PendidikanArtikel

Dari 25 Anak hingga 600 Ribu Porsi Sehari: Perjalanan Pendiri Dapur Sekolah yang Raih Penghargaan Bergengsi

Redaksi Intarta

Oleh

Dari 25 Anak hingga 600 Ribu Porsi Sehari: Perjalanan Pendiri Dapur Sekolah yang Raih Penghargaan Bergengsi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Berawal dari penggalangan dana kecil untuk 25 anak sekolah, seorang wirausahawan sosial kini memimpin organisasi yang menyajikan lebih dari 600.000 porsi makanan setiap hari di 19.000 sekolah. Perjalanan itu mengantarkannya menerima German Africa Prize 2026, penghargaan bagi individu yang gagasannya memberi solusi atas persoalan global masa depan.

Wawira Njiru, pendiri dan chief executive Food4Education, mengaku dulu hanya bermimpi memberi makan 100 anak setiap hari. Ia baru berusia 21 tahun ketika ambisi itu terasa sudah sangat besar. Namun rasa penasaran yang tak berhenti — seberapa jauh lagi yang bisa dicapai — membawanya melangkah lebih jauh dari yang ia bayangkan.
Baca Juga:Makan Gratis di Sekolah Ternyata Bikin Anak Makin Rajin Hadir

Dari Penggalangan Dana Kampus Menjadi Jaringan Dapur Sekolah

Setelah menamatkan sekolah, Njiru merantau untuk belajar ilmu gizi. Di bangku kuliah itulah ia semakin memahami betapa pentingnya makanan bergizi bagi anak, terutama pada masa pertumbuhan dan belajar. Ketika mengetahui teman-teman kampusnya sering memiliki sedikit uang lebih dan ingin berkontribusi, ia menghubungkan kedua hal itu dan memulai penggalangan dana pertamanya.

Jalan yang ditempuh tidak selalu mulus. Sebagian orang meremehkannya karena usianya yang masih muda, dan sebagian lainnya justru menjadi pendukung awal. Njiru belajar bahwa seorang pendiri tidak bisa berjalan sendirian: ia membutuhkan orang-orang yang percaya, serta pihak yang bersedia menjamin kehadirannya. Pengalaman itu pula yang membentuk budaya organisasinya hingga kini — lebih dari 70 persen dari sekitar 6.000 karyawannya adalah perempuan.

Baca Juga:Makan Bergizi Gratis Dinilai Bikin Anak Makin Semangat ke Sekolah

Sistem yang dibangun Food4Education memadukan donasi dan pendanaan pemerintah, sehingga orang tua hanya menanggung kontribusi kecil. Di beberapa kasus, kontribusinya hanya 5 shilling, atau sekitar 3 sen dolar Amerika. Pembayaran diproses lewat sistem Tap-to-Eat: setiap anak memakai gelang yang mencatat setiap porsi yang diambil, sekaligus membantu tim mengetahui bila ada anak yang tidak mengambil makanannya dan mencari tahu penyebabnya.

Makanan Sekolah Bukan Sekadar Amal

Sekitar 80 persen bahan makanan yang disalurkan organisasi itu berasal dari petani skala kecil di sekitar lokasi. Dengan begitu, makanan yang disajikan tetap segar, sekaligus memberi pasar yang andal bagi petani setempat. Model ini mengubah cara pandang lama tentang makan siang sekolah.

"Untuk waktu yang lama, makanan sekolah dipandang sebagai amal. Kami telah membuktikan bahwa ini adalah infrastruktur ekonomi," kata Njiru, yang kini berusia 35 tahun.

Data di sekolah-sekolah peserta menunjukkan anak-anak lebih jarang bolos dan mencatat hasil belajar yang lebih baik. Raphaera Kanya, kepala sebuah sekolah dasar, menggambarkannya dengan sederhana: ketika perut kosong, anak sulit memahami pelajaran di kelas. Bagi Jane Nyambura, seorang murid, program makan sekolah juga menumbuhkan rasa setara — tidak ada lagi anak yang merasa kurang hanya karena keluarganya kesulitan menyediakan makanan.

Kisah ini relevan jauh melampaui satu negara. Di Indonesia, program makan bergizi untuk anak sekolah juga bertumpu pada gagasan yang sama: anak yang cukup gizi lebih siap belajar, orang tua terbantu bebannya, dan petani serta dapur lokal ikut bergerak ketika rantai pasoknya dibangun dari sekitar. Pelajaran dari Food4Education adalah soal skala yang dibangun bertahap — dari 25 anak, ke 100 anak, lalu ke ratusan ribu porsi — dengan sistem pencatatan yang rapi agar setiap porsi benar-benar sampai dan setiap anak yang terlewat bisa segera ditindaklanjuti, bukan sekadar jumlah porsi yang dilaporkan.

Target berikutnya sudah ditetapkan Njiru: menjangkau 1 juta anak sekolah setiap hari. "Dari 25 anak hingga sekarang, saya merasa tidak ada satu tantangan pun yang belum kami atasi," ujarnya.

Penghargaan yang ia terima diberikan oleh German Africa Foundation, yayasan nonpartisan yang sejak 1993 menganugerahkan German Africa Prize kepada individu yang ide dan karyanya menginspirasi solusi persoalan global. Penghargaan itu rencananya diserahkan oleh Menteri Pembangunan Reem Alabali Radovan.

Sumber: DW News

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…