Saham Teknologi Bangkit Setelah Kehilangan Triliunan Dolar
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
NEW YORK - INTARTA.com - Saham perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai bangkit setelah aksi jual besar-besaran yang menghapus triliunan dolar dari nilai pasar dalam sepekan terakhir. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi menutup perdagangan Jumat dengan kenaikan 1,1 persen, sebagian memulihkan kejatuhan 5,5 persen sehari sebelumnya.
Aksi jual itu bermula pada Kamis lalu sebelum merembet ke pasar Asia dan Eropa hingga Jumat. Investor melepas saham teknologi karena khawatir kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela akan memperlambat pengembangan AI, menyusul janji sejumlah kandidat Demokrat untuk memperketat aturan AI dan pusat data. Partai Demokrat kini menguasai kedua majelis Kongres serta sejumlah kontestasi kunci di negara bagian yang menjadi arena perlombaan pusat data AI.
Baca Juga:Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui PerkiraanSejumlah perusahaan yang kehilangan ratusan miliar dolar nilai pasarnya mulai pulih pada Jumat, termasuk Nvidia, SpaceX, dan Tesla. Indeks S&P 500 naik 0,3 persen, sementara Dow Jones berakhir turun tipis 0,4 persen.
Pasar Asia dan Eropa Masih Tertekan
Berbeda dengan pasar Amerika Serikat, bursa Asia dan Eropa justru melemah pada Jumat. Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 6 persen, dengan saham produsen chip SK Hynix terjun lebih dari 10 persen. Indeks utama di Jerman, Prancis, dan Spanyol juga ditutup melemah, sementara FTSE 100 di Inggris turun 1,01 persen.
Baca Juga:Raksasa AI Bersiap Melantai di Bursa di Tengah Gelombang Penolakan PublikPedagang di Inggris juga mencerna keputusan Bank of England menaikkan suku bunga serta sinyal kemungkinan kenaikan lanjutan untuk menahan laju harga.
Data Tenaga Kerja Jadi Penyeimbang
Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan ikut meredakan kekhawatiran pasar. Pemberi kerja menambah 165.000 lapangan kerja baru pada September, jauh di atas perkiraan analis, sementara tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen.
Presiden Donald Trump pada Jumat menegaskan dukungannya terhadap apa yang ia sebut "super intelligence", dan menyatakan hanya "kepemimpinan yang bodoh" yang akan menolak kekayaan yang dibawanya.
Investor Mulai Mempertanyakan Belanja AI
Di balik gejolak ini, muncul pertanyaan besar apakah belanja jumbo untuk infrastruktur AI akan terbayar. Pierre Baqué, kepala eksekutif platform AI Neural Concept, menyebut pergerakan saham ini sebagai "koreksi pasar yang diperlukan" dan menegaskan industri harus melampaui investasi infrastruktur tanpa kendali serta menunjukkan disiplin keuangan yang lebih besar.
Gejolak di pasar saham global ini juga terasa di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan kerap bergerak seirama dengan sentimen pasar Asia, dan saham-saham teknologi serta emiten yang terkait rantai pasok chip bisa ikut tertekan saat investor global menarik dana dari aset berisiko. Investor ritel yang memegang saham teknologi atau reksa dana berbasis indeks global perlu mencermati arah pasar pekan depan, karena volatilitas seperti ini bisa membuka peluang beli di harga murah sekaligus menambah risiko kerugian bila koreksi berlanjut. Kuncinya tetap pada fundamental perusahaan dan disiplin diversifikasi, bukan sekadar mengikuti euforia atau kepanikan pasar.
Sumber: BBC News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui Perkiraan

Raksasa AI Bersiap Melantai di Bursa di Tengah Gelombang Penolakan Publik

OpenAI Kini Bernilai 1,25 Triliun Dolar Usai Raih Dana Segar 11 Miliar Dolar

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Dari Barisan Depan ke Kursi Panas: Raksasa Teknologi Hadapi Era Pengawasan Ketat

Indeks Saham Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan di Awal Sesi
Berita Terkini
Lihat Semua
Raksasa AI Bersiap Melantai di Bursa di Tengah Gelombang Penolakan Publik

AI Kini Membangun AI: Laporan Baru Ungkap Percepatan yang Bikin Peneliti Cemas

Hasil Pemilu Terbelah Tipis, Perebutan Kursi Pemerintahan Masih Terbuka

Kejuaraan Hoki Es Dunia Terancam Batal, Tuan Rumah Upayakan Solusi Diplomasi


