Demi 'Mode Survival', Bahlil Pertimbangkan Tak Perpanjang Ekspor Gas ke Negara Tetangga
Oleh Redaksi Intarta
Jumat, 23 Okt 2026 01:31 WIB

Reading Comfort
adjust the font size
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil usai mengikuti sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam.
"Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas, saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga. Karena kan harus survival kan, harus memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri ya," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, setiap kementerian perlu menerjemahkan arahan presiden tersebut ke dalam kebijakan konkret. Ia memastikan pernyataan itu masih berupa opsi yang sedang dipertimbangkan, bukan pengumuman penghentian ekspor secara langsung. Bahlil juga tidak menyebut negara tujuan maupun kontrak tertentu yang akan terdampak.
"Ya memang harus kita survival. Kita sebagai pejabat negara, Bapak Presiden sebagai Presiden, pasti apa yang disampaikan Bapak Presiden, semua kementerian mampu menjabarkan dalam konteks implementasi program untuk menuju pada survival," kata dia.
Kadin Dukung Prioritas Domestik
Opsi yang disodorkan Bahlil mendapat dukungan dari kalangan dunia usaha. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin menilai langkah itu sangat tepat karena sejumlah industri dalam negeri pengguna gas justru kesulitan mendapatkan pasokan.
"Sebagaimana kita ketahui saat ini industri dalam negeri pengguna gas justru kesulitan mendapatkan pasokan gas, jadi langkah opsi menyetop ekspor gas ke negara tetangga adalah langkah yang sangat tepat, berarti pemerintah telah berpaling mengutamakan kebutuhan dalam negeri," ujar Saleh dalam pernyataan resmi, Kamis (22/10).
Data Ekspor dan Utilisasi Domestik
Data Kementerian ESDM mencatat ekspor gas bumi Indonesia mencapai 1.352,9 miliar BBTUD hingga Juni 2026, terdiri atas LNG sebesar 998,77 BBTUD dan gas melalui pipa 354,13 BBTUD. Dirjen Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik mencapai 74,55 persen, sedangkan 25,39 persen dialokasikan untuk ekspor sepanjang semester I 2026.
Salah satu kontrak ekspor yang tercatat berasal dari Medco E&P Grissik, yang memasok gas ke Singapura hingga 2028. Bahlil kini membuka kemungkinan tidak memperpanjang kontrak ekspor demi mendahulukan kebutuhan dalam negeri, meski rincian pelaksanaan dan negara tujuan belum diumumkan.
Opsi terbaru ini muncul setelah pemerintah sebelumnya berkomitmen menjaga kuota ekspor gas pada 2026. Bahlil sempat berjanji tidak akan lagi memotong kuota ekspor yang telah dikontrakkan ke luar negeri seperti yang terjadi pada 2025, ketika SKK Migas mengalihkan 27 BBTud kuota ekspor untuk kebutuhan domestik.
Sumber: YouTube - KOMPASTV
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
Ikuti Intarta di
Berita terkini setiap hari, langsung di beranda Facebook Anda.
intarta
Berita & Media
Komentar
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Produksi Dipangkas, 18 Emiten Batu Bara RI Malah Untung Besar-besaran

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Hukum Tampak Sibuk, Rasa Keadilan Belum Merata

Bukan Rapat Kabinet, Prabowo Kumpulkan Menteri di Istana Bogor untuk Jamu Wakil PM Rusia

Gaya Purbaya Yudhi Sadewa Kelola Gaji: Nabung 30 Persen, Anti-Flexing, dan Urutan Investasi yang Benar

Rekor! OJK Denda 971 Pihak Rp2,5 Triliun Sepanjang 2026

Disentil Seskab Teddy Saat Pidato, Prabowo Bercanda: Letkol Ngatur Presiden, Gue Ini Presiden
Berita Terkini
Lihat Semua
IUCN Peringatkan: 96 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Runtuh pada 2075

Ribuan Warga Polandia Turun ke Jalan Tuntut Pelonggaran Aturan Aborsi

Gempa Magnitudo 7,0 Guncang Tibet, 16 Tewas dan 12.000 Dievakuasi

AI Microsoft Bisa Mendiagnosis Bertahap seperti Dokter, Akurasi Dua Kali Lipat

