RagamArtikel

Bangun Kebiasaan Baik dengan Sistem, Bukan Sekadar Tujuan

Redaksi Intarta

Oleh

Bangun Kebiasaan Baik dengan Sistem, Bukan Sekadar Tujuan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Membangun kebiasaan baik sering terasa berat, bukan karena kurang niat, melainkan karena pendekatannya keliru. Buku Atomic Habits karya James Clear menawarkan tiga pelajaran utama yang bisa langsung dipraktikkan.

Clear bukan penulis sembarangan. Ia bertahun-tahun meriset soal kebiasaan dan pengambilan keputusan, dengan buletin yang tumbuh hingga 100 ribu pelanggan hanya dalam dua tahun, dan karyanya kerap muncul di media-media besar.

Baca Juga:Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Segitu? Lima Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Mengubahnya

Lupakan Tujuan, Bangun Sistem

Pelajaran pertama: tujuan dan sistem adalah dua hal berbeda. Tujuan adalah hasil yang ingin dicapai, sedangkan sistem adalah proses yang mengantar ke hasil tersebut. Clear mengingatkan agar kita fokus membangun sistem, bukan terobsesi pada tujuan.

Logikanya sederhana: para pemenang dan pecundang punya tujuan yang sama. Setiap atlet Olimpiade ingin medali emas, setiap orang ingin sukses, tetapi tujuan saja tidak cukup. Sistemlah yang menentukan siapa yang sampai ke garis finis.

Baca Juga:Sepuluh Ribu Sehari, Jalan Pelan Menuju Tabungan yang Terasa

Empat Cara Jitu Membangun Kebiasaan

Pertama, bikin jelas. Setiap tindakan dipicu rangsangan tertentu. Ingin rajin main gitar? Jangan simpan gitar di lemari, taruh di tengah ruangan agar selalu terlihat. Ingin lebih sering olahraga? Siapkan baju dan sepatu sejak malam sebelumnya, lalu buat komitmen konkret di kalender, misalnya Senin, Rabu, dan Jumat berangkat ke gym sepulang kantor.

Kedua, bikin menarik. Otak melepaskan dopamin saat mengantisipasi hal menyenangkan, dan itu bisa dimanfaatkan lewat temptation bundling: gabungkan hal yang wajib dilakukan dengan hal yang disukai. Contohnya, hanya boleh menonton serial favorit saat lari di treadmill.

Ketiga, bikin mudah. Manusia termotivasi melakukan hal yang mudah. Ingin berhenti nonton TV sepulang kerja? Cabut kabel TV-nya, rasa malas menyalakannya kembali justru jadi sekutu. Ubah juga cara berpikirnya: bukan "belajar 30 menit untuk ujian", melainkan "buka buku catatan". Bukan "yoga 30 menit", melainkan "gelar matras yoga".

Keempat, bikin memuaskan. Kebiasaan bertahan lama kalau ada kepuasan langsung. Produsen pasta gigi mendongkrak penjualan setelah menambahkan rasa mint, sensasi segar itu membuat orang menikmati aktivitas menyikat gigi. Contoh lain: pasangan yang ingin berhenti makan di luar membuat rekening khusus liburan dan mentransfer uang yang berhasil dihemat ke sana setiap kali godaan berhasil ditahan.

Lacak Kemajuanmu

Pelajaran ketiga: kebiasaan sulit dipertahankan kalau hasilnya tidak terlihat. Solusinya adalah pelacakan visual, misalnya mencoret kalender atau buku harian setiap kali kebiasaan berhasil dilakukan. Melihat deretan centang itu sendiri menjadi proses yang seru, bahkan menimbulkan antisipasi untuk segera mencoret lagi.

Selain itu, libatkan accountability buddy atau buat kontrak dengan konsekuensi nyata. Buku ini mengisahkan seorang pengusaha yang menandatangani kontrak dengan istri dan pelatih pribadinya: gagal melacak asupan makanan berarti denda 100 dolar AS untuk pelatih, gagal menimbang badan berarti 500 dolar AS untuk istri. Kontrak itu berhasil, bukan semata karena takut kehilangan uang, melainkan karena ia tak mau mengecewakan orang-orang yang mengawasinya.

Catatan pentingnya: setiap tips tetap perlu kurasi personal. Sesuaikan dengan kecenderungan dan kepribadian masing-masing agar benar-benar berhasil.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua