Korban Serangan ke Pusat Bantuan Bertambah, Puluhan Orang Masih Tertimbun Reruntuhan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
KOMYSHUVAKHA - INTARTA.com - Otoritas setempat menaikkan jumlah korban tewas akibat serangan ke sebuah pusat penyaluran bantuan menjadi 40 orang. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengumumkan angka terbaru itu pada Rabu, seraya menyebut sejumlah jenazah belum teridentifikasi dan lebih dari 30 orang kemungkinan masih berada di bawah reruntuhan.
Serangan pada Senin itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap warga sipil dalam perang yang telah berjalan hampir lima tahun. Sejumlah bom dijatuhkan ke gedung sekolah di desa dekat garis depan yang sedang dipakai untuk membagikan bantuan, dan serangan susulan kemudian menghantam tempat perlindungan bawah tanah yang dipenuhi orang. Empat petugas polisi dan dua anggota tim penyelamat termasuk di antara korban tewas.
Baca Juga:Serangan Mematikan Hancurkan Harapan Damai Usai Gencatan Senjata Terpanjang BerakhirUpaya Penyelamatan Terus Berjalan
Rekaman kamera tubuh dari salah satu petugas yang tewas memperlihatkan warga diarahkan masuk ke tempat perlindungan bawah tanah sesaat sebelum peringatan bom udara berpemandu diterima lewat radio, lalu gambar terputus menjadi hitam dan sunyi. Pejabat setempat menyebut drone musuh menghambat pencarian korban, namun Pelaksana Tugas Kepala Administrasi Militer Regional Mykhailo Semikin menegaskan operasi penyelamatan akan terus dilanjutkan.
Misi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai pengeboman itu kemungkinan melanggar hukum internasional. Zelenskyy mengecam serangan tersebut sebagai serangan teroris yang keji dan menilai serangan itu menunjukkan tidak adanya keinginan deeskalasi, sekaligus menyia-nyiakan peluang yang dibuka oleh gencatan senjata dan misi kemanusiaan sepekan sebelumnya di desa garis depan Oleshky.
Baca Juga:Lima Belas Tahun Setelah Teror Terungkap, Keluarga Korban Masih Menanti KeadilanSerangan ini terjadi menjelang putaran baru perundingan gencatan senjata yang difasilitasi Amerika Serikat. Utusan khusus Steve Witkoff menyebut delegasi kedua pihak akan bertemu di Abu Dhabi pada 10-11 November untuk membahas kesepakatan keamanan pascaperang, deeskalasi, langkah kemanusiaan, dan penghentian perang. Presiden Vladimir Putin menyetujui perundingan itu setelah bertemu Witkoff di St Petersburg pada 21 Oktober, meski pertemuan-pertemuan sebelumnya belum menghasilkan kemajuan berarti. Bagi warga sipil yang masih menunggu kabar kerabatnya di bawah reruntuhan, hasil perundingan itu bukan sekadar diplomasi: setiap jeda pertempuran yang nyata berarti peluang penyelamatan yang lebih aman dan bantuan yang bisa kembali mengalir tanpa ancaman serangan susulan.
Sumber: Al Jazeera
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Serangan Mematikan Hancurkan Harapan Damai Usai Gencatan Senjata Terpanjang Berakhir

Lima Belas Tahun Setelah Teror Terungkap, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan

Lima Orang Ditangkap Setelah Peternak Diserang Brutal di Rumahnya

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang

Desakan Serangan Baru Mencuat di Tengah Negosiasi yang Masih Alot

Pengaduan Resmi Dilayangkan ke PBB atas Serangan Drone Mematikan
Berita Terkini
Lihat Semua
Sembilan Petugas Ditahan Usai Diduga Aniaya Demonstran

Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan Biaya

Penjualan Chip Ponsel Meleset, Saham Raksasa Semikonduktor Anjlok

Arm Lampaui Perkiraan Pendapatan Berkat Dorongan AI dan Pusat Data


