TeknologiArtikel

Kacamata Pintar Siap Gantikan Laptop, Ini Tiga Alasannya

Redaksi Intarta

Oleh

Kacamata Pintar Siap Gantikan Laptop, Ini Tiga Alasannya
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Laptop yang sedang kamu gunakan mungkin sedang menuju akhir zamannya. Dan yang berada di garis depan perubahan ini bukanlah perusahaan teknologi besar yang biasa mendominasi pasar, melainkan perusahaan-perusahaan dari negeri yang pernah mengubah cara manusia mendengarkan musik lewat Walkman.

Coba pikirkan: kapan terakhir kali sebuah laptop membuatmu kagum karena bentuk fisiknya? Bukan karena prosesornya lebih cepat atau aplikasinya lebih canggih, tetapi karena konsep laptopnya sendiri benar-benar berubah. Sulit mengingatnya, karena secara fundamental laptop modern masih memakai konsep yang sama sejak puluhan tahun lalu: layar persegi panjang yang disatukan dengan keyboard lewat engsel. Kita memang membuatnya semakin tipis, ringan, dan cepat, tetapi konsep dasarnya nyaris tak berubah.

Baca Juga:Tujuh Kendaraan Terbang Paling Menarik, dari Mobil Sport Sampai Taksi Udara

Padahal konsep itu bermasalah. Laptop memaksa layar berada pada posisi tertentu sehingga kepala dan leher terus menunduk berjam-jam. Ruang kerja dibatasi ukuran layar 13 atau 14 inci, padahal mata manusia mampu melihat area jauh lebih luas. Dan laptop harus dibawa ke mana-mana, dimasukkan ke tas, diisi ulang. Ketika baterai habis di tengah jalan, benda belasan juta rupiah itu praktis hanya menjadi papan persegi panjang yang tak berguna.

Bagaimana Jika Layar Tak Harus Berupa Benda

Sejumlah perusahaan melihat persoalan ini dari sudut berbeda. Mungkin masalahnya bukan bagaimana membuat laptop lebih baik, tetapi bagaimana jika laptop tidak lagi diperlukan. Bagaimana jika layar tak harus berupa benda fisik?

Baca Juga:Kronologi Peretasan Terbesar: Dana Rp114 Triliun Raib dalam Sekejap

Pengalaman masa lalu tampaknya menjadi pelajaran. Ketika era ponsel pintar mengubah peta industri, perusahaan-perusahaan lama tak lagi menjadi pusat perhatian. Ketika dunia membicarakan platform komputasi generasi berikutnya, mereka tidak hanya bertanya bagaimana membuat laptop lebih cepat, tetapi apa yang akan menggantikan layar tradisional. Dari sinilah teknologi extended reality (XR) mendapat perhatian serius, dengan nama-nama besar seperti Sony, NTT, Sharp, perusahaan-perusahaan terkait Panasonic, dan berbagai startup teknologi.

Contoh nyatanya sudah dipasarkan. MiRZA, perangkat XR dari NTT QONOQ Devices, perusahaan patungan NTT QONOQ dan Sharp, memakai desain seperti kacamata dengan teknologi display yang menghasilkan beberapa layar virtual di hadapan pengguna. Dunia nyata tetap terlihat, informasi digital ditampilkan di atasnya. Harganya sekitar 1.730 dolar AS, jelas menyasar pasar profesional dan perusahaan di tahap awal, bukan konsumen massal.

Ponsel Menjadi Otaknya

Bagian paling menarik justru bukan kacamatanya, melainkan arsitekturnya. Komputer tidak harus berada di dalam kacamata. MiRZA memakai chip Qualcomm Snapdragon AR2 Gen1 yang dirancang khusus untuk kacamata AR, dan dapat terhubung nirkabel dengan ponsel pintar. Ponsel yang sudah kita bawa ke mana-mana berfungsi sebagai pusat komputasi, sementara kacamata menjadi jendela menuju dunia digital.

Konsekuensinya besar. Ponsel pintar modern sudah mampu mengerjakan banyak hal yang dulu butuh komputer desktop. Selama ini kita masih butuh laptop terutama karena dua hal: layar besar dan keyboard. Jika masalah layar selesai lewat display virtual, salah satu alasan terbesar keberadaan laptop mulai berkurang.

Bahkan sudah diperlihatkan konsep perangkat yang lebih ringan untuk fungsi sehari-hari: notifikasi, navigasi, penerjemahan langsung, dan bantuan berbasis kecerdasan buatan.

Tiga Alasan Orang Biasa Akan Beralih

Pertama, tulang belakang. Dokter punya istilah untuk kerusakan akibat kebiasaan menunduk menatap layar: tech neck. Setiap kepala terdorong 1 cm ke depan, beban efektif yang ditanggung otot leher meningkat. Bayangkan itu terjadi berjam-jam setiap hari selama bertahun-tahun. Laptop pada dasarnya bencana ergonomi karena layarnya menyatu secara fisik dengan keyboard. Industri teknologi punya istilah untuk solusinya: great decoupling, yakni pemisahan antara apa yang dilihat dan apa yang disentuh. Layar virtual ditempatkan tepat di arah pandangan alami mata, sementara tulang belakang tetap netral.

Kedua, ruang. Kacamata konsumen terbaik tahun ini sudah mampu memproyeksikan tampilan virtual setara layar lebih dari 170 inci, dari perangkat yang bobotnya bisa lebih ringan dari kacamata biasa. Seorang pengguna menggambarkan pengalamannya bekerja dengan kacamata AR di kereta cepat: seperti memiliki layar bioskop yang hanya bisa dilihat dirinya sendiri. Layar laptop adalah jendela kecil, ini panorama yang muat di kantong jaket.

Ketiga, privasi, yang hampir tak pernah dibicarakan. Di pesawat atau kafe, semua orang bisa mengintip layar laptopmu. Dengan kacamata, ruang kerjamu tak terlihat siapa pun. Kamu bisa memeriksa kontrak rahasia di ruang tunggu bandara yang penuh orang, sementara orang di sebelahmu hanya melihat seseorang berkacamata menatap kehampaan. Bagi pengacara, dokter, eksekutif, dan jurnalis, itu saja sudah cukup menjadi alasan beralih.

Tiga Keberatan Terbesar

Keberatan pertama: baterai. Wajar, sebab generasi awal MiRZA bahkan hanya menjanjikan sekitar 90 menit penggunaan berat dengan baterai internal. Tetapi perhatikan arsitekturnya: karena kacamata mengandalkan ponsel untuk sebagian besar pemrosesan, masalah baterai terbagi dua. Chip yang makin efisien plus pekerjaan berat yang dialihkan ke ponsel atau cloud. Daya tahan baterai adalah kurva, bukan tembok. Jam pintar dan earbud pun pernah melewati fase memalukan sebelum menjadi hal yang tak lagi dipikirkan.

Keberatan kedua: mengetik. Kacamata tidak menghilangkan keyboard, tetapi membebaskannya. Keyboard lipat ringan di meja mana pun, dipasangkan dengan ponsel dan layar virtual raksasa, sudah lebih ergonomis dari laptop tradisional. Sistem input juga berkembang: antarmuka yang dikendalikan tatapan mata, dikte suara yang makin akurat, plus kecerdasan buatan yang membantu menulis dan mengedit. Jumlah aktivitas mengetik manual kemungkinan terus berkurang dari tahun ke tahun.

Keberatan ketiga, mungkin terbesar: penampilan. Sejarah komputer di wajah penuh kegagalan, dan pengguna awal sebuah produk kacamata pintar terkenal pernah diejek hingga enggan memakainya di kedai kopi satu dekade lalu. Tetapi sesuatu telah berubah: jutaan orang kini santai memakai kacamata pintar berkamera dengan desain menyerupai kacamata hitam klasik, dan hampir tak ada yang mempermasalahkannya.

Bukan Revolusi Semalam

Lalu apakah laptop benar-benar akan hilang? Jawabannya tidak sesederhana itu. Perubahan besar teknologi hampir tak pernah terjadi dengan sebuah perangkat tiba-tiba lenyap lalu digantikan. Kamera digital tidak langsung membunuh kamera profesional, tetapi ponsel pintar mengambil sebagian besar kebutuhan fotografi masyarakat. Pemutar MP3 tidak lenyap karena satu produk, tetapi ponsel pintar membuat orang sadar tak lagi butuh perangkat terpisah untuk musik.

Hal yang sama bisa terjadi pada laptop. Ia mungkin tetap ada bertahun-tahun, tetapi perannya berubah dari perangkat utama menjadi perangkat khusus: mengetik dokumen panjang, mengedit proyek besar, menjalankan perangkat lunak profesional. Sementara untuk membaca dokumen, mengikuti rapat, menerjemahkan percakapan, mengakses banyak layar sekaligus, atau berinteraksi dengan kecerdasan buatan, perangkat di wajah punya keunggulan telak.

Pertanyaan yang diubah bukan lagi seberapa kuat komputer yang kamu bawa, tetapi seberapa sedikit perangkat yang harus kamu bawa. Dan ketika era itu tiba, para pemain yang dulu menjadi penonton memastikan tidak lagi hanya menonton.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua