TeknologiArtikel

Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan Biaya

Redaksi Intarta

Oleh

Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan Biaya
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Apple memangkas anggaran pemakaian kecerdasan buatan bagi karyawannya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menekan biaya, meski perusahaan itu tetap berupaya memperluas penggunaan kecerdasan buatan di seluruh operasinya.

Bulan lalu, perusahaan memangkas tunjangan harian pemakaian kecerdasan buatan bagi sebagian teknisi dari 300 dolar AS menjadi 200 dolar AS. Perusahaan juga mempertimbangkan pemangkasan lebih lanjut bagi sebagian tim teknik, yang berpotensi menurunkan batas harian menjadi 100 dolar AS.

Baca Juga:Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna

Batas Berbeda untuk Tiap Kelompok Karyawan

Sebagian kelompok non-teknik sudah beroperasi dengan batas harian 100 dolar AS, yang berpotensi dipangkas menjadi hanya 25 dolar AS. Karyawan yang membutuhkan akses lebih besar ke perangkat kecerdasan buatan dapat mengajukan pengecualian kepada eksekutif senior.

Anggaran tersebut mencakup token kecerdasan buatan, yaitu satuan data yang diproses oleh model seperti ChatGPT buatan OpenAI, Claude buatan Anthropic, dan Gemini buatan Google. Setiap pertanyaan, penulisan kode, atau ringkasan dokumen yang dijalankan model menghabiskan token, sehingga pemakaian yang awalnya terasa gratis bagi karyawan ternyata menumpuk menjadi biaya besar bagi perusahaan.

Baca Juga:Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Tren Pengetatan di Industri Teknologi

Langkah ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan teknologi yang mulai meneliti pengeluaran terkait kecerdasan buatan setelah sebelumnya mendorong adopsi secara luas. Goldman Sachs dilaporkan membatasi akses ke sebagian perangkat pengkodean kecerdasan buatan setelah meninjau produktivitas dan manajemen risiko.

Bagi pekerja dan pelaku usaha di Indonesia, tren ini relevan karena banyak perusahaan rintisan dan tim teknologi lokal juga mengandalkan perangkat kecerdasan buatan berbayar untuk menulis kode, menyusun dokumen, dan melayani pelanggan. Bila biaya token terus diawasi ketat, tim-tim kecil perlu menetapkan prioritas pemakaian, misalnya memakai model yang lebih murah untuk tugas rutin dan menyimpan model yang lebih kuat untuk pekerjaan yang benar-benar membutuhkan ketelitian.

Perusahaan teknologi itu belum segera menanggapi permintaan komentar. Namun arah kebijakannya menunjukkan fase baru dalam adopsi kecerdasan buatan: bukan lagi sekadar mendorong semua karyawan memakai perangkat tersebut sebanyak-banyaknya, melainkan mengukur manfaatnya terhadap biaya yang dikeluarkan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkini

Lihat Semua