TeknologiArtikel

AI Berisiko Perkuat Industri Fosil Ketimbang Energi Bersih

Redaksi Intarta

Oleh

AI Berisiko Perkuat Industri Fosil Ketimbang Energi Bersih
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Selama ini perdebatan soal kecerdasan buatan dan energi hampir selalu berputar pada satu hal: pusat data yang menjalankan AI menghabiskan listrik dalam jumlah raksasa. Namun sebuah studi baru mengangkat sisi lain yang dinilai justru lebih menentukan, yakni AI yang membuat industri minyak dan gas menjadi jauh lebih efisien dan produktif.

Studi yang dimuat di jurnal ilmiah npj Climate Action itu ditulis sejumlah peneliti yang sebagian pernah bekerja di Microsoft, termasuk pada inisiatif keberlanjutan perusahaan tersebut. Klaim utamanya cukup tajam: penghematan emisi yang dihasilkan AI di sektor energi terbarukan berisiko kalah jauh dari lonjakan produktivitas, dan otomatis lonjakan emisi, yang justru dihasilkan AI di industri migas.

Baca Juga:AI Microsoft Bisa Mendiagnosis Bertahap seperti Dokter, Akurasi Dua Kali Lipat

Energi Bersih Harus Unggul Empat Kali Lipat

Menurut model dalam studi itu, supaya penurunan emisi bersih benar-benar tercapai, kemajuan yang diraih sektor energi terbarukan lewat AI perlu sekitar empat sampai lima kali lebih besar dibanding kemajuan yang diraih industri bahan bakar fosil dari teknologi yang sama. Dengan kata lain, alat AI yang sama, yang bisa membantu menghindari emisi di sektor energi bersih, ternyata juga bisa dipakai industri migas untuk mendongkrak produksinya.

Klaim tersebut bukan sekadar teori. Perusahaan-perusahaan energi besar memang sudah memakai berbagai perangkat berbasis AI dalam operasional mereka, dan tidak realistis mengharapkan teknologi sebesar ini hanya dipakai untuk inisiatif keberlanjutan semata.

Baca Juga:Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah

Angka Industri Menunjukkan Investasi Besar

Konsultan energi Rystad Energy memperkirakan AI dan digitalisasi bisa menghasilkan nilai tambah kumulatif hampir 500 miliar dolar AS bagi perusahaan eksplorasi dan produksi migas antara 2026 hingga 2030. Nilai itu diperkirakan datang dari biaya operasi yang lebih efisien, produksi yang meningkat berkat perangkat lebih andal dan tingkat pemulihan cadangan lebih tinggi, serta jadwal pengembangan proyek yang lebih cepat.

Rystad juga memperkirakan perusahaan eksplorasi dan produksi yang lebih dulu berinvestasi di teknologi digital dan AI bisa meraih tambahan nilai sekitar 80 miliar dolar AS per tahun pada 2030 dibanding kondisi 2025. Tantangan terbesarnya, menurut Rystad, bukan lagi ketersediaan teknologi, melainkan penerapannya secara luas di lapangan.

Lembaga riset Wood Mackenzie bahkan memperkirakan AI berpotensi membantu mengungkap tambahan sekitar satu triliun barel minyak dari reservoir yang sudah ada. Analisnya menegaskan AI tidak menggantikan tim ahli geologi bawah permukaan, keduanya saling melengkapi, dan temuan ini memperkuat posisi tawar perusahaan migas saat bernegosiasi dengan negara pemilik cadangan.

Contoh Nyata dari Dua Raksasa Migas

ExxonMobil menyebut telah mengidentifikasi sejumlah peluang pengeboran baru di lepas pantai Guyana dengan bantuan AI. Chairman sekaligus CEO Darren Woods menjelaskan perusahaannya banyak berinvestasi mengembangkan model AI yang dilatih dari data pengeboran dan karakteristik bawah permukaan yang dikumpulkan selama ini, dan hasilnya menemukan empat peluang penemuan baru di luar perkiraan sebelumnya, meski masih perlu banyak pekerjaan lanjutan untuk memastikannya.
Chevron menyatakan sikap serupa. Chairman sekaligus CEO Mike Wirth menyebut perusahaannya akan memakai perangkat AI terbaru dalam kegiatan eksplorasi, dan meyakini AI akan mengubah kecepatan siklus kerja serta memungkinkan perusahaan melihat hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat.

Perlu dicatat, bahan yang tersedia tidak memuat tanggapan langsung perusahaan-perusahaan migas tersebut terhadap temuan spesifik studi soal risiko emisi ini. Dua sisi cerita ini berasal dari sumber berbeda dan belum saling merespons secara langsung. Latar belakang sebagian penulis studi yang pernah bekerja di Microsoft juga baik diketahui pembaca sebagai konteks, tanpa otomatis membuat temuannya tidak valid, karena riset tetap perlu dinilai dari metodologi dan datanya sendiri.

Perdebatan ini bukan sekadar urusan pelaku industri atau ilmuwan iklim. Jika AI ternyata lebih banyak dipakai memaksimalkan produksi minyak dan gas ketimbang mempercepat transisi energi bersih, dampaknya bisa terasa jauh lebih luas, mulai dari kecepatan target penurunan emisi global sampai harga energi yang akhirnya dirasakan konsumen sehari-hari.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua