HiburanBerita

Raffi Ahmad Diserukan Boikot, Sang Ibu Berpesan Jaga Kejernihan Akal

Redaksi Intarta

Oleh

Raffi Ahmad Diserukan Boikot, Sang Ibu Berpesan Jaga Kejernihan Akal
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

JAKARTA - Nama Raffi Ahmad tengah menjadi sorotan setelah kehadirannya dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Kamis (29/10/2026) menuai kritik dari masyarakat. Akibat aksi tersebut, kini netizen ramai menyerukan aksi cancel culture pada Raffi Ahmad. Bahkan acara yang digagas RANS Entertainment di Sleman, DIY pun turut terdampak.

Di tengah ramainya seruan cancel culture terhadap sang presenter, ibundanya, Amy Qanita, mengunggah pesan tentang menjaga kejernihan pikiran dan kelembutan hati. Melalui Instagram Story pada Sabtu (30/10/2026), Amy membagikan tulisan yang mengajak seseorang untuk tetap berpikir kritis tanpa kehilangan rasa kasih sayang.

Baca Juga:Klarifikasi Terbuka Usai Kegaduhan Acara Kepemudaan, Permintaan Maaf Disampaikan

Pesan Sang Ibu di Tengah Sorotan

“Jagalah 2 hal ini dalam hidup: 1. Kejernihan akal 2. Kelembutan hati,” demikian tulisan yang dibagikan Amy.

Meski tidak secara langsung menyebut nama Raffi Ahmad, unggahan itu muncul ketika putranya tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pesan singkat itu pun dibaca banyak warganet sebagai respons tenang di tengah gelombang kritik yang sedang deras.

Baca Juga:Peringati 98 Tahun Sumpah Pemuda, DPR: Kritik Asap Lintas Batas Dijawab dengan Kerja Nyata

Cancel Culture dan Ruang untuk Berpikir Jernih

Fenomena cancel culture memang kerap bergerak cepat: satu momen yang viral bisa berubah menjadi seruan boikot massal dalam hitungan jam, dan dampaknya tidak hanya dirasakan sosok yang disorot, tetapi juga acara, mitra kerja, dan tim di belakangnya. Di sisi lain, kritik publik juga merupakan bagian dari ruang demokrasi digital, tempat warga menyampaikan keberatan atas sikap figur publik.

Bagi pembaca di Indonesia, pesan Amy Qanita relevan justru karena ia tidak membalas keramaian dengan keramaian. Kejernihan akal mengajak publik memilah fakta dari kabar yang dibesar-besarkan, sementara kelembutan hati mengingatkan bahwa kritik tetap bisa disampaikan tanpa ujaran kebencian. Dua hal itu bisa berjalan bersama: publik tetap boleh mengkritik, dan figur publik tetap perlu mendengarkan.

Langkah berikutnya yang patut dicermati adalah bagaimana Raffi Ahmad dan pihak terkait merespons sorotan ini, serta apakah acara-acara yang terdampak akan tetap berjalan, dijadwalkan ulang, atau disesuaikan. Yang jelas, perbincangan ini belum selesai, dan sikap semua pihak — baik yang mengkritik maupun yang dikritik — akan ikut menentukan apakah polemik ini mereda atau justru membesar.

Sumber: SINDOnews

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua