RagamArtikel

Batuk dan Ruam pada Anak, Ini Tahapan Medis Memastikan Alergi Susu Sapi

Redaksi Intarta

Oleh

Batuk dan Ruam pada Anak, Ini Tahapan Medis Memastikan Alergi Susu Sapi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Ruam kemerahan di kulit, batuk berulang, hingga gangguan pencernaan pada anak sering membuat orang tua khawatir dan langsung menyimpulkan buah hatinya mengalami alergi protein susu sapi (APSS). Padahal asumsi cepat ini berisiko memicu salah penanganan, sebab mendiagnosis alergi susu sapi membutuhkan proses medis yang bertahap dan tidak bisa instan.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi dan Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menegaskan penegakan diagnosis APSS tidak cukup hanya dengan melihat gejala sesaat atau satu kali kunjungan. Dokter perlu menelusuri secara mendalam untuk membedakan apakah keluhan tersebut murni alergi susu atau indikasi penyakit lain.

Baca Juga:Enam Manfaat Susu Kedelai untuk Tubuh, dari Pencernaan hingga Tulang

Dalam konsultasi awal, dokter spesialis anak akan menggali riwayat kesehatan anak secara terperinci. Orang tua diminta memaparkan kapan pertama kali gejala muncul, pola makan harian, hingga asupan nutrisi ibu bila anak masih menerima ASI eksklusif.

"Untuk menegakkan diagnosis alergi susu sapi itu butuh proses, tidak hanya sekali datang langsung selesai. Kita mulai dengan memeriksa secara menyeluruh karena saat konsultasi, pastinya banyak hal yang akan digali lebih lanjut," ujar dr. Molly dalam talkshow menyambut World Allergy Week 2026 yang digelar bersama Sarihusada pada Kamis (11/6/2026).

Mengenal Metode Eliminasi dan Provokasi

Baca Juga:Minum Air Es Ternyata Tidak Langsung Menyebabkan Batuk dan Flu

Jika pemeriksaan fisik awal mengarah pada kecurigaan alergi susu, tim medis menerapkan standar emas yang dikenal sebagai tahap eliminasi dan provokasi.

Pada tahap eliminasi, anak harus menghindari segala bentuk makanan maupun minuman yang mengandung protein susu sapi. Pantang diet ini umumnya berlangsung 1 hingga 4 minggu, tergantung tingkat keparahan gejala. Selama periode ini, orang tua diminta mengamati secara ketat apakah kondisi buah hati membaik atau tidak menunjukkan perubahan.

Apabila kondisi anak berangsur pulih selama masa pantang, dokter melanjutkan ke tahap provokasi. Di fase ini, protein susu sapi justru dikenalkan kembali ke menu harian anak secara bertahap, namun di bawah pengawasan medis yang sangat ketat. Jika setelah mengonsumsi kembali susu sapi gejala lama seperti ruam atau batuk mendadak muncul lagi, barulah status alergi protein susu sapi bisa dinyatakan positif.

Mengapa Langkah Ini Penting Bagi Orang Tua?

Menebak diagnosis sendiri sangat berbahaya bagi masa depan anak. Ketika orang tua langsung menghentikan pemberian produk susu hanya karena melihat ruam sepintas, anak berisiko mengalami malnutrisi atau kekurangan kalsium dan protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang.

Sebaliknya, mengabaikan gejala alergi yang sebenarnya dan tetap memberikan susu sapi dapat memicu peradangan kronis pada saluran pencernaan anak. Karena itu, melewati jalur pemeriksaan eliminasi dan provokasi secara resmi melalui dokter spesialis anak adalah jalan paling aman untuk menjamin tumbuh kembang si kecil, sekaligus memberi orang tua panduan alternatif nutrisi pengganti yang tepat tanpa memotong asupan gizi penting secara sembarangan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua