Pakar Kebencanaan Ingatkan Warga Siaga Penuh Hadapi Puncak Musim Hujan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Memasuki musim hujan, kewaspadaan saja dinilai tidak lagi cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah kesiapsiagaan penuh: mengenali risiko di sekitar tempat tinggal, menyiapkan jalur evakuasi, dan memastikan kelompok paling rentan mendapat prioritas saat keadaan memburuk.
Peringatan itu disampaikan pengamat kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, Dwi Korita Karnawati, menyusul rentetan bencana hidrometeorologi yang terjadi di awal musim hujan. Banjir lahar hujan Gunung Semeru yang menerjang aliran sungai pada Senin pagi memaksa aktivitas penambangan pasir serta pembangunan dam mitigasi bencana di sekitar aliran sungai dihentikan sementara, dan sejumlah bangunan serta tanggul dilaporkan rusak diterjang derasnya aliran lahar.
Baca Juga:Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir RobMusim hujan lebih pendek, intensitas harian bisa ekstrem
Menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan kali ini masuk terlambat, baru pada November, tetapi puncaknya tidak ikut mundur. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember, Januari, dan Februari.
Berbeda dengan musim hujan pada umumnya yang memiliki masa transisi dua hingga tiga bulan sebelum puncak, musim kali ini langsung beranjak ke puncak hanya dalam sebulan. Akibatnya, curah hujan yang secara bulanan tergolong normal bisa turun dalam waktu sangat singkat.
Baca Juga:Curah Hujan Meningkat, Ribuan Keluarga Terdampak Banjir dan Angin Kencang"Secara bulanan curah hujannya kurang lebih sama, normal, namun secara harian yang normal itu satu bulan bisa turun dalam satu hari," ujar Dwi Korita. Karena itu, skenario yang harus disiapkan adalah skenario terburuk, yakni hujan lebat hingga ekstrem, bukan sekadar gerimis. Bila persiapannya hanya untuk hujan ringan sementara yang datang justru hujan ekstrem, penanganannya akan kewalahan.
Perbandingan dengan tahun 2020 menjadi pengingat. Saat itu fenomena La Nina membuat musim hujan lebih panjang dan curah hujan di atas normal. Tahun ini curah hujannya diprediksi normal, tetapi durasinya lebih pendek sehingga pembagian hari hujannya lebih rapat, dan intensitas harian justru berpotensi menjadi lebat, sangat lebat, atau ekstrem.
Mengenali tanda bahaya sebelum bencana datang
Setiap wilayah memiliki karakter bahaya yang berbeda, sehingga langkah pertama adalah mengidentifikasi ancaman di lingkungan masing-masing. Warga yang tinggal di lereng gunung perlu mewaspadai longsor, sementara warga di kaki gunung dan bantaran sungai berhadapan dengan risiko banjir bandang dan banjir lahar.
Tanda-tanda awal longsor antara lain pepohonan dan tiang yang mulai miring, retakan tanah, amblesan, munculnya mata air yang sebelumnya tidak ada, serta air rembesan yang semakin keruh. Bila longsor mengancam rumah secara langsung, pintu atau jendela yang tiba-tiba sulit dibuka dan lantai yang retak juga patut diwaspadai sebagai isyarat tanah mulai bergerak.
Banjir bandang dan banjir lahar memiliki sifat yang lebih menipu: bencana itu bisa datang tanpa hujan di lokasi yang terdampak. Cuaca di lereng bawah bisa tampak cerah, sementara di hulu awan gelap sudah menggantung. Tanda yang harus segera direspons adalah kerikil pasir yang hanyut, sungai yang berubah keruh meski tidak hujan, dan air yang mulai naik. Pada kondisi itu, bantaran sungai harus segera ditinggalkan.
Untuk banjir genangan, risikonya lebih besar di dataran rendah dengan drainase yang tidak lancar dan sungai yang penuh pasir, batu, dan sampah. Prinsip penyelamatannya pun berbeda: menghadapi banjir, carilah tempat yang lebih tinggi, sedangkan menghadapi longsor, menjauhlah dari lereng dan bergerak ke tempat yang lebih rendah, bukan naik ke atas.
Rencana darurat harus disusun di tingkat RT dan RW
Kesiapsiagaan tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah bersama warga diminta memetakan wilayahnya hingga tingkat RT dan RW: jenis bencana apa yang mengancam, jalur evakuasi mana yang aman, titik kumpul di mana, siapa yang mengawal, dan bagaimana logistik pengungsian disiapkan.
Rumah-rumah yang dihuni lanjut usia, anak-anak, dan penyandang disabilitas perlu ditandai sejak awal agar mereka dievakuasi lebih dulu. Warga juga diimbau memanfaatkan aplikasi Inarisk yang dikembangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengetahui posisi koordinat tempat tinggalnya berada di zona bahaya apa, serta memantau informasi cuaca dari BMKG dan informasi kesiapsiagaan dari BNPB.
Informasi BMKG biasanya sudah tersedia sekitar tiga jam sebelum hujan lebat. Saat peringatan dini itu keluar, kelompok rentan harus sudah siap diangkut, dan bila hujan berlangsung lebih dari 30 menit hingga satu jam, pengungsian sementara ke tempat yang lebih aman sebaiknya tidak ditunda. Pada malam hari, anjurannya lebih tegas lagi: jangan tidur di lokasi yang sudah dinyatakan berisiko ketika peringatan dini telah dikeluarkan.
Bagi pemerintah daerah, inspeksi berkala menjadi kunci. Tanggul-tanggul perlu diperiksa kekuatannya, sungai dibersihkan, dan muka air dipantau. Pengalaman banjir besar tahun 2020, ketika curah hujan mencapai 370 milimeter dalam satu hari, menunjukkan bahwa pada curah hujan di atas 150 milimeter per hari kapasitas pompa dan infrastruktur tidak lagi sanggup, sehingga modifikasi cuaca perlu dipertimbangkan beberapa hari sebelumnya.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan adalah pekerjaan bersama yang dimulai sebelum bencana datang: menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggali lereng secara sembarangan, menyiapkan tas siaga, menyepakati jalur evakuasi bersama tetangga dan aparat setempat, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal ketika air mulai naik atau tanah mulai bergerak.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir Rob

Curah Hujan Meningkat, Ribuan Keluarga Terdampak Banjir dan Angin Kencang

BMKG Ingatkan Warga Sumsel Waspada Cuaca Ekstrem di Masa Peralihan Musim

Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Berpotensi Turun Hari Ini, Ini Daftarnya

Detik Mencekam Saat Banjir Lahar Melanda, Aktivitas Tambang Pasir Diminta Berhenti Sementara

Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Hari Ini, Ini yang Perlu Disiapkan
Berita Terkini
Lihat Semua
Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan

Tujuh Kendaraan Terbang Paling Menarik, dari Mobil Sport Sampai Taksi Udara

Dibuka Sampai Sekrup Terakhir, Ponsel Flagship Ini Ternyata Punya Kejutan Besar

Pengurus Ungkap Detik-detik Penggeledahan Dini Hari yang Bikin Santriwati Ketakutan

