InternasionalArtikel

Citra Dua Negara Adidaya Berbalik, Survei Global Catat Pergeseran Pertama dalam Dua Dekade

Redaksi Intarta

Oleh

Citra Dua Negara Adidaya Berbalik, Survei Global Catat Pergeseran Pertama dalam Dua Dekade
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Untuk pertama kalinya dalam sekitar dua dekade pemantauan Pew Research Center, citra China di mata dunia mengungguli Amerika Serikat. Fenomena ini menjadi bahan tulisan kolom yang dimuat Kantor Berita Xinhua pekan ini, ditulis oleh Maya Majueran, yang menafsirkan pergeseran tersebut sebagai bukti negara-negara berkembang beralih ke sikap yang lebih pragmatis dalam memilih mitra internasional.

Datanya sendiri nyata. Survei yang dilakukan Pew antara Februari hingga Mei 2026 menemukan bahwa di 25 dari 36 negara dan wilayah yang disurvei, publik memandang China lebih positif dibandingkan AS. Laura Silver, salah satu peneliti dalam studi tersebut, menyebut ini kali pertama sejak Pew mulai melacak opini global sekitar dua dekade lalu China unggul dari AS. Hanya enam negara, yaitu Polandia, Filipina, Korea Selatan, India, Jepang, dan Israel, yang tetap memandang AS lebih positif.

Baca Juga:Kandidat Pucuk Pimpinan Badan Kesehatan Dunia Dorong Iuran Negara Naik

Konteks Survei dan Tafsir Kolom Opini

Perlu dicatat, survei ini berlangsung di tengah perang AS-Iran dan ketegangan Washington dengan sejumlah sekutunya, sehingga sebagian analis mengaitkan penurunan citra AS dengan peristiwa politik dan keamanan tersebut, bukan semata perbandingan tawaran ekonomi kedua negara.

Dari sinilah kolom Majueran mengambil sudut pandangnya sendiri. Menurutnya, pergeseran ini bukan soal negara berkembang berpaling dari AS secara ideologis, melainkan makin mengutamakan kepentingan nasional dan peluang ekonomi konkret, semacam pragmatisme, bukan keberpihakan gaya Perang Dingin. Ia menyoroti Belt and Road Initiative, yang menurut kolom tersebut telah menggerakkan investasi infrastruktur senilai hampir US$1 triliun, mulai dari proyek kereta api di Ethiopia hingga pembangkit listrik di Pakistan.

Baca Juga:Lula Menangi Pilpres Brasil, Kalahkan Flavio Bolsonaro di Putaran Kedua

Ditambah lagi kebijakan bebas bea masuk bagi negara kurang berkembang dan dorongan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan lintas batas, yang menurutnya menekan biaya transaksi bagi mitra dagang China. Majueran juga menautkan tren ini dengan pendekatan diplomasi Beijing yang mengedepankan kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta pengalaman China sendiri mengentaskan kemiskinan dalam empat dekade terakhir, yang ia sebut sebagai rujukan pembangunan bagi negara-negara berkembang.

Sebagai catatan, tulisan ini adalah kolom opini yang dimuat media pemerintah China, bukan laporan berita independen. Datanya soal keunggulan citra China di banyak negara memang berasal dari survei kredibel dan bisa diverifikasi, tetapi interpretasi soal mengapa itu terjadi, apakah murni karena daya tarik ekonomi China atau justru lebih banyak dipicu memburuknya citra AS akibat kebijakan luar negerinya, masih diperdebatkan, dan narasi ini secara alami condong ke narasi yang menguntungkan Beijing.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua