Sembilan Petugas Ditahan Usai Diduga Aniaya Demonstran
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
BELGRADE - INTARTA.com - Otoritas menahan sembilan polisi aktif dan satu mantan polisi atas dugaan penggunaan kekerasan berlebihan terhadap orang-orang yang ditahan selama gelombang protes antikorupsi tahun lalu. Penahanan itu diumumkan kementerian dalam negeri pada Rabu, dan menjadi penangkapan besar pertama yang berkaitan dengan kekerasan terhadap demonstran dalam dua tahun terakhir.
Menurut pernyataan kementerian, para tersangka yang bertugas di sebuah unit elite diduga menyiksa dan mengintimidasi sejumlah orang yang ditahan di garasi kompleks pemerintahan di pusat kota pada 14-15 Agustus 2025. Mereka disebut menggunakan kekerasan dan ancaman untuk menimbulkan rasa sakit hebat, dengan tujuan menggali informasi sekaligus menakut-nakuti dan menghukum para tahanan secara melawan hukum. Identitas para petugas yang ditahan hanya disampaikan dalam bentuk inisial.
Baca Juga:Lima Orang Ditangkap Setelah Peternak Diserang Brutal di RumahnyaProtes yang Berawal dari Tragedi Stasiun
Gelombang protes itu bermula setelah 16 orang tewas ketika kanopi beton sebuah stasiun kereta yang baru direnovasi runtuh pada 1 November 2024. Tragedi tersebut memicu kemarahan publik yang meluas dan berubah menjadi gerakan antikorupsi selama 2025 dan 2026. Puncaknya, partai populis yang berkuasa kehilangan kekuasaan dalam pemilihan parlemen kilat pada 25 Oktober, setelah dikalahkan oleh daftar independen yang dipimpin mahasiswa.
Selama aksi berlangsung, aparat membubarkan massa dengan gas air mata, kendaraan pengendali kerumunan, dan granat kejut. Puluhan mahasiswa dan aktivis menuduh polisi memakai kekerasan berlebihan hingga menimbulkan luka dan trauma psikologis. Para mahasiswa, aktivis, politikus oposisi, dan pengawas hak asasi juga menuduh mantan presiden dan partainya melakukan kekerasan politik, tekanan terhadap media, serta korupsi yang merajalela, tuduhan yang dibantah oleh pihak yang bersangkutan.
Baca Juga:Suami yang Undang Orang Asing Melecehkan Istri Kini Diadili, Sembilan Pria Jadi TerdakwaUjian Akuntabilitas Aparat
Penahanan ini menjadi ujian penting bagi akuntabilitas aparat penegak hukum: apakah kekerasan terhadap warga yang menyampaikan pendapat akan diproses sampai ke pengadilan, atau berhenti pada penahanan awal. Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini mengingatkan bahwa hak menyampaikan pendapat di muka umum hanya bermakna bila ada mekanisme yang benar-benar menghukum aparat yang melampaui batas, bukan sekadar pernyataan penyesalan setelah korban jatuh.
Langkah berikutnya yang dinanti adalah dakwaan resmi, pembukaan identitas para tersangka sesuai hukum yang berlaku, serta kesaksian para korban yang selama ini mengaku mengalami kekerasan saat ditahan. Tanpa proses yang transparan, penahanan ini berisiko dibaca sebagai gestur sesaat di tengah pergantian kekuasaan, bukan sebagai perubahan cara negara memperlakukan demonstrannya sendiri.
Sumber: The Guardian
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Lima Orang Ditangkap Setelah Peternak Diserang Brutal di Rumahnya

Suami yang Undang Orang Asing Melecehkan Istri Kini Diadili, Sembilan Pria Jadi Terdakwa

Prancis Kembali Bergejolak, Ratusan Ribu Warga Turun ke Jalan Menentang Mahalnya Biaya Hidup

Serangan Mematikan Hancurkan Harapan Damai Usai Gencatan Senjata Terpanjang Berakhir

Dendam karena Ejekan Berujung Siraman Air Keras ke Rekan Kerja

Pesan Suara Sehari Setelah Tragedi Jadi Bukti Kunci di Sidang Pembunuhan Ganda
Berita Terkini
Lihat Semua
Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan Biaya

Penjualan Chip Ponsel Meleset, Saham Raksasa Semikonduktor Anjlok

Arm Lampaui Perkiraan Pendapatan Berkat Dorongan AI dan Pusat Data



