NasionalArtikel

Jembatan Putus dan Permukiman Terendam, Ratusan Keluarga Dievakuasi

Redaksi Intarta

Oleh

Jembatan Putus dan Permukiman Terendam, Ratusan Keluarga Dievakuasi
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Derasnya arus sungai dan hujan lebat memicu banjir bandang yang memutus jembatan penghubung wilayah Babussalam dengan kawasan Lawe Alas. Jembatan yang baru dibangun itu tak lagi bisa dilalui sejak Sabtu, 31 Oktober 2026, setelah diterjang banjir dan debit air sungai yang meningkat tajam.

Putusnya akses itu langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak sekolah tidak bisa lewat lagi, sementara warga yang biasa melintasi jembatan untuk bekerja, berdagang, dan mengurus keperluan keluarga harus mencari jalan lain atau menunda perjalanan mereka.

Baca Juga:Pakar Kebencanaan Ingatkan Warga Siaga Penuh Hadapi Puncak Musim Hujan

Kondisi serupa pernah terjadi pada November 2025. Pengulangan bencana ini menegaskan bahwa penanganan darurat saja tidak cukup; warga membutuhkan solusi yang membuat akses mereka tidak terputus setiap kali hujan deras dan sungai meluap.

Tanggul Jebol, Air Berlumpur Masuk ke Rumah Warga

Di Gayo Lues, hujan deras membuat tanggul sungai jebol. Air bercampur lumpur mengalir deras memasuki permukiman pada sore hari, merendam sedikitnya dua desa. Petugas gabungan bersama BPBD mengevakuasi warga yang terjebak banjir, termasuk seorang bayi, dengan bantuan perahu karet untuk memudahkan penyelamatan dan mobilitas tim di tengah genangan.

Baca Juga:Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir Rob

Secara keseluruhan, lebih dari 100 kepala keluarga terdampak banjir di wilayah itu. Evakuasi menjadi prioritas pertama, tetapi setelah air surut, warga masih harus membersihkan rumah, menyelamatkan barang, dan memulihkan aktivitas yang sempat berhenti total.

Jalan Utama Tergenang, Kendaraan Melambat

Banjir juga melanda Pidie Jaya hingga air meluap ke badan jalan utama. Kendaraan yang melintas harus memperlambat laju, sementara sejumlah desa terendam. Hujan dengan curah tinggi, luapan sungai, kerusakan tanggul, dan saluran drainase yang belum sepenuhnya tertangani disebut menjadi pemicu banjir tersebut.

Genangan di jalan utama bukan sekadar gangguan lalu lintas sesaat. Jalur itu dipakai warga untuk distribusi barang, perjalanan kerja, dan layanan darurat, sehingga setiap jam genangan bertahan berarti biaya, waktu, dan risiko tambahan bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah daerah setempat diharapkan segera melakukan penanganan darurat sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang, agar akses masyarakat tidak tertutup setiap kali banjir melanda, terutama bagi anak sekolah dan warga yang menggantungkan mobilitasnya pada jembatan serta jalan utama itu.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua