NasionalArtikel

Gelar Doktor Perwira Polisi Harus Berbuah Empati ke Publik

Redaksi Intarta

Oleh

Gelar Doktor Perwira Polisi Harus Berbuah Empati ke Publik
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri kini memiliki sekitar 200 perwira bergelar doktor. Di tengah peningkatan kapasitas akademik itu, muncul harapan besar agar gelar tinggi tersebut berbanding lurus dengan empati dan pendekatan humanis saat bertugas di lapangan.

Guru Besar Lemdiklat Polri, Prof Hermawan Sulistyo, menegaskan seluruh perwira Polri bergelar doktor telah melalui proses akademik yang murni dan kredibel. Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ke-80 STIK Lemdiklat Polri pada Rabu (17/6/2026).

Baca Juga:Polri Janji Evaluasi Penggeledahan yang Bikin Santriwati Trauma

Untuk membuktikan kualitas tersebut, STIK tengah merancang program publikasi ilmiah. Seluruh disertasi para doktor kepolisian itu direncanakan dibuka agar bisa diakses dan dinilai langsung oleh masyarakat luas.

Harapan Pendekatan Humanis di Lapangan

Hermawan, yang akrab disapa Kikie, menekankan esensi pendidikan tinggi bagi perwira adalah kepekaan sosial. Ia berharap tidak ada lagi tindakan represif dari aparat, terutama saat mengamankan aksi unjuk rasa di jalanan.

Baca Juga:Polri Pastikan Keluhan Penggeledahan Pesantren Didalami Propam Secara Objektif

Menurutnya, perwira yang cerdas dan berpendidikan tinggi seharusnya memimpin penanganan demonstrasi dengan empati, bukan dengan instruksi kekerasan terhadap mahasiswa atau elemen masyarakat lainnya.

Tiga Pilar Pendidikan STIK

Ketua STIK Lemdiklat Polri, Irjen Pol Eko Rudi Sudarto, menjelaskan lembaga pendidikan kepolisian terus berupaya membentuk personel yang seimbang. STIK menerapkan tiga pilar utama dalam kurikulumnya, yaitu etika, logika, dan rasa.

Eko mengakui tantangan moral yang dihadapi institusinya bila masih ditemukan pelanggaran atau penyimpangan oleh lulusan di lapangan. Baginya, ketika terjadi deviasi perilaku, lembaga pendidikan turut memikul tanggung jawab moral untuk mengevaluasi pembentukan karakter para anggotanya.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua