RagamArtikel

Filosofi Sepasang Sepatu Tua tentang Pernikahan yang Langgeng

Redaksi Intarta

Oleh

Filosofi Sepasang Sepatu Tua tentang Pernikahan yang Langgeng
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Di sudut rak paling bawah di dalam rumah, sering tersimpan benda sederhana yang menyimpan pelajaran hidup mendalam: sepasang sepatu tua. Tanpa perlu teori rumit, sepatu yang telah melewati ribuan langkah bersama mengajarkan esensi cinta, komitmen, dan kebersamaan yang kerap luput dipahami manusia modern.

Perbedaan yang Saling Menggenapi

Baca Juga:Menabung Berdua Tanpa Drama: Cara Kompak Mengatur Uang dan Membangun Masa Depan

Jika diperhatikan dengan saksama, sepatu kanan dan kiri dibentuk dari cetakan yang berbeda. Lekukan solnya menyesuaikan tumpuan kaki yang tidak pernah sama persis, dan keduanya dirancang berbeda untuk tujuan yang sama. Jika dipaksakan bertukar posisi, yang terjadi bukanlah kenyamanan, melainkan rasa sakit dan luka di kaki. Hal ini menjadi refleksi penting dalam hubungan: hubungan yang sehat tidak lahir dari upaya memaksa pasangan menjadi persis seperti diri kita. Menuntut pasangan kehilangan identitasnya demi menyenangkan kita hanya akan menciptakan luka batin yang terpendam. Keserasian sejati adalah tentang bagaimana dua pribadi yang berbeda bisa membuat sebuah perjalanan terasa utuh.

Ritme Melangkah: Bergantian, Bukan Bersisian

Sepasang sepatu tidak pernah melangkah secara bersamaan. Ketika kaki kanan maju ke depan, kaki kiri menahan beban di belakang, begitu pula sebaliknya. Jika kedua kaki dipaksakan melangkah serentak, manusia justru akan terjatuh. Pola ini mengajarkan pentingnya ritme bergantian dalam kehidupan pernikahan. Ada kalanya salah satu pihak harus melangkah lebih jauh untuk memimpin atau menyelesaikan urusan, sementara pihak lainnya menjaga stabilitas di belakang. Komitmen ini berjalan secara alami tanpa perlu dihitung untung-ruginya setiap hari, karena kedua belah pihak memahami bahwa mereka berada dalam satu perjalanan yang sama.

Baca Juga:Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Makna Libas dan Rahmah

Dalam nilai-nilai spiritual, hubungan suami istri digambarkan dengan sangat indah. Salah satunya tercermin dalam Surah Al-Baqarah ayat 187, yang menggunakan istilah libas atau pakaian untuk menggambarkan pasangan hidup. Pakaian berfungsi menutup kekurangan, menghangatkan saat dingin, memperindah penampilan, dan menjadi hal yang paling dekat dengan tubuh. Sepatu, sebagai bagian dari pakaian, menggenapi metafora ini dengan cara yang lebih bersahaja: ia berada di posisi paling bawah, melindungi kaki dari kerikil tajam dan lumpur jalanan, dan sering kali keberadaannya baru disadari ketika ia rusak atau salah satunya hilang. Selain itu, hubungan yang matang juga mengalami transisi rasa. Surah Ar-Rum ayat 21 menyebutkan konsep mawaddah dan rahmah. Jika mawaddah adalah cinta yang menggebu-gebu saat segalanya masih baru dan indah, maka rahmah adalah kasih sayang mendalam yang tumbuh ketika usia mulai menua, fisik mulai berubah, dan perjalanan terasa semakin berat. Layaknya sepatu baru yang berkilau, ia memiliki daya tarik visual, namun sepatu lama yang telah menyesuaikan bentuk kaki memiliki kenyamanan yang tidak bisa digantikan.

Menemukan Sakinah di Jalan yang Panjang

Dunia modern sering menawarkan ilusi tentang pasangan yang sempurna tanpa cela. Akibatnya, ketika menghadapi ketidaksempurnaan pasangan, banyak orang mudah merasa telah salah memilih jalan. Padahal, kenyamanan sejati tidak ditemukan secara instan di etalase toko. Rasa nyaman itu dibentuk bersama melalui jalanan panjang yang berliku, di bawah guyuran hujan yang tak terduga, dan di atas aspal yang panas. Dari sanalah lahir sakinah, sebuah ketenangan jiwa yang mengendap perlahan dan menetap selamanya. Pada akhirnya, komitmen untuk terus bersama hingga tua bukanlah karena tidak ada pilihan lain yang lebih menarik di luar sana. Kebersamaan itu bertahan karena kedua pihak memahami bahwa tidak semua hal yang berkilau mampu menahan beratnya beban perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua