NasionalBerita

Doa Khidmat di Pusara Sang Adik, Kenangan 40 Hari yang Menggetarkan Hati Keluarga

Redaksi Intarta

Oleh

Doa Khidmat di Pusara Sang Adik, Kenangan 40 Hari yang Menggetarkan Hati Keluarga
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

JAKARTA - INTARTA.com - Suasana hening menyelimuti sebuah pusara di pemakaman umum ketika Megawati Soekarnoputri datang bersama keluarga besarnya pada Rabu sore. Langkahnya perlahan, tangannya menggenggam tangan sang putra, menuju tempat peristirahatan terakhir adik bungsunya, Guruh Soekarnoputra.

Kedatangan Megawati disambut putranya, M. Prananda Prabowo, bersama istrinya, Nancy Prabowo, serta keponakannya, Puti Guntur Soekarno. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno turut menyambut di area pemakaman.

Baca Juga:Pengerahan Pasukan Besar Disambut Dukungan Penuh demi Situasi yang Kondusif

Doa dan Tabur Bunga di Dua Pusara

Setibanya di pusara, Prananda mempersilakan ibundanya duduk di kursi yang telah disiapkan. Doa dipanjatkan dengan khusyuk untuk mengenang 40 hari wafatnya Guruh. Di tengah prosesi itu, Megawati beberapa kali terlihat mengusap matanya.

Usai doa, Megawati lebih dulu menaburkan bunga di makam ibundanya, Fatmawati Soekarno, dan menuangkan air dari botol yang dibawanya ke atas pusara sang ibu. Barulah ia melangkah ke makam Guruh, mengusap nisan kayu yang menandai pusara sang adik, lalu meminta Prananda menancapkan bunga sedap malam di depan nisan dan menuangkan air ke atas pusara tersebut.

Baca Juga:Pesan Tegas untuk Abdi Negara Baru: Bijak Bermedsos, Utamakan Pelayanan

Sejumlah pimpinan pusat partai kemudian bergantian menaburkan bunga setelah prosesi keluarga selesai.

Kenangan Sang Keponakan tentang Maestro Kebudayaan

Rombongan lalu menuju kediaman almarhum untuk tahlilan dan doa bersama. Puluhan santri telah duduk rapi, dan Din Syamsuddin dijadwalkan menyampaikan ceramah setelah tahlilan yang dipandu Sekretaris Bamusi, Helmi Hidayat.

Sebelum tahlilan, Rommy Soekarno menyampaikan sambutan mewakili keluarga besar. Ia mengenang sang paman, yang akrab disapa Pak Lek Guruh, bukan hanya sebagai sosok yang dekat dengan keluarga, tetapi juga sebagai pemikir yang mencintai seni, budaya, dan kedaulatan bangsa.

"Kepergian Pak Lek Guruh bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Soekarno. Indonesia telah kehilangan seorang maestro, seorang pemikir kebudayaan, sekaligus tokoh yang menjadikan kesenian sebagai medium perjuangan dan pengabdian terhadap bangsa," ujar Rommy dengan suara bergetar.

Rommy menegaskan, bagi Guruh, seni bukan sekadar hiburan atau keindahan visual. Seni adalah cermin martabat peradaban dan instrumen perjuangan berjiwa kebangsaan yang diekspresikan lewat musik, tarian, dan syair sarat nasionalisme.

Di ruangan doa itu, Megawati duduk di sisi kanan mengenakan busana bernuansa putih dan selendang. Kakaknya, Guntur Soekarnoputra, bersama istri, serta Kartika Sari Dewi Soekarno turut mengikuti doa bersama, didampingi puluhan anak yatim yang memegang Alquran dan buku Yasin.

Dalam ceramahnya, Din Syamsuddin membahas kehidupan setelah kematian dan bekal yang perlu dipersiapkan manusia, seraya mendoakan Guruh yang meninggal dunia pada usia 73 tahun.

Kenangan seperti ini mengingatkan banyak keluarga di tanah air pada tradisi serupa: mengenang orang terkasih bukan hanya dengan air mata, melainkan dengan doa, kebersamaan, dan warisan nilai yang ditinggalkan. Bagi para seniman dan pecinta budaya, karya-karya Guruh tetap menjadi rujukan tentang bagaimana kesenian bisa berbicara tentang bangsa tanpa kehilangan kehalusannya.

Sumber: Liputan6 Terkini

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkini

Lihat Semua