TeknologiArtikel

Kenapa Port Ethernet Menghilang dari Laptop Tipis Zaman Sekarang?

Redaksi Intarta

Oleh

Kenapa Port Ethernet Menghilang dari Laptop Tipis Zaman Sekarang?
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Dulu, menyambungkan laptop ke internet kabel semudah mencolokkan kabel LAN ke lubang persegi panjang di sisi bodi, tanpa memilih nama WiFi, memasukkan kata sandi, atau khawatir koneksi putus-nyambung di tengah unduhan. Kini semakin banyak laptop tipis yang justru tidak lagi dibekali port tersebut. Bahkan port USB-A yang dulu ada di mana-mana mulai jarang ditemukan, apalagi port Ethernet yang ukurannya lebih besar.

Ukuran yang Tak Bisa Diet

Baca Juga:Kronologi Peretasan Terbesar: Dana Rp114 Triliun Raib dalam Sekejap

Penyebab utamanya sederhana: ukuran. Port Ethernet lengkap dengan rumah konektornya bisa memakan ruang lebih dari 13 milimeter di sisi bodi laptop. Sementara kebanyakan laptop tipis masa kini punya ketebalan sekitar 11 hingga 16 milimeter, itu pun diukur di bagian paling tebal, karena banyak model didesain menyempit ke arah depan sehingga tepinya jauh lebih tipis lagi.

Berbeda dari port USB yang berevolusi dari USB-A ke USB-C yang jauh lebih ramping, port Ethernet terjebak pada satu bentuk konektor bernama RJ45 yang ukurannya tak berubah selama puluhan tahun. Alasannya, bila ukuran port ini diperkecil, jutaan kabel LAN dan router yang sudah beredar otomatis tak lagi cocok dipakai. Ketika produsen berlomba membuat bodi setipis mungkin, port yang tak bisa mengecil ini biasanya jadi komponen pertama yang dikorbankan.

MacBook Air dan Engsel Lipat Windows

Baca Juga:Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan

Tren laptop ultra tipis banyak dikaitkan dengan kemunculan MacBook Air. Untuk memamerkan betapa tipisnya laptop itu, Steve Jobs bahkan menariknya keluar dari amplop cokelat biasa di atas panggung pada Januari 2008. Menariknya, ketebalan MacBook Air generasi pertama masih 19 milimeter di bagian paling tebal, artinya secara teknis Apple sebenarnya masih punya cukup ruang untuk menyelipkan port Ethernet bila mau, tetapi port itu termasuk fitur yang dipangkas sejak awal sesuai gaya desain minimalis perusahaan.

Berbeda dari Apple, banyak produsen laptop Windows awalnya enggan langsung melepas port Ethernet karena fungsinya masih dianggap penting. Sejumlah laptop tipis sempat dibuat dengan jack Ethernet berengsel yang bisa membuka seperti jembatan kecil saat kabel dicolokkan. Namun desain ini akhirnya ditinggalkan karena dianggap kurang rapi secara tampilan dan bagian engselnya rawan patah setelah dipakai berkali-kali.

Selain soal desain, menghilangkan port Ethernet juga jadi cara produsen memangkas biaya produksi, dan laptop yang lebih murah biasanya lebih dulu kehilangan port ini. Namun alasan terbesarnya kemungkinan adalah semakin andalnya jaringan WiFi: kecepatannya kini sudah cukup untuk kebutuhan kebanyakan orang sehari-hari, sehingga port kabel mulai dianggap beban yang tak perlu.

Kapan Kabel Masih Lebih Unggul?

Meski WiFi sudah cukup andal untuk kebanyakan aktivitas, koneksi kabel tetap punya keunggulan untuk kebutuhan tertentu, misalnya bermain gim daring yang menuntut latensi serendah mungkin, yaitu jeda antara perintah yang ditekan pemain dan respons yang muncul di layar, yang bisa memengaruhi lag dalam permainan. Karena itu sebagian orang tetap ingin punya opsi koneksi kabel di laptop mereka, meski laptopnya sendiri sudah tak dilengkapi port bawaan.

Adaptor, Hub, hingga Docking Station

Solusi paling sederhana adalah adaptor USB-to-Ethernet, dongle kecil yang dicolokkan ke port USB-A atau USB-C dengan ujung satunya berupa jack RJ45 untuk kabel LAN. Harganya cukup terjangkau, mulai sekitar 30 dolar atau kira-kira Rp490 ribuan dengan kurs saat ini, dan cara pakainya tinggal colok tanpa instalasi rumit. Kebanyakan adaptor semacam ini sudah mendukung kecepatan gigabit penuh sehingga tak mengorbankan kecepatan dibanding port bawaan.

Bagi yang ingin lebih dari sekadar Ethernet, USB-C hub bisa jadi pilihan karena biasanya sekaligus menambah slot USB tambahan dan output HDMI untuk monitor eksternal lewat satu sambungan kabel. Sementara untuk pengguna yang lebih sering bekerja di satu meja tetap, docking station adalah solusi yang lebih menyeluruh: cukup satu kabel USB-C atau Thunderbolt, dan laptop langsung terhubung ke jaringan kabel, monitor tambahan, sekaligus pengisian daya.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua