Uji Coba Vaksin Hepatitis B pada Bayi di Guinea-Bissau Dihentikan Usai Tuai Kecaman Global
Oleh Redaksi Intarta
Kamis, 22 Okt 2026 09:53 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Sebuah rencana uji coba vaksin hepatitis B pada bayi baru lahir di Guinea-Bissau yang didukung Amerika Serikat resmi dihentikan setelah menuai kecaman keras dari para ilmuwan dan otoritas kesehatan dunia.
Peneliti utama studi tersebut, Frederik Schaltz-Buchholzer, mengumumkan keputusan itu pada Rabu (21/10/2026) melalui unggahan di akun LinkedIn miliknya. "Kini sudah jelas bahwa studi ini tidak akan dilanjutkan di Guinea-Bissau," tulis peneliti asal Denmark itu, seraya menambahkan bahwa timnya tidak memperoleh izin pemerintah yang diperlukan.
Bahkan sebelum pengumuman tersebut, Menteri Kesehatan Guinea-Bissau Quinhin Nantote sudah membantah kabar bahwa proyek itu akan berjalan. "Itu sama sekali tidak benar," kata Nantote kepada The Guardian pekan lalu.
Dana Jutaan Dolar dan Dugaan Tidak Etis
Studi tersebut direncanakan didanai US$1,6 juta dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) serta tambahan US$1,6 juta dari mitra swasta, termasuk Pershing Square Foundation yang didukung miliarder Bill Ackman dan Bluebell Foundation.
Baca Juga:
Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan HampaPakar vaksin dari Children's Hospital of Philadelphia, Paul Offit, termasuk yang paling keras mengkritik rencana studi tersebut karena dinilai tidak etis. Masalahnya, bayi yang orang tuanya menolak ikut dalam studi tidak akan menerima vaksin sama sekali — sehingga persetujuan sukarela yang benar-benar sadar dianggap mustahil terwujud.
"Bayangkan Anda seorang ibu. Anda ingin yang terbaik untuk anak Anda," ujar peneliti Denmark Henrik Støvring. "Jika mereka ikut dalam uji coba, ada peluang 50 persen anaknya mendapat vaksin. Tapi jika menolak, peluangnya nol persen. Bagaimana bisa disebut persetujuan yang tidak memaksa?"
"Solusinya jelas di sini: ambil dananya dan vaksinkan sebanyak mungkin anak," kata Offit.
Pemerintah Amankan Vaksin Para Peneliti
Pemerintah Guinea-Bissau kini menguasai vaksin-vaksin milik para peneliti yang disita saat aparat menggeledah kantor Bandim Health Project pada Senin lalu. Menurut Offit, langkah penting berikutnya adalah mendukung Guinea-Bissau segera memberikan vaksinasi kepada seluruh bayi baru lahir, sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Juru bicara WHO Tarik Jašarević menegaskan, WHO merekomendasikan seluruh bayi menerima dosis pertama vaksin hepatitis B sesegera mungkin setelah lahir — sebaiknya dalam 24 jam — diikuti minimal dua dosis tambahan.
Guinea-Bissau sendiri baru berencana memberikan dosis kelahiran universal pada 2028. Padahal, menurut Offit, negara tersebut memiliki angka hepatitis B kronis yang tinggi, sehingga justru paling membutuhkan program vaksinasi sejak dini.
Sumber: The Guardian
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

2,5 Menit Saja, Lagu Ini Mampu Hentikan Tangisan Bayi Seketika

Misteri Amelia Earhart Belum Terpecahkan, Ekspedisi ke Nikumaroro Pulang dengan Tangan Hampa

Misi Bersejarah Jepang: Menguak Misteri Dua Bulan Mars yang Tak Seharusnya Ada

Denda Tertinggi dalam Sejarah: Meta Dihukum US$25 Miliar karena Bohongi Publik soal Data Pribadi

Menelisik Bahaya Agentic AI: Ketika Mesin Bisa Bertindak Sendiri

Skandal 'AdFection': Spyware Disusupkan lewat Iklan, Jurnalis Al-Jazeera Jadi Korban
Berita Terkini
Lihat Semua
Putin Setuju Lanjutkan Perundingan Tiga Pihak dengan Ukraina dan Amerika Serikat

Demi Danai Ambisi AI yang Kian Mahal, Meta Siapkan Saham Kelas Baru

Anthropic Rilis Asisten AI yang Menyapa Duluan Sebelum Anda Bertanya

Iran Tegaskan Tak Akan Menyerahkan Uranium yang Diperkaya ke AS

