Jaringan 5G Dipercepat Demi Ekonomi Berbasis AI
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Ukuran kemajuan internet kini tidak lagi sekadar kecepatan video call atau streaming. Yang ditakar sekarang adalah seberapa siap jaringan menopang ekonomi yang digerakkan kecerdasan buatan. Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat peta jalan 5G, dengan target cakupan mendekati skala nasional pada 2029.
Sekretaris Jenderal Komdigi, Ismail, menyampaikan rencana itu dalam keterangan tertulis yang dikutip Selasa (11/8/2026). Menurutnya, pergeseran ini bukan sekadar memperluas sinyal. “Roadmap 5G harus kita percepat,” katanya, seraya menegaskan dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI dan infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut.
Baca Juga:Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung InternetModal Fondasi Sudah Ada, Tantangan Bergeser
Indonesia tidak memulai dari nol. Ismail menyebut jaringan serat optik nasional sudah membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan pulau-pulau. Fondasi inilah yang menjadi modal utama percepatan.
Tantangan ke depan pun berubah. Bukan lagi soal memperluas jangkauan dasar, melainkan memperkuat kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan. “Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI,” ujar Ismail.
Baca Juga:Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs PemerintahPergeseran ini mengubah cara kerja operator telekomunikasi. Bila dulu fokusnya menjual kapasitas bandwidth, kini jaringan dituntut menopang layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things (IoT), hingga aplikasi yang mendongkrak produktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Regulasi, Spektrum Murah, dan Satelit untuk Pelosok
Untuk mempercepat langkah itu, pemerintah menyiapkan dua hal: kepastian regulasi dan akses spektrum yang lebih terjangkau. Salah satu langkah konkretnya, Komdigi baru merilis spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dengan skema biaya lebih murah dibanding sebelumnya, dengan harapan operator bisa berinvestasi lebih cepat di infrastruktur digital.
Ismail juga mendorong operator tidak lagi sekadar berjualan konektivitas. Ia ingin mereka bertransformasi menjadi penggerak solusi digital di sektor strategis: pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, sampai keuangan. “Kita ingin operator tidak hanya menyediakan jaringan, tetapi juga menghadirkan solusi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi,” katanya.
Sebagai negara kepulauan, jaringan darat saja tidak cukup menjangkau seluruh wilayah secara merata. Karena itu, pemerintah memadukan jaringan terrestrial dengan jaringan satelit lewat skema nonterrestrial network, agar layanan digital berkecepatan tinggi bisa menjangkau daerah yang sulit dijangkau infrastruktur darat.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet

Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah

Anthropic Resmi Ajukan IPO, Valuasi Ditaksir hingga 2 Triliun Dolar AS

Ditolak Mentah-mentah, Warga Pennsylvania Tolak Uang Rp154 Juta demi Menolak Pusat Data Raksasa

Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan

Gugatan Baru Menyeret Perusahaan AI Usai Kematian Seorang Pengguna
Berita Terkini
Lihat Semua
Kasasi Dikabulkan, Polemik Ijazah Wakil Presiden Kembali Memanas

Menganggur Lebih dari Setahun, Peluang Kerja Justru Makin Menyempit

Penggugat Minta Wapres Segera Mundur Usai Putusan Kasasi Dikabulkan

Desakan Serangan Baru Mencuat di Tengah Negosiasi yang Masih Alot

