RagamArtikel

Hilang Hampir Seabad, Burung Langka Hijau Limau Muncul Lagi

Redaksi Intarta

Oleh

Hilang Hampir Seabad, Burung Langka Hijau Limau Muncul Lagi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Burung langka yang dikira hilang hampir satu abad kembali terdeteksi dalam ekspedisi pada April 2026. Blue-fronted lorikeet dengan bulu dominan hijau limau terlihat di Pulau Buru, dan burung ini pertama kali dideskripsikan bersama tujuh spesimen pada 1920 sebelum catatan resminya menghilang.

Ditemukan Lagi Setelah 94 Tahun

Baca Juga:Sakit Kepala Berbulan-bulan, Bocah 12 Tahun Ternyata Idap Kelainan Aorta yang Sangat Langka

Baru pada 2014, fotografer Craig Robson dalam tur Birdquest berhasil memotretnya lagi, mengakhiri masa hilang selama 94 tahun. Temuan terbaru terjadi di kawasan Gunung Kapalatmada, puncak tertinggi di Pulau Buru, ketika tim melihat dua ekor burung kecil terbang ke pohon di dekat mereka. Direktur Pencarian Burung Hilang John C. Mittermeier mengaku senang saat menyadari itu blue-fronted lorikeet, dan pertemuan pertama itu begitu singkat hingga burung langsung terbang sebelum sempat difoto. Tim baru berhasil mengabadikan gambar beberapa hari kemudian, menjadi dokumentasi pertama dalam 12 tahun terakhir sejak 2014. Selain foto, peneliti juga merekam suaranya sebagai bukti ilmiah dan bekal mencari populasi lain.

Kritis dan Terancam Kehilangan Hutan

Hingga kini belum diketahui berapa ekor yang tersisa di alam liar, dan dalam daftar IUCN statusnya Critically Endangered atau kritis. Secara fisik, blue-fronted lorikeet memiliki nama ilmiah Charmosynopsis toxopei dan dikenal sebagai nuri kecil dengan biru di bagian depan kepala, dengan habitat yang sangat spesifik di hutan pegunungan Buru sehingga sulit ditemukan tanpa masuk jauh ke hutan.

Baca Juga:Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan

Keberadaannya dibayangi ancaman deforestasi dan aktivitas pertambangan, dan Koordinator Maluku di Burung Indonesia Benny A. Siregar menyebut catatan penampakan yang sangat jarang menunjukkan habitat yang bisa digunakan sangat terbatas. Jika hutan di Kapalatmada terus berkurang, peluang bertahan lorikeet makin tipis. Pemandu Birdtour Asia Sumaraja berharap lebih banyak orang bisa melihat dan mempelajari burung-burung ini, sekaligus peduli dan berpartisipasi melestarikan hutan yang tersisa di Pulau Buru. Temuan ini menegaskan kawasan tersebut sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia dan bisa menjadi dorongan memperkuat perlindungan hutan Kapalatmada dari pembukaan lahan dan izin tambang baru.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua