FinansialArtikel

Tahun Baru Hijriah Jadi Momentum Berbenah Keuangan Rumah Tangga

Redaksi Intarta

Oleh

Tahun Baru Hijriah Jadi Momentum Berbenah Keuangan Rumah Tangga
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Pergantian tahun baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada 16 Juni 2026 bisa menjadi momen refleksi, termasuk untuk kesehatan finansial keluarga. Di tengah doa agar rezeki lebih lapang, ada kenyataan yang kerap luput: niat memperbaiki ekonomi sering tidak diikuti perubahan kebiasaan belanja sehari-hari.

Hijrah finansial di tingkat rumah tangga bukan sekadar jargon. Ini langkah nyata berpindah dari belanja reaktif yang didorong impuls menuju belanja sadar yang direncanakan. Pada akhirnya, perubahan ekonomi besar bermula dari keputusan kecil di meja makan, aplikasi belanja, hingga kasir.

Baca Juga:Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya Raya: Seni Mengelola Uang dengan Sadar

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Ekonomi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) triwulan I-2026 mencatat perekonomian tumbuh 5,61 persen secara tahunan, dengan konsumsi rumah tangga menyumbang 2,94 persen. Artinya, dompet keluarga adalah penggerak utama ekonomi. Namun kekuatan itu rapuh bila konsumsi ditopang gengsi dan utang jangka pendek, bukan penghasilan yang sehat.

Tekanan harga masih membayangi. Inflasi tahunan Mei 2026 tercatat 3,08 persen. Secara makro angka itu terkendali, tetapi di level rumah tangga, fluktuasi harga beras, telur, cabai, hingga ongkos transportasi sangat terasa.

Baca Juga:Bukan Besarnya Gaji, tapi Cara Menyimpan: Lima Kebiasaan yang Membuat Uang Terus Bekerja

Godaan Paylater dan Jebakan Kepuasan Instan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan melonjak 55,85 persen secara tahunan pada Maret 2026, naik dari 53,33 persen pada bulan sebelumnya. Untuk menekan risiko kredit macet dan melindungi konsumen, OJK menerbitkan POJK Nomor 32 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan BNPL yang sehat dan hati-hati.

Dompet digital dan paylater ibarat pisau bermata dua: memudahkan transaksi sekaligus mempercepat kebocoran uang tanpa kedisiplinan. Ekonomi perilaku menyebutnya present bias, kecenderungan mengutamakan kepuasan instan hari ini ketimbang keamanan finansial masa depan.

Belanja Sehat Bukan Berarti Berhenti Belanja

Hijrah finansial bukan berarti berhenti belanja sama sekali, karena langkah ekstrem itu justru bisa memperlambat roda ekonomi. Yang ditekankan adalah kualitas belanja: belanja yang memberi nilai jangka panjang, seperti membeli produk lokal, berinvestasi pada pendidikan anak, menjaga kesehatan, menyiapkan dana darurat, serta menyisihkan zakat, infak, dan sedekah produktif.

Optimisme konsumen masih terjaga. Survei Konsumen Bank Indonesia Mei 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen di level optimistis 120,9, sedikit turun dari 123,0 pada April 2026. Optimisme ini perlu dikelola dengan perencanaan matang agar tidak berubah menjadi keberanian berutang di luar kemampuan.

Empat Langkah Memulai Perubahan

Perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana yang konsisten: pertama, catat seluruh pengeluaran selama 30 hari untuk memetakan aliran uang. Kedua, pisahkan kebutuhan pokok, keinginan pribadi, dan kebocoran akibat belanja impulsif. Ketiga, dahulukan pelunasan utang konsumtif berbunga tinggi. Keempat, bangun dana darurat bertahap sebagai jaring pengaman keluarga.

Kebijakan moneter dan stimulus pemerintah hanya efektif bila disambut masyarakat yang dewasa secara finansial. Menjaga nilai uang dan memastikan penghasilan tidak habis untuk gaya hidup adalah tanggung jawab setiap rumah tangga.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua