EkonomiArtikel

IHSG Berpotensi Melemah Terbatas di Rentang 6.000-6.220

Redaksi Intarta

Oleh

IHSG Berpotensi Melemah Terbatas di Rentang 6.000-6.220
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak melemah terbatas sepanjang perdagangan Jumat, didorong aksi ambil untung, ketika investor menjual saham yang sudah untung untuk mengunci keuntungan sebelum akhir pekan.

Proyeksi pelemahan ini berlaku untuk potensi arah sepanjang hari, bukan patokan pembukaan. Pagi ini IHSG justru dibuka menguat tipis 4,63 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.112,84, sementara indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 0,31 poin atau 0,05 persen ke posisi 608,89.

Baca Juga:Indeks Saham Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan di Awal Sesi

Tekanan dari Konflik dan Harga Energi

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.000-6.220.

Tekanan terhadap pasar domestik tidak lepas dari situasi di Timur Tengah yang terus memanas. Serangan yang dilanjutkan ke Iran dan balasan yang menyasar pangkalan di Kuwait dan Yordania membuat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun dari 9,4 juta barel menjadi 5,5 juta barel per hari, mendorong harga minyak melonjak cepat.

Baca Juga:Nilai Rupiah Belum Beranjak dari Rp 18.100-an, Gejolak Politik Dalam Negeri Jadi Beban Tambahan

Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7), harga minyak WTI berada di 79,55 dolar AS per barel dan Brent di 84,23 dolar AS per barel. Kaitan antara perang dan kebijakan bank sentral AS ini sederhana: harga minyak yang melonjak mendorong biaya energi naik di berbagai sektor, yang pada akhirnya mengerek inflasi.

Ketika inflasi naik, bank sentral AS cenderung menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan agar harga-harga tidak makin liar. Suku bunga AS yang tinggi biasanya membuat investor global menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk dari IHSG. Pelaku pasar pun diperkirakan menghadapi masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali.

Bursa Global Mayoritas Tertekan

Pergerakan bursa dunia semalam turut mencerminkan kegugupan pasar. Bursa Eropa bergerak variatif, dengan Euro Stoxx 50 menguat 0,25 persen dan FTSE 100 menguat 0,54 persen, sementara DAX melemah 0,34 persen dan CAC 40 melemah 0,05 persen.

Di Wall Street, ketiga indeks utama kompak melemah pada Kamis (16/7): S&P 500 turun 0,51 persen ke 7.533,77, Nasdaq Composite anjlok 1,62 persen ke 29.025,77, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,20 persen ke 52.552,97.

Bursa Asia pagi ini juga mayoritas tertekan. Indeks Nikkei ambles 4,22 persen ke 64.016,00, Shanghai melemah 1,50 persen ke 3.823,95, dan Shenzhen turun 3,20 persen ke 14.024,53. Hanya indeks Hang Seng yang bergerak berlawanan arah dengan menguat 1,55 persen ke 24.602,00, sementara Strait Times melemah tipis 0,38 persen ke 5.518,77.

Utang Luar Negeri Masih Tergolong Sehat

Gejolak pasar global bukan satu-satunya sorotan hari ini. Rupiah yang berpotensi tertekan turut relevan bagi utang luar negeri yang sebagian besar berdenominasi dolar AS. Semakin lemah rupiah, semakin berat beban pembayaran utang dalam nilai riil.

Bank Indonesia melaporkan utang luar negeri per Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS, atau setara hampir Rp8.000 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp17.300 per dolar AS, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto berada di kisaran 30,6 persen, dengan 84,6 persen di antaranya berupa utang berjangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali relatif terjaga.

Menurut Nico, struktur utang yang didominasi utang jangka panjang dengan rasio terhadap PDB yang relatif rendah membuat kondisi utang masih tergolong sehat, meski pemerintah tetap mengandalkan pembiayaan eksternal untuk mendukung APBN dan pembangunan. Namun ia mengingatkan, pelemahan rupiah dan suku bunga global yang tinggi berpotensi menambah beban pembayaran utang ke depan. Selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan utang diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi.

Dengan dua tekanan yang datang bersamaan, investor domestik tampaknya perlu mencermati pergerakan IHSG hari ini secara lebih hati-hati dari biasanya, terutama menjelang akhir pekan yang biasanya rawan aksi ambil untung.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua