RagamArtikel

Kopi Itu Sendiri Bukan Musuh, Ini yang Membuatnya Berbahaya

Redaksi Intarta

Oleh

Kopi Itu Sendiri Bukan Musuh, Ini yang Membuatnya Berbahaya
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Bagi pecinta kopi, ada kekhawatiran yang terus menghantui: benarkah kopi mengganggu kesehatan, apalagi bila dicampur gula? Menurut seorang dokter, yang perlu diwaspadai bukan hanya kopi bergula. Ada jenis kopi lain yang tidak disadari banyak orang, padahal bisa berbahaya bagi kesehatan.

Jenis kopi yang umum dikonsumsi antara lain kopi tubruk atau kopi hitam yang paling klasik, kopi susu seperti cappuccino dan cafe latte, kopi instan dari varian 3-in-1 sampai yang tanpa ampas, kopi decaf yang kafeinnya dikurangi, hingga kopi kekinian dengan aneka perisa, sirup, dan boba.

Baca Juga:Kebiasaan Makan Terlalu Cepat Ternyata Berisiko, Ini 5 Dampaknya untuk Tubuh

Tiga Manfaat Kopi Menurut Studi

Sebelum membahas bahayanya, ada tiga manfaat kopi yang dikelompokkan dari sejumlah studi. Pertama, kesehatan jantung. Sebuah ulasan yang terbit di Ochsner Journal pada 2023 menyimpulkan konsumsi kopi dalam jumlah sedang berkaitan dengan penurunan risiko kematian, hipertensi, gagal jantung, dan fibrilasi atrium. Hubungannya berbentuk J: konsumsi sedang bermanfaat, konsumsi berat justru berisiko.

Kedua, kesehatan liver. Studi tahun 2016 menunjukkan kopi bisa menurunkan enzim hati seperti SGOT dan SGPT yang menjadi indikator masalah pada hati. Sejumlah penelitian memang melaporkan hubungan terbalik antara konsumsi kopi dan kadar enzim hati, terutama pada individu berisiko penyakit hati.
Baca Juga:Kenapa Menabung Kini Terasa Lebih Berat dari Dulu?
Ketiga, kanker kolorektal. Di sini perlu diluruskan: studi 2020 yang paling dikenal di bidang ini, terbit di JAMA Oncology, meneliti hubungan konsumsi kopi dengan kelangsungan hidup pasien kanker kolorektal stadium lanjut, bukan pencegahan kanker pada orang sehat. Bukti bahwa kopi mencegah kanker usus besar pada populasi umum masih belum konsisten antarstudi.

Lalu Kenapa Kopi Bisa Jadi Tidak Sehat?

Masalahnya bukan pada kopinya, melainkan pada empat hal. Pertama, bahan tambahan. Gula tambahan segala jenis, gula pasir, gula aren, gula coklat, maupun gula batu, efeknya ke tubuh hampir sama. Selain itu ada creamer, termasuk yang berlabel nabati agar terdengar sehat, yang kerap berasal dari lemak buatan atau terhidrogenasi, meski tidak semua creamer masa kini masih memakai minyak terhidrogenasi parsial karena banyak produsen telah mereformulasi produknya. Sirup dan perisa seperti karamel dan sirup tinggi fruktosa juga perlu diwaspadai, terutama pada kopi kekinian.

Kedua, proses pengolahan. Kopi yang tidak disaring seperti kopi tubruk yang diminum beserta ampasnya, bila dikonsumsi sering setiap hari, berpotensi mengganggu kesehatan. Biji kopi mengandung senyawa cafestol dan kahweol yang terbukti menaikkan kolesterol LDL, dan filter kertas mampu menahan sebagian besar senyawa tersebut. Solusinya: saring kopi, misalnya secara manual dengan V60.
Ketiga, kopi instan. Proses pengolahannya terlalu panjang dan ditambahi bahan pengawet serta bahan lain, sehingga kurang baik untuk dikonsumsi rutin. Keempat, jumlah. Apa pun yang baik kalau dikonsumsi berlebihan jadi tidak baik. Patokannya: lebih dari tiga cangkir per hari sudah kebanyakan, dengan satu cangkir sekitar 180 ml.

Yang Terkandung dalam Kopi yang Benar

Kopi dari biji yang benar mengandung kafein yang bisa meningkatkan mood dan performa olahraga. Perlu dipahami: kafein bukan menambah energi, melainkan merangsang sistem saraf sehingga tubuh terasa lebih aktif. Ada juga asam klorogenat yang bersifat antiinflamasi dan disebut bisa menurunkan tekanan darah.

Soal tekanan darah, ada anggapan umum yang perlu diluruskan: kenaikan tekanan darah setelah minum kopi hanya bersifat sementara, terutama pada orang yang jarang minum kopi. Pada peminum kopi rutin, tekanan darah justru bisa turun karena fungsi endotelium pembuluh darah membaik. Ditambah kandungan mangan, magnesium, dan kalium, kopi dari sumber yang tepat disebut punya banyak manfaat untuk tubuh.

Kapan Waktu Minum Kopi yang Baik?

Yang dibahas bukan soal jam, melainkan timing, karena setiap orang punya ritme sirkadian yang berbeda, tergantung kebiasaan tidur, makan, dan olahraga. Ada tiga momen yang disarankan. Pertama, satu hingga dua jam setelah bangun tidur. Alasannya, saat bangun tidur kadar kortisol masih tinggi, dan kopi punya efek menaikkan kortisol. Minum kopi saat kortisol sedang tinggi-tingginya disebut bisa membuat kelenjar adrenal kewalahan. Perlu dicatat, saran ini populer di kalangan praktisi kesehatan tetapi bukti ilmiahnya masih terbatas, dan kelelahan adrenal sendiri bukan diagnosis medis yang diakui.

Kedua, setelah makan, terutama bagi yang punya masalah asam lambung yang gampang naik, agar tetap bisa mendapat manfaat kopi tanpa memicu lambung. Ketiga, saat jam puasa dalam intermittent fasting. Kopi tanpa gula dan tanpa kalori berarti disebut tidak membatalkan puasa, bahkan bisa meningkatkan kewaspadaan karena merangsang sistem saraf.

Kesimpulannya: kopi itu sendiri bukan musuh. Yang membuatnya berbahaya adalah gula dan bahan tambahan di dalamnya, cara pengolahan yang tidak disaring, produk instan yang ultra-proses, serta jumlah yang berlebihan. Pilih kopi yang benar, takar dengan tepat, dan minum di waktu yang tepat, maka secangkir kopi bisa menjadi kawan kesehatan, bukan lawan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua