Iklan
EkonomiArtikel

Ketika Menaikkan Harga Terasa Bersalah

Redaksi

Oleh

Ketika Menaikkan Harga Terasa Bersalah
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi)

Reading Comfort

INTARTA.com - Menaikkan harga kaus kaki saja bisa memicu kegaduhan nasional. Itulah yang dialami Uniqlo ketika memutuskan menaikkan harga kaus kaki dasarnya bulan lalu: protes bermunculan hingga raksasa fesyen yang dijuluki simbol keterjangkauan itu buru-buru membatalkan keputusan tersebut.

Kegamangan yang sama dialami jaringan restoran keluarga Saizeriya. Ketika restoran itu menaikkan harga hidangan andalannya, Milanese Doria, sebesar 20 yen atau sekitar 0,13 dolar AS, perusahaan sampai mengeluarkan pernyataan permintaan maaf dan menyesali "kurangnya usaha" mereka. Presiden perusahaan bahkan berjanji dalam konferensi pers akan "mencari alasan apa pun untuk menurunkan harga lagi", sebuah pernyataan yang membuat warganet tercengang.

Baca Juga:Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Harga Naik, Permintaan Maaf Menyusul

Padahal kenaikan harga itu bukan tanpa alasan. Biaya bahan baku dan tenaga kerja terus membengkak, sementara Saizeriya menaikkan harga hampir semua menu, bukan hanya Doria. Namun ada satu hal yang dipertahankan: segelas anggur yang dijual seharga 100 yen tetap tidak berubah, karena perusahaan ingin minuman itu "tetap bisa dinikmati dengan santai".

Dilema ini tidak hanya menimpa perusahaan besar. Sachi, 68 tahun, pemilik warung ramen di wilayah Okayama, sudah lama menahan diri menaikkan harga meski biayanya terus naik.

Baca Juga:Laba Dua Raksasa Dagang Melonjak, Proyeksi Keuntungan Direvisi ke Rekor Tertinggi
"Ketika saya membayangkan tiba-tiba mengumumkan kenaikan 200 yen, saya tidak bisa tidak merasa bersalah dan kasihan pada pelanggan yang sudah mendukung kami bertahun-tahun. Jadi pikiran saya, lebih baik saya yang bertahan sendiri. Saya rasa banyak usaha kecil seperti itu, terutama di daerah."

Kegamangan semacam itu berakar pada sejarah panjang. Bank of Japan bulan lalu menyatakan target inflasi 2 persen telah tercapai, setelah 13 tahun kebijakan moneter super longgar. Langkah-langkah yang diperkenalkan pada 2013 oleh perdana menteri saat itu, Shinzo Abe, dan dilanjutkan pemerintah-pemerintah berikutnya, dimaksudkan mengakhiri spiral deflasi yang melanda Jepang sejak pertengahan 1990-an.

Namun inflasi baru benar-benar kembali menyala pada 2022, ketika perang di Ukraina memicu guncangan energi global. Perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran kemudian membuat Teheran menutup Selat Hormuz yang strategis, memangkas ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan mengguncang rantai pasok global, sehingga biaya perusahaan melonjak.

Tiga Dekade Deflasi Membentuk Mental Konsumen

Di sebagian besar negara, perusahaan bisa menaikkan harga mengikuti biaya, walau menuai kemarahan. Di Jepang, kenaikan harga harus berhadapan dengan pandangan yang mengakar bahwa menaikkan harga adalah hal yang tabu. Kenaikan yang drastis bisa menjadi risiko besar bagi usaha kecil di daerah, yang kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada pelanggan setia.

Tekanan itu terasa langsung di dompet rumah tangga. Tagihan belanja yang melonjak membuat keluarga punya ruang lebih sedikit untuk berbelanja kebutuhan lain, dari makan di luar sampai pakaian, sementara usaha-usaha itu sendiri bergulat dengan biaya tenaga kerja dan bahan yang juga naik.

Ironisnya, statistik kementerian tenaga kerja menunjukkan upah riil di Jepang naik dari tahun ke tahun selama delapan bulan berturut-turut. Namun kenaikan itu belum merata. Kazuhiko Sato, pekerja kantoran di Tokyo, mengaku makin bergantung pada barang impor karena harga produk dalam negeri kian mahal.

"Harga makanan makin tidak masuk akal, jadi saya makin mengandalkan barang impor dari luar negeri, karena produk dalam negeri harganya lebih mahal," kata Sato.
Tsutomu Watanabe, profesor di sekolah pascasarjana ekonomi Universitas Tokyo, menilai kenaikan gaji "masih jauh dari cukup dan tidak dinikmati semua orang". Menurutnya, dibutuhkan "tiga sampai empat tahun lagi" sebelum konsumen mengubah pola pikir dan menerima inflasi kronis sebagai hasil alami dari kenaikan upah yang besar.

"Setelah 30 tahun deflasi, beralih ke rezim yang berbeda mau tidak mau butuh waktu," kata Watanabe, yang menyebut Jepang pada dasarnya masih "pasien yang sedang pulih dari deflasi selama puluhan tahun". Ia menambahkan, kemampuan perusahaan menentukan harga "masih sangat ditentukan oleh konsumen".

Situasi makin pelik karena Bank of Japan kini justru menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, dengan biaya pinjaman berada di level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun dan kemungkinan naik lagi.

Cermin untuk Pedagang Kecil di Indonesia

Kisah dari Jepang ini punya gema yang akrab di Indonesia. Pemilik warung makan, penjual gorengan, sampai pelaku UMKM di pasar-pasar tradisional juga kerap menahan harga meski harga cabai, minyak goreng, dan gas naik — karena takut pelanggan setia pindah ke lapak sebelah. Bedanya, konsumen Indonesia sudah terbiasa hidup dengan inflasi tahunan, sehingga kenaikan harga yang wajar lebih mudah diterima selama dijelaskan dengan jujur dan bertahap.

Yang bisa dipetik adalah cara menaikkan harga tanpa kehilangan kepercayaan: naik sedikit demi sedikit, jelaskan alasannya secara terbuka, dan jaga satu-dua menu andalan tetap terjangkau seperti yang dilakukan Saizeriya dengan anggurnya. Pedagang yang menaikkan harga diam-diam atau sekaligus besar justru berisiko kehilangan pelanggan yang sudah bertahun-tahun setia.

Di sisi lain, pengalaman Jepang mengingatkan bahwa kenaikan upah saja belum cukup bila tidak merata. Upah yang naik di sektor formal besar belum tentu dirasakan pekerja informal dan usaha kecil, padahal merekalah yang pertama merasakan kenaikan harga bahan pokok. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan kenaikan upah benar-benar sampai ke lapisan bawah, bukan hanya tercatat di statistik.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…