Sakit Kepala Berbulan-bulan, Bocah 12 Tahun Ternyata Idap Kelainan Aorta yang Sangat Langka
Oleh Redaksi Intarta
Minggu, 25 Okt 2026 14:42 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Kasus medis yang sangat langka menimpa seorang anak berusia 12 tahun asal China. Ia dilarikan ke rumah sakit karena tekanan darahnya mencapai 225/158 mmHg, jauh di atas batas normal yang umumnya berada di bawah 120/80 mmHg.
Keluhan awalnya tampak sederhana: sakit kepala ringan yang terus kambuh selama lebih dari lima bulan. Setiap kali kambuh, sakit kepala itu bisa berlangsung 3-4 jam, disertai pusing, kelelahan, dan muntah.
Bukan Sekadar Sakit Kepala Biasa
Di rumah sakit, dokter sempat mendiagnosis anak itu dengan poliarteritis nodosa, penyakit peradangan yang merusak pembuluh darah kecil dan sedang. Namun obat penurun tekanan darah yang diberikan lewat infus tak juga berhasil mengendalikan kondisinya.
Pemeriksaan lanjutan menemukan kerusakan jaringan di kedua ginjal dan limpa akibat kekurangan pasokan darah, serta pengerasan pada aorta, pembuluh darah utama tubuh.
Endapan Keras Seperti Terumbu Karang
Hasil pemeriksaan itu mengarah pada coral reef aorta, kondisi langka ketika plak keras seperti batu tumbuh di bagian dalam aorta dan menghambat aliran darah ke cabang pembuluh yang memasok ginjal dan usus.
Pada orang dewasa, kondisi ini biasanya berkaitan dengan faktor risiko penyakit jantung seperti kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, dan kebiasaan merokok. Namun pasien anak ini tidak memiliki satu pun faktor tersebut, dan dokter juga menyingkirkan kemungkinan gangguan metabolisme kalsium dan fosfat.
Tim dokter kemudian menemukan bahwa anak itu mengidap tuberkulosis paru aktif. Meski TBC dapat memicu peradangan di seluruh tubuh, para dokter menegaskan bahwa kaitan TBC dengan coral reef aorta masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Kasus yang Dipublikasikan di Jurnal Medis
Kasus ini dipublikasikan pada Juli 2026 di Journal of Medical Case Reports oleh tim dokter dari RS Xinjiang Medical University di Urumqi. Para penulisnya menggambarkan kondisi tersebut sebagai sangat langka di seluruh dunia.
Setelah prosedur untuk membuka arteri ginjal yang menyempit, tekanan darah pasien perlahan menurun dan tetap terkontrol selama masa tindak lanjut. Pada 2024, kasus serupa pernah dilaporkan pada anak laki-laki 12 tahun lain yang pernah menjalani perbaikan aorta saat masih bayi.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa sakit kepala yang tak kunjung hilang pada anak sebaiknya tidak dianggap sepele dan perlu diperiksakan lebih lanjut.
Sumber: CNN Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Kasus Ebola di Kenya Capai Sembilan, Nigeria Konfirmasi Kasus Pertama

Foto Terbaru Kim Jong Un Dirilis, Patahkan Kabar Kematiannya

Kasus Ebola Pertama Muncul di Ibu Kota Nigeria, Pasien Tiba dari Uganda

Cedera Rahang, Emi Martinez Absen hingga Dua Bulan Bela Chelsea

Serangan di Bandara King Fahd Dammam Tewaskan 1 Orang, 8 Lainnya Luka-luka

Diduga Keracunan MBG, 100 Anak Cirebon Dilarikan ke Rumah Sakit, Dapur SPPG Dibekukan
Berita Terkini
Lihat Semua
Honda Bakal Jual Pikap Buatan Mitsubishi di ASEAN Mulai 2028

Viral Dugaan Anak Dipukul di Malaysia, Menteri PPPA: Kekerasan Tak Pernah Bisa Dibenarkan

Bukan Sekadar Pencari Nafkah, Ini Sosok Ayah yang Diinginkan Alquran

Lolos Verifikasi, Sayuti Achmad Selangkah Lebih Dekat Menuju Kursi Ketua PWI Aceh

