NasionalArtikel

Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir Rob

Redaksi Intarta

Oleh

Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir Rob
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Memasuki musim hujan, Desember hingga Februari diperkirakan menjadi puncak curah hujan, dan kewaspadaan terhadap potensi bencana perlu ditingkatkan. Seorang pengamat kebencanaan mengingatkan bahwa satu periode hujan yang berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari, bisa memicu rangkaian bencana yang saling berkaitan, bukan hanya satu kejadian di satu tempat.

Dari Lereng hingga Pesisir, Satu Hujan Bisa Berantai

Baca Juga:Pakar Kebencanaan Ingatkan Warga Siaga Penuh Hadapi Puncak Musim Hujan

Daerah di lereng gunung dan pegunungan, baik di Jawa, Sumatra, Sulawesi, Papua, maupun Maluku, rawan mengalami longsor. Daerah dataran rendah rawan banjir dan banjir bandang, sementara daerah pesisir rawan banjir rob. Rangkaiannya bisa bermula di hulu: longsoran menyumbat alur sungai, air yang terbendung itu kemudian jebol menjadi banjir bandang, dan di hilir terjadi banjir, sedangkan di pesisir air yang mengalir ke laut tertahan oleh rob sehingga genangan bertahan lama.

Kondisi tata kota ikut menentukan besar kecilnya dampak. Zona yang seharusnya menjadi resapan air kini banyak berubah menjadi perumahan, dan lahan serapan tertutup aspal serta beton. Tanggul-tanggul pesisir yang sebagian sudah tua dan perlu diinspeksi, bila bocor atau jebol, membuat air menggenang di dataran pesisir seperti lautan. Di pesisir utara Jawa Tengah, banjir pernah menggenang hingga mencapai atap rumah ketika tanggul jebol.

Banyumas: 34 Kejadian dalam Satu Rangkaian Cuaca

Baca Juga:Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Berpotensi Turun Hari Ini, Ini Daftarnya

Gambaran nyata rangkaian itu terlihat di Banyumas, Jawa Tengah, dengan 34 kejadian bencana: 26 banjir, 6 tanah longsor, dan 2 kejadian cuaca ekstrem yang menumbangkan pohon. Di Kecamatan Wangon, luapan Sungai Ciberem merendam 19 rumah dengan ketinggian air 30 hingga 50 sentimeter, tanah longsor terjadi di Desa Pengadegan, dan jebolnya tanggul membuat hektaran sawah terendam banjir. Pemerintah daerah melalui badan penanggulangan bencana daerah menangani material longsoran, membersihkan lumpur yang masuk ke rumah warga, dan menyalurkan bantuan sembako kepada para korban.

Kesiapsiagaan yang Harus Disiapkan Sejak Sekarang

Kesiapsiagaan, menurut pengamat tersebut, harus dimulai sekarang, terutama membersihkan lingkungan dan sedimen yang menumpuk. Di Aceh, Sumatra Utara, dan sebagian Sumatra Barat, endapan sungai di beberapa segmen masih lebih tinggi daripada lahan di sekitarnya, sehingga permukiman berada lebih rendah dari sungai dan lebih rentan bila curah hujan meningkat. Sistem peringatan dini, tanggul atau penahan laju air, jalur evakuasi, rambu dan peta evakuasi, latihan evakuasi, serta logistik harus sudah siap sebelum hujan puncak tiba.

Warga pun diminta mengenali risiko tempat tinggalnya masing-masing, apakah rawan longsor, banjir, banjir bandang, atau banjir rob, tidak membuang sampah ke sungai atau saluran yang menyumbat drainase, berkoordinasi dengan pengurus RT, RW, dan pemerintah setempat, serta memantau perkembangan informasi dari BMKG dan BNPB. Dengan begitu, masyarakat tidak panik tetapi memahami prosedur yang harus dilakukan, sehingga korban dapat dihindari dan dampak bencana diminimalkan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua