GadgetArtikel

Rebutan Chip dengan Industri AI, Harga Ponsel Baru Terancam Naik

Redaksi Intarta

Oleh

Rebutan Chip dengan Industri AI, Harga Ponsel Baru Terancam Naik
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Kenaikan harga ponsel tampaknya sulit dihindari dalam waktu dekat. Lonjakan harga memori dan media penyimpanan, yang dipicu rebutan pasokan dengan industri kecerdasan buatan, mengerek biaya produksi perangkat secara signifikan.

Berdasarkan analisis CCS Insight, komponen memori berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap total biaya produksi sebuah ponsel. Ketika harga komponen ini merangkak naik, biaya produksi otomatis ikut membengkak.

Baca Juga:Dibuka Sampai Sekrup Terakhir, Ponsel Flagship Ini Ternyata Punya Kejutan Besar

Memori Menyumbang Sepertiga Biaya

Lonjakan harga memori terjadi karena pabrik-pabrik semikonduktor raksasa dunia seperti Samsung Device Solutions, SK Hynix, Micron, Nanya, Winbond, hingga PSMC mulai mengalihkan kapasitas produksinya. Perusahaan-perusahaan itu kini lebih memprioritaskan pembuatan komponen untuk kebutuhan pusat data dan teknologi AI yang dinilai jauh lebih menguntungkan secara bisnis.

Akibat pengalihan fokus produksi ini, pasokan komponen untuk perangkat konsumen seperti ponsel dan laptop menjadi semakin langka. Hukum pasar pun berlaku: pasokan yang menipis di tengah permintaan yang stabil membuat harga komponen melambung tinggi. Data industri menunjukkan harga DRAM pada kuartal pertama tahun 2026 naik sekitar 93 hingga 98 persen dibanding kuartal sebelumnya. Sepanjang tahun 2026, harga DRAM diproyeksikan melonjak hingga 125 persen secara tahunan, sementara harga NAND Flash diperkirakan melesat hingga 234 persen. Secara akumulatif, kenaikan biaya memori mencapai kisaran 130 persen dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga:Jenuh Menatap Layar, Anak Muda Beramai-ramai Pindah ke Ponsel Jadul

Ponsel Murah Paling Terpukul

Kenaikan harga chipset bahkan dilaporkan melonjak hingga dua sampai tiga kali lipat. Dampak paling signifikan diprediksi sangat terasa pada segmen ponsel kelas pemula dengan harga di bawah 200 dolar AS atau sekitar Rp3 jutaan. Ponsel di kelas ini mengalami kenaikan biaya bahan baku hingga sekitar 25 persen.

Situasi ini memaksa para produsen memutar otak untuk merumuskan strategi baru agar tetap bisa menghadirkan produk yang kompetitif tanpa harus mengorbankan kualitas atau menaikkan harga terlalu ekstrem di mata konsumen.

Konsumen Berpikir Jangka Panjang

Di tengah situasi ekonomi domestik yang menantang, daya beli masyarakat sebenarnya masih menunjukkan ketahanan yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat berada di angka 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap solid. Mengingat ponsel kini telah bertransformasi menjadi alat penunjang produktivitas utama, mulai dari bekerja, belajar, hingga mencari hiburan, kebutuhan masyarakat terhadap perangkat digital tetap tinggi.

Namun, kenaikan harga yang membayangi membuat pola pikir konsumen mulai bergeser. Membeli ponsel kini tidak lagi sekadar membandingkan spesifikasi di atas kertas dengan harga yang murah. Konsumen mulai melihat pembelian ponsel sebagai investasi jangka panjang. Faktor-faktor seperti durabilitas fisik, jaminan pembaruan sistem operasi, sistem keamanan, kehadiran fitur AI yang relevan, hingga kualitas layanan purnajual kini menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan membeli perangkat baru.

Menyikapi tantangan rantai pasok ini, sejumlah produsen mulai menerapkan strategi khusus demi menjaga stabilitas harga dan ketersediaan produk. Samsung, misalnya, memanfaatkan kekuatan ekosistem internal melalui divisi Device Solutions yang memproduksi semikonduktor sendiri untuk mengamankan pasokan perangkat keras hingga akhir tahun 2026. Yadi Prayitno, MX Business Vice President Samsung Electronics Indonesia, menjelaskan bahwa kekuatan rantai pasok internal ini memungkinkan perusahaan tetap menjaga kestabilan harga serta ketersediaan produk yang diharapkan konsumen di tengah krisis chip global.

Selain jaminan pasokan, produsen juga mulai memperpanjang masa pakai perangkat melalui dukungan perangkat lunak yang lebih lama. Sebagai contoh, penyediaan pembaruan sistem operasi hingga enam kali serta pembaruan keamanan selama enam tahun kini mulai ditawarkan untuk memastikan perangkat tetap aman dan optimal digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua