InternasionalBerita

Janji Dagang Besar Diuji Ambisi Kemitraan yang Belum Terpenuhi

Redaksi Intarta

Oleh

Janji Dagang Besar Diuji Ambisi Kemitraan yang Belum Terpenuhi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

MOSKOW - INTARTA.com - Presiden Vladimir Putin berjanji hampir melipatgandakan perdagangan hingga lebih dari 50 miliar dolar dalam sebuah pertemuan puncak di Moskow. Janji itu disertai tuduhan bahwa negara-negara Barat telah mendorong negara-negara Afrika ke dalam jerat utang, dengan tawaran kesepakatan yang diklaim lebih adil.

Tawaran yang diajukan terbilang luas: gandum, persenjataan, pembangkit nuklir, hingga pabrik. Namun kesenjangan antara janji dan kenyataan masih lebar. Kehadiran pasukan di lapangan di sejumlah negara tidak diimbangi kehadiran bisnis yang sebanding, dan ambisi perdagangan sebelumnya belum terpenuhi. Bahkan, total perdagangan dengan seluruh Afrika disebut masih lebih kecil dibandingkan perdagangan dengan satu negara tetangga, Belarus.

Baca Juga:Pelajaran Pahit dari Negosiasi Dagang: Terlalu Bergantung pada Satu Mitra Saja

Tuntutan Pemimpin Afrika

Di sisi lain, para pemimpin Afrika menegaskan tuntutan yang semakin jelas: mereka menginginkan bagian yang lebih besar dari kekayaan yang dihasilkan sumber daya mereka sendiri. Bukan sekadar menjadi pemasok bahan mentah, mereka menginginkan industri lokal yang mengolah, teknologi yang ditransfer, dan lapangan kerja yang tercipta di tanah mereka sendiri.

Sanksi yang kian menekan membuat kebutuhan Moskow akan mitra baru semakin besar. Situasi itu membuka ruang tawar bagi pemerintah-pemerintah Afrika, tetapi ruang itu hanya berarti bila diubah menjadi kesepakatan yang konkret dan dapat ditegakkan.

Baca Juga:Konferensi Keamanan ke-25 Soroti Ancaman Agresi dan Dorongan Reformasi Hukum

Pelajaran Bagi Negara Berkembang

Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini memberi pelajaran yang relevan. Kemitraan dengan kekuatan besar mana pun sebaiknya diukur bukan dari besarnya janji di atas panggung, melainkan dari realisasi investasi, alih teknologi, dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Negara yang memiliki posisi tawar akan menuntut kontrak yang transparan, kandungan lokal yang jelas, dan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat, bukan sekadar angka perdagangan di atas kertas. Langkah berikutnya yang patut dicermati adalah apakah janji kali ini diikuti proyek nyata, pendanaan yang cair, dan pabrik yang benar-benar berdiri, atau kembali berhenti sebagai retorika pertemuan puncak.

Sumber: Al Jazeera

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…