt 2026 10:43 WIB

Produksi Dipangkas, 18 Emiten Batu Bara RI Malah Untung Besar-besaran
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

Keberatan pengusaha terhadap pemangkasan produksi batu bara menjadi sorotan pada awal 2026. Namun, laporan keuangan semester I-2026 memperlihatkan banyak emiten batu bara justru membukukan keuntungan besar — sejumlah perusahaan bahkan mencatat pertumbuhan laba bersih hingga ratusan persen.

Dari 18 emiten yang ditelusuri, seluruhnya mencatatkan Net Profit After Tax (NPAT) positif pada Januari–Juni 2026. Sebanyak 16 emiten membukukan kenaikan laba tahunan, satu berbalik dari rugi menjadi laba, dan satu mengalami penurunan.

Adaro Pimpin dengan Laba Rp8,48 Triliun

Adaro Andalan Indonesia (AADI) membukukan NPAT terbesar, yakni Rp8.480,39 miliar — naik 10,52% dibanding semester I-2025. Golden Energy Mines (GEMS) melonjak 45,03% menjadi Rp3.937,35 miliar. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dan Alamtri Minerals Indonesia (ADMR) masing-masing mencatat laba Rp3.121,02 miliar dan Rp3.117,77 miliar.

Perbaikan mencolok terlihat pada Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) yang berbalik laba Rp79,53 miliar setelah rugi Rp177,23 miliar setahun sebelumnya. Sebaliknya, Karya Pacific Energy (IATA) menjadi satu-satunya yang turun — labanya merosot 82,43% menjadi Rp17,20 miliar, meski tetap positif.

Protes Pemangkasan Produksi

Polemik mencuat ketika pemerintah mengevaluasi RKAB pertambangan untuk 2026. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memutuskan target produksi batu bara sekitar 600 juta ton — turun dari realisasi 817,48 juta ton pada 2025 — untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan demi menaikkan harga.

"Jangan harta negara kita dijual murah dong. Pengelolaan tambang ini kan harus berkesinambungan. Ada anak cucu kita juga yang harus melanjutkan bangsa ini," kata Bahlil.
APBI-ICMA keberatan atas pemangkasan 40–70%. Direktur Eksekutif Gita Mahyarani memperingatkan penurunan volume bisa menyulitkan perusahaan menutup biaya tetap dan memenuhi kontrak. Namun data semester I menunjukkan kekhawatiran itu tidak bisa digeneralisasi menjadi kerugian seluruh perusahaan.

Harga Batu Bara Menguat

Kinerja positif berlangsung di tengah menguatnya harga batu bara internasional. Rata-rata harga kontrak berjangka Newcastle sejak awal 2026 hingga 20 Oktober mencapai US$133,60 per ton — naik 23,11% dibanding rata-rata 2025 sebesar US$108,52 per ton. IEA menyebut ketidakpastian regulasi ekspor Indonesia turut menekan harga naik.

Sumber: CNBC Indonesia

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang

Topik

Komentar

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua