Ketika Seni Tradisi Bertemu Industri Wisata: Antara Pelestarian dan Komoditas
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Di panggung terbuka berlatar candi yang megah, Sendratari Ramayana selalu memukau penonton. Sorot lampu keemasan, gerak penari yang gemulai, dan kisah Rama serta Sinta berpadu menjadi tontonan kolosal. Namun di balik tepuk tangan dan jepretan kamera, terselip pertanyaan yang tak kalah penting: sejauh mana pertunjukan ini masih menjadi pelestarian budaya, dan kapan ia berubah menjadi sekadar produk wisata?
Dari Gagasan Luhur Menuju Panggung Industri
Sendratari ini dirintis pada 1961, terinspirasi pertunjukan Royal Ballet Kamboja di latar Angkor Wat yang disaksikan GPH Djatikoesoemo. Gagasan awalnya jelas: menghidupkan relief candi lewat tari klasik Jawa, sekaligus menarik wisatawan. Sejak awal misinya memang ganda, menjaga warisan sekaligus mengundang penonton.
Namun formatnya berubah besar demi pasar. Dahulu pertunjukan hanya digelar pada musim kemarau, April hingga Oktober, dengan cerita enam episode bersambung. Kini ia dipentaskan sepanjang tahun dan dipadatkan menjadi satu episode utuh dalam semalam. Efisien untuk paket wisata singkat, tetapi kedalaman cerita ikut terkikis.
Dilema Komodifikasi dan Selera Pasar
Dalam kajian antropologi, gejala ini disebut komodifikasi budaya: nilai sakral, spiritual, dan komunal dikemas ulang menjadi produk komersial. Tandanya tampak pada tiket VIP seharga Rp450.000 dengan suvenir eksklusif hingga paket makan malam yang menempatkan seni tradisi sebagai hiburan pelengkap.
Kualitas artistiknya sendiri tidak menurun; secara visual pertunjukan ini tetap salah satu yang terbaik. Persoalannya ada pada makna. Gerak tangan penuh simbol dalam gaya tari klasik kerap hanya dipandang sebagai dekorasi visual oleh penonton yang tak memahami maknanya. Kisah Ramayana yang sarat ajaran dharma, kesetiaan, dan keadilan kosmis pun menyusut menjadi drama percintaan biasa.
Pariwisata sebagai Penyelamat Tradisi
Di sisi lain, realitas ekonomi tak bisa diabaikan. Pariwisata adalah urat nadi kehidupan ratusan penari, musisi gamelan, perajin kostum, dan pekerja seni di sekitar lokasi. Tanpa dana dari tiket, seni tradisi terancam punah karena kehilangan relevansi ekonomi bagi generasi muda. Banyak warisan mati bukan karena dieksploitasi, melainkan karena ditinggalkan dan tak ada lagi yang peduli.
Menjembatani Hiburan dan Edukasi Makna
Tantangan ke depan adalah menghadirkan pariwisata yang merayakan nilai budaya, bukan mengurasnya. Panduan visual singkat, animasi latar cerita, atau selebaran informatif sebelum pertunjukan dapat membantu penonton memahami filosofi di balik setiap gerakan. Dengan begitu, penonton tidak hanya mengonsumsi visual, tetapi juga menghargai nilai spiritual yang disajikan di atas panggung.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Anjing Dachshund: dari Muse Picasso hingga Maskot Olimpiade dan Simbol Politik Jerman

Meluncur 3,6 Km Menembus Hutan: Sensasi Balap Gokart di Gunung Benxi, Tiongkok

Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya Raya: Seni Mengelola Uang dengan Sadar

Bukan Sekadar Liburan: Empat Jalan Menenangkan Hati yang Diajarkan Agama

L'Oreal Akui Penjualan Kosmetik Terdampak Maraknya Obat Penurun Berat Badan

Ketika Kecerdasan Buatan Membongkar Celah Keamanan di Jantung Internet
Berita Terkini
Lihat Semua
Dua Pengunjung Diusir dari Ruang Sidang Usai Diduga Bocorkan Kesaksian

Tujuh Anggota Satuan Narkoba Dimutasi karena Diduga Langgar Prosedur

Beras Bergizi Palsu Terbongkar, Pemerintah Siapkan Penarikan dari Pasar

Sekolah Kosong Saat Banjir Lahar, Guru Tetap Hadir dan Belajar Beralih Daring

