Kenapa Gen Z Israel Berbondong-bondong Dukung Kubu Kanan Jauh
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Menjelang pemilihan umum Israel pekan depan, sosok Itamar Ben-Gvir — menteri keamanan nasional dari kubu kanan jauh — kerap dikelilingi kerumunan pendukung muda yang antusias, mengibarkan bendera besar partai di atas barisan pengawal pribadinya.
Dulu ditolak masuk tentara Israel karena dinilai terlalu ekstrem secara politik, Ben-Gvir kini duduk di lingkaran dalam pemerintahan. Lebih dari 500 ribu pemilih pemula akan memberikan suaranya dalam pemilu yang oleh banyak warga Israel disebut menentukan masa depan keamanan dan identitas negara.
Baca Juga:Pemilu Israel Buntu: Blok Netanyahu Unggul Tipis, Mayoritas Masih Jauh dari GenggamanSebuah jajak pendapat Yedioth Ahronoth menunjukkan lebih dari 16 persen pemilih pemula berencana mendukung partai kanan jauh — Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi) milik Ben-Gvir atau Partai Zionisme Religius yang dipimpin sekutunya, Bezalel Smotrich. Survei lain dari televisi Channel 12 mencatat hampir tiga perempat pemilih muda menyebut dirinya berhaluan kanan atau kanan tengah.
Keamanan dan Trauma 7 Oktober
Para pendukung muda punya alasan sendiri. Mordechai, 20 tahun, mengaku Ben-Gvir memberinya rasa aman. Nadav, 18 tahun, yakin politikus itu akan membela mereka yang akan masuk dinas militer.
Baca Juga:Hasil Final Pemilu Israel: Netanyahu dan Rival Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas, Partai Arab Jadi PenentuNamun Ben-Gvir adalah tokoh yang memecah belah. Pandangannya mencakup aneksasi Tepi Barat yang diduduki, pendudukan kembali Gaza, dan "emigrasi sukarela" warga Palestina — sikap yang dikecam luas warga Israel liberal. Sejumlah negara Barat bahkan menjatuhkan sanksi atau larangan perjalanan terhadap Ben-Gvir dan Smotrich atas tuduhan hasutan terhadap warga Palestina. Keduanya adalah menteri kuat dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kecenderungan Jangka Panjang
Analis politik Dahlia Scheindlin menilai fenomena ini bukan sekadar buntut 7 Oktober. Selama sekitar 20 tahun terakhir, pemilih Yahudi Israel muda memang lebih kanan dibanding rata-rata, bahkan jauh lebih kanan dibanding kelompok usia di atas 55 tahun.
"Mereka tumbuh di tengah serangkaian perang tanpa pengalaman pribadi akan upaya perdamaian. Namun sebagian besar mereka disosialisasikan ke dalam istilah-istilah paling ekstrem dalam perdebatan — aneksasi, perluasan permukiman, dan — setelah 7 Oktober — aneksasi Gaza. Dan kini mereka memilih untuk pertama kalinya," ujarnya.
Faktor media sosial juga berperan. Yonatan Shalev, 24 tahun, kandidat dari partai oposisi kanan tengah Beyachad ("Bersama") yang dipimpin mantan perdana menteri Naftali Bennett, menyebut Ben-Gvir lebih cepat memahami kekuatan TikTok. "Politisi liberal tidak percaya TikTok, tidak percaya Instagram, dan dia memanfaatkan arena itu," katanya.
Survei menunjukkan pemilih pemula sangat termotivasi untuk mencoblos — lebih dari 80 persen menyatakan kemungkinan besar akan datang — namun juga lebih skeptis terhadap institusi demokrasi dan kurang tertarik pada aksi protes atau petisi politik.
Dalam pemilu yang diperkirakan ketat antara blok pro-pemerintah dan anti-pemerintah, kehadiran para pemilih baru ke bilik suara bisa menjadi penentu hasil.
Sumber: BBC News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Pemilu Israel Buntu: Blok Netanyahu Unggul Tipis, Mayoritas Masih Jauh dari Genggaman

Hasil Final Pemilu Israel: Netanyahu dan Rival Sama-Sama Gagal Raih Mayoritas, Partai Arab Jadi Penentu

Ribuan Warga Israel Gelar Aksi di Tel Aviv, Tuntut Penyelidikan Independen Serangan 7 Oktober

Hasil Sementara Pemilu Israel: Tak Ada Blok yang Raih Mayoritas, Netanyahu dan Lawan Imbang

Jerman Masih Menahan Sikap soal Hasil Pemilu Israel yang Belum Pasti

Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi
Berita Terkini
Lihat Semua
Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras








