PendidikanArtikel

Evolusi Manusia Ternyata Tak Lurus, Fosil Ungkap Lebih Banyak Jeda

Redaksi Intarta

Oleh

Evolusi Manusia Ternyata Tak Lurus, Fosil Ungkap Lebih Banyak Jeda
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Selama ini banyak orang membayangkan evolusi manusia sebagai garis lurus: otak yang terus membesar, wajah yang terus mengecil, tahap demi tahap menuju bentuk manusia modern. Gambaran itu kini digugat oleh studi baru yang menganalisis 87 fosil tengkorak dari berbagai spesies genus Homo, dari Homo habilis, Homo erectus, Neanderthal, hingga Homo sapiens, yang berasal dari rentang sekitar dua juta tahun terakhir.

Penelitian ini dipimpin Mark Hubbe dari University of Tennessee-Knoxville bersama Katerina Harvati dari Senckenberg Centre for Human Evolution and Palaeoenvironment, University of Tübingen, dan terbit di jurnal Nature Communications.

Baca Juga:Lebih dari Satu Juta Tenaga Kerja Diberdayakan lewat Program Makan Bergizi Gratis

Enam Skenario Evolusi yang Diadu

Para peneliti menguji enam model berbeda untuk menjelaskan perubahan ukuran otak dan bentuk wajah manusia purba dari waktu ke waktu, mulai dari seleksi alam yang terus mendorong ke arah tertentu, perubahan acak atau netral, seleksi stabilisasi, hingga model punctuated equilibrium, yakni periode panjang tanpa banyak perubahan yang sesekali diselingi lonjakan perubahan cepat.

Hasilnya cukup mengoreksi pemahaman yang selama ini banyak diajarkan. Skenario seleksi alam yang konsisten mendorong manusia menuju otak lebih besar dan wajah lebih kecil justru mendapat dukungan data paling lemah. Kombinasi antara perubahan acak, keterbatasan biologis, dan periode panjang tanpa perubahan berarti, yang disebut stasis evolusi, terbukti jauh lebih mampu menjelaskan pola pada fosil.

Baca Juga:Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Budaya sebagai Peredam Kejut Evolusi

Jika bukan tekanan seleksi yang terus-menerus, apa yang memicu perubahan besar sesekali terjadi? Peneliti menduga jawabannya ada pada budaya dan teknologi. Kemampuan membuat alat, mengolah makanan, bekerja sama dalam kelompok, hingga memanfaatkan sumber daya baru diyakini ikut meredam tekanan bagi tubuh manusia purba untuk terus beradaptasi secara fisik, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan energi besar untuk menopang otak yang lebih besar.

Studi ini bersifat analisis statistik terhadap fosil yang sudah ditemukan sebelumnya, bukan hasil ekskavasi atau penemuan fosil baru. Kesimpulannya sangat bergantung pada seberapa representatif 87 sampel tersebut terhadap populasi manusia purba yang sesungguhnya, sementara catatan fosil hominin secara keseluruhan masih jauh dari lengkap. Interpretasi ini kemungkinan akan terus diuji seiring ditemukannya fosil-fosil baru di masa depan.

Temuan ini mengubah cara pandang terhadap asal-usul manusia modern. Manusia purba bukan sekadar tahapan yang perlahan bergerak menuju bentuk manusia saat ini, seolah ada arah yang sudah ditentukan sejak awal. Pertanyaan yang kini lebih relevan bukan lagi ke mana arah evolusi manusia, melainkan pada momen apa evolusi itu sempat berhenti, dan apa yang membuatnya bergerak lagi.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua