Tiga Prinsip Mengelola Uang yang Membedakan Kaya dan Miskin
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Pelajaran ini diambil dari pengalaman malang melintang di berbagai industri, sawit, klub malam, perbankan, serta dari obrolan dengan banyak konglomerat, termasuk jajaran orang terkaya di negeri ini. Ada tiga hal yang sangat membedakan prinsip mengelola uang orang kaya dan orang miskin. Orang kaya percaya bahwa kemiskinan itu adalah mindset dan pola pikir. Memang ada kemiskinan struktural yang sulit diatasi, tetapi bukan berarti tidak bisa berbuat sesuatu untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Dengan ilmu dan mindset yang matang, hidup pasti bisa sedikit lebih baik dari kondisi sekarang. Jadi kaya memang game yang sangat-sangat sulit, tetapi dengan fokus dan disiplin, dalam 20 tahun hidup pasti berubah menjadi lebih baik.
Pertama: Fokus Investasi, Bukan Konsumsi
Ini perbedaan paling fundamental. Fokus tujuan hidup dari uangnya sudah berbeda. Orang miskin: kerja, dapat gaji, bayar cicilan, bayar tagihan, sisanya untuk konsumsi. Begitu gaji Rp5 juta datang, bayar tagihan sana-sini, sisa Rp400.000 dipakai nonton bioskop dan pacaran, atau sisa Rp500.000 dipakai beli kaos dan sepatu. Orang miskin menganggap uang sebagai hal yang harus dikeluarkan secara cepat: gaji langsung hilang, tidak pernah merasakan uang ada di tangan.
Mereka juga skeptis dengan kata investasi, karena banyak yang pernah tertipu investasi bodong. Ditawari robot trading yang katanya bisa 10 persen sebulan, mereka percaya karena terlihat mudah dan tidak perlu kerja. Tetapi disuruh mempelajari cara perusahaan bekerja, cara baca laporan keuangan dan rasio keuangan, jawabannya aduh susah, ribet, pusing, enggak mau. Uangnya hilang ditipu robot, lalu mereka menganggap semua investasi adalah penipuan: Bitcoin dibilang scam, properti dibilang scam.
Orang kaya melihat uang sebagai benih yang bisa tumbuh. Setiap rupiah yang dihasilkan sejak kecil dianggap benih yang bisa tumbuh menjadi pohon besar di masa depan: uang yang menghasilkan uang lagi, bukan uang yang dihabiskan untuk beli sepatu. Mereka fokus pada pertumbuhan aset, bukan barang yang dimiliki.
Baca Juga:Pensiun di Usia 50: Ini Hitungan Nyata Dana yang Harus DisiapkanContohnya: orang miskin dapat gaji, sisa Rp400.000 sampai Rp500.000, lalu berpikir, bisa enggak ya nyicil ponsel bekas biar bisa gaya foto di depan kaca atau pamer ke rekan kantor? Orang dengan mindset kaya berpikir berbeda: dari Rp500.000 ini, bisakah saya punya kepemilikan dari perusahaan ponselnya, beli sahamnya? Kenapa harus beli ponsel bekas, kenapa tidak punya kepemilikan kecil dari perusahaannya?
Orang kaya tahan godaan dan bisa menunda kesenangan: bangun aset dulu, gaya hidup nanti ketika sudah cukup. Seorang pengusaha muda terinspirasi melihat dividen seorang investor legendaris dari perusahaan minuman bersoda lebih besar dibanding semua direksi yang bekerja seumur hidup. Mimpinya sejak SMP: punya 0,1 persen saham bank terbesar di negara ini, menghitung berapa puluh juta lembar sahamnya dan berapa dividen 2 sampai 3 persen yang dihasilkan. Dia tidak pernah bermimpi pamer ke orang.
Sebaliknya, orang miskin memakai uang sebagai pelarian dari tekanan hidup: self reward, belanja sepatu, tas, baju yang diimpikan, untuk dipamerkan ke teman yang sebenarnya tidak peduli dan malamnya sudah lupa dengan tas barunya. Semua pembelian itu efek dari pencarian validasi sosial dan gengsi. Padahal saat merintis, naik ojek daring, ojek harian, bahkan transportasi umum dengan uang ratusan juta di kantong pun tidak masalah kalau tidak punya gengsi.
Buktinya: dengan pendapatan Rp100 juta di usia sangat muda, spending-nya mungkin lebih kecil dari yang bergaji UMR, Rp97 sampai Rp98 juta ditanam di investasi: kepemilikan perusahaan hingga Bitcoin, aset-aset langka. Self reward baginya adalah konsep bayar diri sendiri: dari gaji Rp5 juta, sisihkan Rp500.000 atau Rp1 juta, bukan untuk belanja tidak penting atau cicilan ponsel untuk pamer, melainkan untuk kepemilikan perusahaan dan aset langka yang diinginkan banyak orang.
Orang kaya memang konsumtif, tetapi memakai hasil investasinya. Bibitnya ditanam, pohonnya rindang, buahnya diambil dan dimakan. Punya saham Rp2 miliar di perusahaan terbuka, dividen 3 persen dapat Rp60 miliar per tahun, Rp60 miliar itu dipakai beli mobil mewah. Orang miskin: asetnya cuma Rp2 miliar, Rp2 miliar itu dipakai beli mobil mewah, atau malah nyicil mobil mewah. Orang yang bilang mau beli mobil tertentu sebenarnya gampang, tapi lagi enggak pengin dulu, itu tanda belum punya pohonnya. Yang sudah punya pohon berbuah banyak, buahnya bisa dipetik untuk diri sendiri, keluarga, anak-anak, bahkan dibagikan untuk orang lain, dipakai bangun sekolah, misalnya.
Orang miskin juga terjebak gaya hidup yang terus meningkat: gaji naik dari 4 juta ke 6, 8, 10 juta, pengeluaran ikut jadi Rp10 juta, makan di restoran lebih mahal, lalu mulai nyicil mobil mewah saat gaji Rp50 juta. Sang pengusaha muda membeli mobil satu miliaran pertamanya justru saat asetnya sudah Rp2 miliar dan menghasilkan dari sana.
Kedua: Punya Rencana, Bukan Hidup Apa Adanya
Orang kaya selalu punya visi jangka panjang: hidupnya mau seperti apa, perusahaannya mau dibikin seperti apa, apakah perusahaan ini mau dijual atau tidak. Salah satu mentornya mengajarkan: anggap perusahaan seperti seniman membuat lukisan, tidak ada attachment di dalamnya, karena sejak awal sudah ada niat untuk menjual lukisan itu.
Orang kaya sudah tahu karirnya mau dibawa ke mana, bisnisnya mau dikembangkan seperti apa, dijadikan bisnis seumur hidup atau lukisan yang akan dijual, asetnya ditaruh di mana, di negara mana, diproteksi dan dipertahankan seperti apa.
Orang miskin hidup tanpa aturan dan tanpa rencana, bahkan rencana untuk bayar sekolah anak pun tidak ada, untuk makan nanti malam saja tidak ada rencana. Pikirannya sempit dan pendek: begitu ada kebutuhan mendadak, langsung kelabakan dan kewalahan, ujung-ujungnya berantem di keluarga karena tidak ada perencanaan.
Sang pengusaha mengenang masa miskinnya: usaha dagang minyak rambut dan sedotan dengan pembukuan akuntansi yang tidak jelas. Cuma berpikir dapat uang segini, harga pokok segini, ini bersih, tidak paham proyeksi omzet, working capital, cara hitung inventory. Alhasil bisnisnya bangkrut. Banyak bisnis bangkrut karena tidak mengerti akuntansi: profit yang salah dipakai belanja, bisnis tergerus pelan-pelan.
Orang kaya selalu punya tujuan jangka pendek (bagaimana meng-cover keadaan darurat), menengah (ekspansi ke mana, masih dalam koridor bisnis yang sama atau tidak), dan panjang, bagaimana harta ini bertahan 100 tahun, direncanakan sampai untuk anak-anaknya nanti. Orang miskin dapat gaji Rp5 juta langsung berpikir dipakai untuk kesenangan apa hari ini, chat ke grup teman berlima, oke kita main, uang habis di sana, tanpa pikiran untuk sekolah dan masa depan anak.
Konsep yang harus ditanam: dari setiap Rp4 juta yang didapat, minimal Rp200.000 ditabung, Rp500.000 lebih baik, Rp1 juta lebih baik. Jangan dipakai untuk hal aneh-aneh atau kesenangan sesaat. Orang miskin kebanyakan pasrah pada nasib dengan segudang alasan: saya miskin karena papa saya miskin, ada hutang. Sang pengusaha sendiri datang dari minus: ditempatkan di sekolah menengah ke atas tetapi harus bayar sekolah sendiri, bayarin kuliah dan sekolah adik-adiknya. Menurutnya tidak ada alasan, ini semua cuma perbedaan pikiran.
Ketiga: Haus Belajar, Bukan Sok Pintar
Ini perbedaan paling krusial dan fundamental. Sang pengusaha dan partnernya menghabiskan miliaran hanya untuk investasi ilmu, total kelas dan buku yang dibeli sudah miliaran. Temannya, seorang partner jaringan gerai hiburan dengan 2.000 outlet, hobinya ikut workshop dan seminar setiap bulan. Pernah dia bertanya sampai diketawakan orang karena pertanyaannya dianggap sederhana, tetapi dia tidak malu karena benar-benar ingin tahu dan haus ilmu.
Sang pengusaha sendiri pernah membeli kelas daring ratusan juta per tahun. Dia sudah tahu 99 persen materinya, bukan anak kemarin sore di market finansial, tetapi 1 persen materi baru yang dibayar Rp200 juta dari capital-nya sudah worth it. Bahkan konglomerat pun mau belajar dari yang muda-muda: partner-partnernya yang berumur 37 sampai 38 tahun masih mau bertanya kepadanya, karena satu-dua hal baru yang mereka dapat itu luar biasa nilainya.
Mereka rela bayar mahal untuk ilmu yang belum dikuasai. Contoh: punya brand e-commerce omzet Rp100 juta, ikut kelas Rp5 juta yang mengajarkan cara bikin bisnis lebih efisien, bulan depan omzet jadi Rp200 juta. Itu return 2X yang tidak akan ditemui di financial market.
Contoh lain: orang A punya Rp500 juta, beli kelas Rp10 juta (uangnya tinggal 490), akhirnya uangnya jadi Rp1 miliar karena belajar. Orang B juga punya Rp500 juta, tidak mau beli kelas Rp10 juta karena merasa paling pintar, investasi sendiri, uangnya hilang Rp250 juta dalam 3 bulan. Fenomena yang sangat disayangkan.
Seorang investor legendaris terkenal membaca 500 halaman setiap hari dan selalu bilang, investasi terpenting yang bisa dilakukan seorang manusia adalah investasi ilmu. Anehnya, di negeri ini orang yang mau upgrade diri, datang ke workshop, ikut komunitas, beli kelas daring, malah dikatain; yang bikin kelasnya pun dikatain. Padahal di banyak negara lain tidak ada cacian seperti itu. Universitas ternama pun menjual ilmu. Seorang investor kawakan punya kelas di platform kursus dan dapat royalti tiap orang menonton videonya. Bahkan investor legendaris itu adalah pembeli kelas: dia ikut kelas public speaking untuk belajar berbicara di depan umum, kemampuan yang membuatnya bisa memengaruhi banyak orang, dan dia bilang itu investasi terbaik seumur hidupnya. Rekan lamanya adalah pengikut setia penulis buku Influence.
Ingat: kemiskinan kadang bukan cuma soal rekening, tetapi ada di cara berpikir. Orang kaya lebih fokus beli ilmu; orang miskin sibuk beli sepatu untuk dipamerkan di tongkrongan dan mencemooh orang lain yang mau upgrade dirinya.
Kesimpulan
Tiga prinsipnya: pertama, orang kaya fokusnya investasi bukan konsumsi. Kedua, orang kaya punya perencanaan, orang miskin hidup ngasal apa adanya. Ketiga, orang kaya investasi di ilmu dan haus belajar, orang miskin sok pintar. Lakukan tiga ini secara konsisten di bidang masing-masing selama 20 tahun, dan hidup pasti berubah. Seperti pohon yang sudah rindang dan buahnya banyak, buahnya jangan dibagikan ke yang sudah punya pohon, tetapi ke sesama: yang punya panggilan di kesehatan, pendidikan, pangan, atau anak-anak yatim. Tanam bibitnya sekarang, agar menjadi pohon yang rindang di masa depan.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Pengen Kaya Saja Tidak Cukup: Lima Alasan Banyak Orang Gagal Meski Sudah Kerja Keras

Pensiun di Usia 50: Ini Hitungan Nyata Dana yang Harus Disiapkan

Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya Raya: Seni Mengelola Uang dengan Sadar

Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Bukan Dompetnya yang Bermasalah, Ini 5 Pola Pikir yang Membuat Keuangan Sulit Berubah

Sepuluh Kebiasaan yang Membuat Kekayaan Bertahan dari Generasi ke Generasi
Berita Terkini
Lihat Semua
Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang

Dilatih Sebulan Lalu Langsung Diterjunkan, Ini Modus Perekrutan Korban Perdagangan Orang







