Harga Emas Melonjak, Tata Kelola Mineral Strategis Didesak Dibenahi
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir mengubah cara masyarakat memandang logam mulia ini. Emas kini lebih dilirik sebagai instrumen investasi ketimbang dibeli dalam bentuk perhiasan, dan tren itu menjadi salah satu sorotan dalam forum Mindialogue 2026 bertema strategi penguatan cadangan mineral untuk stabilitas dan kedaulatan ekonomi.
Ekonom Senior INDEF, Aviliani, menyebut pergeseran pola permintaan ini sebagai hal yang wajar. Semakin mahal harga emas, semakin besar pula daya tariknya sebagai aset investasi dibandingkan sekadar perhiasan.
Baca Juga:Harga Emas Batangan Hari Ini, dari Pecahan Kecil hingga Satu KilogramTambang Rakyat Belum Masuk Rantai Pasok Formal
Dari sisi tata kelola, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan emas semestinya menjadi prioritas utama dalam strategi pembangunan ekonomi nasional. Alasannya, tambang-tambang rakyat selama ini kesulitan masuk ke rantai pasok formal dan belum terfasilitasi standar pemurnian internasional (LBMA), sehingga potensi penerimaan negara dari sektor ini justru berkurang.
Persoalan tata niaga juga disinggung Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Tri Winarno. Ia menilai sistem ketertelusuran asal-usul emas perlu diperkuat, menyusul indikasi masuknya emas ilegal ke sejumlah toko perhiasan. Menurutnya, pengawasan dari hulu ke hilir mesti diperketat agar peredaran emas lebih transparan dan devisa negara tetap terjaga.
Baca Juga:Harga Emas Antam Stagnan, Ini Rincian Buyback dan PecahannyaTarget Investasi dan Reformasi Perizinan
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, memaparkan bahwa pemerintah terus berupaya menyederhanakan birokrasi perizinan. Langkah ini dinilai penting untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen, yang salah satu penopangnya adalah realisasi target investasi yang masuk ke dalam negeri.
Sejalan dengan itu, Chief Technology Officer Badan Pengelola Investasi Danantara, Sigit Puji Santosa, menekankan pentingnya optimalisasi kekayaan alam lewat hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah, dengan mengintegrasikan proses dari hulu hingga hilir sehingga rantai produksi sampai distribusi berjalan menyatu. Pemaparan senada disampaikan Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Heldy Satrya Putera, dalam forum yang sama.
Cadangan Emas Masih Besar
Dari sisi potensi sumber daya, Chairman Indonesian Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, menyebut cadangan emas masih tersebar luas dan belum sepenuhnya tergarap. Salah satu yang disorot adalah Proyek Hu'u di Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikelola Sumbawa Timur Mining. Proyek ini masih dalam tahap eksplorasi, namun diklaim berpotensi memiliki cadangan emas lebih besar dibandingkan tambang PT Freeport Indonesia di Papua Tengah.
Benang merah dari forum ini cukup jelas: harga emas yang terus naik membuka peluang ekonomi, tetapi peluang itu baru bisa dimaksimalkan jika tata kelola dari hulu ke hilir dibenahi, mulai dari legalitas tambang rakyat, ketertelusuran asal emas, sampai kemudahan izin investasi.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Harga Emas Batangan Hari Ini, dari Pecahan Kecil hingga Satu Kilogram

Harga Emas Antam Stagnan, Ini Rincian Buyback dan Pecahannya

Harga Logam Mulia Terjun ke Level Terendah Setahun, Masih Bisa Turun Lebih Dalam?

Kopdes Kini Boleh Kelola Tambang dan Mineral, Ini Penjelasan Menkop

Gaji Pas-pasan, Mimpi Rumah Sendiri: Masih Mungkinkah Dikejar?

Bahlil Akan Kunjungi India dan China untuk Pastikan Pasokan BBM Indonesia
Berita Terkini
Lihat Semua
Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Pujian Tulus Sang Pelatih untuk Peraih Bola Emas Jelang Laga Besar

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras

Peringatan Serangan Palsu Mengguncang Aplikasi Siaga, Warga Diminta Tetap Tenang







