TeknologiArtikel

Bos Meta Desak Aturan AI Open-Source Dilonggarkan

Redaksi Intarta

Oleh

Bos Meta Desak Aturan AI Open-Source Dilonggarkan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Bos Meta, Mark Zuckerberg, kembali angkat suara soal masa depan kecerdasan buatan. Ia meminta pemerintah Amerika Serikat mengurangi beban regulasi bagi pengembangan AI open-source, dengan alasan perusahaan teknologi dalam negeri bisa kalah cepat dari para pesaingnya di luar negeri bila aturan terlalu ketat.

Seruan itu muncul bersamaan dengan peluncuran Muse Glimmer, model AI open-weight terbaru Meta. Berbeda dengan model raksasa yang selama ini jadi sorotan, Muse Glimmer dibuat ringkas sehingga cukup dijalankan dengan satu kartu grafis di laptop atau PC biasa, tanpa perlu server cloud. Sasarannya adalah pengguna yang ingin menjalankan tugas otomatis secara lokal.

Baca Juga:Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Menolak AI Dikuasai Segelintir Perusahaan

Dalam esai berjudul The Future is for Everyone, Zuckerberg menolak gagasan bahwa AI harus dikuasai segelintir perusahaan besar demi alasan keamanan. Menurutnya, cara pikir seperti itu justru bermasalah dan menghambat perkembangan yang merata.

Argumen ini sejalan dengan arah industri yang belakangan makin melirik model open-weight. Ada dua pendorong utama: biaya langganan model tertutup yang terus membengkak, serta kekhawatiran soal insiden keamanan siber yang pernah menyeret nama-nama besar. Model open-weight menawarkan biaya operasional lebih murah dan keleluasaan memodifikasi kode sumber, sesuatu yang mustahil dilakukan pada model tertutup.

Baca Juga:Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah

Persaingan yang Kian Ketat

Ironisnya, di ranah AI open-weight ini, startup-startup dari Tiongkok yang sedang memimpin. Kimi K3 dari Moonshot, Qwen3.8-Max dari Alibaba, dan V4-Flash dari DeepSeek disebut mampu menyaingi performa model-model papan atas Amerika, sementara pemain besar Amerika masih setia dengan skema tertutup yang biayanya jauh lebih mahal.

Pasar tampaknya menangkap sinyal positif dari langkah Meta ini. Saham META sempat naik hampir 3 persen dalam perdagangan pra-pasar, meski secara tahun berjalan performanya masih tertekan sekitar 10 persen.

Zuckerberg juga mengumumkan dana hibah US$1 miliar, sekitar Rp17 triliun, untuk komunitas di sekitar lokasi pusat data milik Meta. Langkah ini bukan tanpa alasan, sebab pembangunan pusat data raksasa belakangan kerap memicu penolakan warga sekitar dan menjelma jadi isu politik. Ia juga mendesak agar aturan soal penggunaan data dan teknik distillation, cara melatih model kecil memakai keluaran model yang lebih besar agar lebih hemat komputasi, dirombak karena aturan yang terlalu ketat justru membuka celah bagi laboratorium AI di luar negeri untuk melaju lebih kencang.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua