Tekanan Pasar Saham Dinilai Konsekuensi Logis Reformasi Besar-besaran
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
JAKARTA - INTARTA.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi membeberkan sejumlah penyebab di balik tekanan yang terus melanda pasar modal belakangan ini. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilainya bukan semata sinyal melemahnya ekonomi, melainkan konsekuensi logis dari reformasi terbesar dalam sejarah pasar modal yang sedang dijalankan.
Friderica menjelaskan, pembersihan sistem yang tengah dilakukan ibarat proses mengeluarkan elemen yang kurang baik dari pasar. Langkah itu memang menimbulkan gejolak jangka pendek, tetapi ditujukan untuk membangun pasar yang lebih sehat, transparan, dan terpercaya dalam jangka panjang.
Baca Juga:Pengungkapan Bandar Saham Gorengan Jadi Ujian Kepercayaan PasarDinamika Global Ikut Menekan Pasar
Selain faktor reformasi internal, tekanan pasar modal turut dipicu dinamika global yang menantang. Friderica, yang akrab disapa Kiki, menyebut pergerakan IHSG sangat dipengaruhi dinamika geopolitik global. Ketidakpastian itu membuat investor global cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya di pasar negara berkembang.
Tekanan tersebut diperberat pula oleh faktor inflasi serta ekspektasi suku bunga yang tinggi dalam jangka panjang. Kombinasi itu menaikkan biaya modal dan membuat sebagian investor menunda ekspansi maupun penempatan dana baru.
Baca Juga:Indeks Saham Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan di Awal SesiFundamental Emiten Dinilai Masih Kuat
Meski indeks tertekan, Friderica menegaskan fundamental kinerja emiten domestik masih berada dalam kondisi sangat baik. Laporan kinerja kuartal kedua menunjukkan banyak emiten tetap mencatatkan kinerja yang solid, sehingga pelemahan indeks tidak serta-merta mencerminkan kondisi perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.
Bagi masyarakat, kondisi ini penting dipahami secara proporsional. Investor ritel yang menabung lewat reksa dana saham atau dana pensiun memang bisa melihat nilai portofolionya berfluktuasi dalam jangka pendek, tetapi fondasi emiten yang kuat memberi ruang bagi pemulihan ketika sentimen membaik. Langkah berikutnya yang patut ditunggu adalah konsistensi reformasi itu sendiri: aturan yang lebih tegas, penegakan yang adil, dan keterbukaan informasi yang membuat investor, besar maupun kecil, merasa diperlakukan setara.
Sumber: JPNN
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Pengungkapan Bandar Saham Gorengan Jadi Ujian Kepercayaan Pasar

Indeks Saham Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan di Awal Sesi

Nilai Rupiah Belum Beranjak dari Rp 18.100-an, Gejolak Politik Dalam Negeri Jadi Beban Tambahan

Dolar Melemah Jelang Pemilu Sela, Bitcoin Mulai Stabil Setelah Peretasan Raksasa

Bahlil Akan Kunjungi India dan China untuk Pastikan Pasokan BBM Indonesia

Menganggur Lebih dari Setahun, Peluang Kerja Justru Makin Menyempit
Berita Terkini
Lihat Semua
Modal Jumbo untuk Startup yang Ingin Mengubah Cara Tim Penjualan Bekerja

Janji Dagang Besar Diuji Ambisi Kemitraan yang Belum Terpenuhi

Lima Model Kini Kantongi Komponen Lokal 60 Persen, Baterai Jadi Fokus Berikutnya

Desakan Usut Dugaan Maladministrasi Pajak Menggema Lewat Aksi Massa


