Kunjungan Perdana ke Turki, Carney Sepakat Dongkrak Dagang hingga 10 Miliar Dolar
Oleh Redaksi Intarta
Jumat, 23 Okt 2026 11:32 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Dalam pertemuan itu, kedua pemimpin mengumumkan peningkatan hubungan kedua negara menjadi "kemitraan strategis" yang mencakup perdagangan, energi, pertahanan, dan hubungan antarwarga. Carney menyebut kemitraan baru ini akan menciptakan peluang baru bagi pekerja dan pelaku usaha kedua negara.
"Kami telah menanam benih sesuatu yang baru: kemitraan strategis yang akan menciptakan peluang baru bagi pekerja dan bisnis kami, serta keamanan dan kemakmuran yang lebih besar bagi kedua bangsa. Dengan kepedulian dan komitmen, ia akan tumbuh untuk generasi-generasi mendatang," kata Carney dalam pernyataan bersama Erdogan.
Era Baru dan Target Dagang 10 Miliar Dolar
"Kami berharap meningkatkan volume perdagangan, yang saat ini sekitar 3 miliar dolar AS, menjadi 5 miliar dolar dan kemudian 10 miliar dolar. Kami akan kurang-lebih menggandakan penerbangan langsung antara kedua negara," ujar Erdogan.
Kedua negara yang sama-sama anggota aliansi NATO itu juga sepakat memperdalam kerja sama pertahanan selama kunjungan tersebut.
Diversifikasi Dagang dan Catatan HAM
Kunjungan ini menjadi bagian dari strategi Carney mendiversifikasi hubungan dagang Kanada ke luar Amerika Serikat, yang selama ini menyerap hampir 70 persen ekspor Kanada. Sejak kembali menjabat pada 2025, Presiden AS Donald Trump melancarkan perang dagang dan mengenakan tarif terhadap banyak barang Kanada. Carney dijadwalkan bertemu para pemimpin bisnis Turki di Istanbul pada Jumat.
Di sisi lain, organisasi pemantau Amnesty International mengingatkan agar Ottawa tidak mengesampingkan isu hak asasi manusia. Ruhat Sena Aksenir, direktur Amnesty untuk Turki, menegaskan: Kanada tidak boleh memperlakukan HAM sebagai hal sekunder dalam perundingan.
"Kemitraan yang berkelanjutan bergantung pada akuntabilitas dan penghormatan terhadap supremasi hukum," ujar Aksenir.
Partai AKP yang dipimpin Erdogan telah berkuasa di Turki sejak 2002. Organisasi Freedom House mengategorikan Turki sebagai negara "tidak bebas", sementara Reporters Without Borders menempatkan Turki di peringkat 163 dari 180 dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Warga Alberta Tolak Referendum Kemerdekaan, Pilih Tetap di Kanada

Jelang Pemilu Sela, Amerika Serikat Tuding Kanada Coba Campuri Hasilnya

NATO Tambah Armada Pengintai di Laut Hitam usai Serangan Rusia Makin Brutal

Washington-Tel Aviv Kabarnya Matangkan Serangan ke Iran Usai Pemilu AS

Ribuan Pekerja Korea Utara Diperlakukan Seperti Budak di Pabrik Drone Rusia, Ungkap Laporan Baru

Zelenskyy Bertemu Utusan Trump di Oslo, Buka Jalan Perdamaian Ukraina
Berita Terkini
Lihat Semua
IUCN Peringatkan: 96 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Runtuh pada 2075

Ribuan Warga Polandia Turun ke Jalan Tuntut Pelonggaran Aturan Aborsi

Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, 16 Tewas dan 12.000 Dievakuasi

AI Microsoft Bisa Mendiagnosis Bertahap seperti Dokter, Akurasi Dua Kali Lipat

