AI Berhasil Rancang Virus Baru dari Nol, Picu Kekhawatiran
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil merancang virus baru dari nol menggunakan kecerdasan buatan. Yang mereka ciptakan adalah bakteriofag, virus yang secara alami menyerang bakteri dan selama ini dipakai untuk mengobati infeksi yang sulit disembuhkan. Di laboratorium, virus rancangan AI ini terbukti mampu membunuh bakteri Escherichia coli yang sebelumnya kebal terhadap bakteriofag alami.
Cara Kerja Model Bahasa Genom
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science pada 6 Agustus 2026 dalam makalah berjudul "Generative design of bacteriophages with genome language models". Penelitian dipimpin Samuel H. King dengan Brian Hie sebagai peneliti senior, keduanya dari Stanford University. Tim memakai dua model AI bernama Evo 1 dan Evo 2, model bahasa genom yang cara kerjanya mirip large language model, hanya saja yang dipelajari bukan susunan kata melainkan susunan basa DNA. Kedua model dilatih dengan data genetik dari sekitar dua juta bakteriofag alami, dengan batasan yang sengaja diterapkan: kode genetik virus yang menginfeksi manusia, hewan, atau tumbuhan tidak dimasukkan ke data latihan.
Sebagai cetak biru, peneliti memakai phiX174, bakteriofag kecil dengan genom sekitar 5.400 pasang basa dan 11 gen. AI menghasilkan ribuan rancangan genom, lalu tim memilih hampir 300 untuk benar-benar disintesis. Hasilnya, 16 di antaranya terbukti hidup dan mampu menginfeksi E. coli, tiga bahkan tumbuh lebih cepat dibanding phiX174 alami. Pengamatan mikroskop cryo-electron mengonfirmasi salah satu virus rancangan memakai protein pengemas DNA yang cukup berbeda dari yang ditemukan di alam, bukti AI tidak sekadar menyalin. Lebih penting lagi, campuran ke-16 virus itu berhasil mengatasi bakteri E. coli yang sudah berevolusi menjadi kebal terhadap phiX174 alami.
Harapan untuk Krisis Resistensi Antibiotik
Nilai temuan ini erat dengan krisis resistensi antibiotik. Profesor Jasna Rakonjac dari Massey University menyebut resistensi yang terus meningkat berpotensi membawa dunia ke skenario penyakit infeksi yang tak lagi bisa diobati pada 2050. Terapi fag sudah lama dilirik sebagai alternatif antibiotik, tetapi bakteri juga bisa berevolusi menjadi kebal terhadap fag tertentu. Menurut Rakonjac, pendekatan berbasis AI tampak jauh lebih efektif dibanding metode koktail konvensional, karena virus bisa dirancang ulang secara cepat begitu bakteri mulai kebal.
Peringatan soal Pengaturan
Para penulis studi sendiri menuliskan bahwa pekerjaan ini memunculkan pertimbangan penting soal biosafety, biocontainment, dan biosecurity. Peringatan lebih tajam datang dari Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Center for Health Security, Johns Hopkins University, yang menilai kemampuan menyusun genom virus lewat AI generatif kini sudah ada, sementara tata kelola untuk mengarahkannya secara aman belum tersedia. Simon Clarke dari University of Reading mengapresiasi kehati-hatian tim Stanford yang membatasi data latihannya, tetapi mengingatkan tidak ada jaminan peneliti lain di masa depan akan seteliti itu.
Sejumlah ilmuwan lain menilai kekhawatiran masih terlalu dini untuk dibesar-besarkan. Tom Ellis dari Imperial College London mengatakan merancang genom yang jauh lebih kompleks daripada phiX174 masih sangat sulit bagi AI saat ini, dan bila ada pihak yang ingin membuat virus mematikan, cara yang lebih praktis justru memodifikasi patogen yang sudah ada di alam. Patrick Cai dari University of Manchester melihat pencapaian ini membuktikan model bahasa genom mulai mempelajari prinsip rancangan yang selama ini hanya terbentuk lewat evolusi alami. Jordi García Ojalvo dari Pompeu Fabra University mencatat efisiensinya masih rendah, dari ribuan rancangan hanya 16 yang berfungsi, sehingga risiko penyalahgunaan langsung relatif kecil untuk saat ini. Yang jelas, kemampuan komputasi untuk merancang kehidupan mikroskopis kini benar-benar ada; pertanyaan yang belum terjawab adalah siapa yang akan mengatur penggunaannya.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna

AI Microsoft Bisa Mendiagnosis Bertahap seperti Dokter, Akurasi Dua Kali Lipat

Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Minum Air Es Ternyata Tidak Langsung Menyebabkan Batuk dan Flu

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Ditolak Mentah-mentah, Warga Pennsylvania Tolak Uang Rp154 Juta demi Menolak Pusat Data Raksasa
Berita Terkini
Lihat Semua
Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras








