InternasionalArtikel

Di Balik Tembok Penjara Paling Ketat: 40.000 Narapidana, Tanpa Kunjungan

Redaksi Intarta

Oleh

Di Balik Tembok Penjara Paling Ketat: 40.000 Narapidana, Tanpa Kunjungan
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Sebuah kompleks penjara raksasa yang dirancang menampung hingga 40.000 orang menjadi sorotan dunia karena sistem pengamanannya yang berlapis dan aturannya yang sangat ketat. Fasilitas bernama CECOT ini dibangun untuk menahan anggota geng kriminal paling berbahaya, dan disebut sebagai salah satu penjara terbesar di dunia berdasarkan kapasitas desainnya.

Kompleks ini memiliki delapan blok hunian. Berdasarkan investigasi Human Rights Watch dan University of California, Berkeley, satu sel dilengkapi tempat tidur susun logam empat tingkat dan dapat menampung sekitar 80 narapidana. Tempat tidur itu berupa pelat logam tanpa kasur maupun seprai.

Baca Juga:Kabur dari Fasilitas Medis di London, Narapidana Ini Jadi Buruan Polisi

Pengamanan Berlapis Selama 24 Jam

Pengamanan CECOT dijaga selama 24 jam penuh. Menurut data pemerintah El Salvador, terdapat sekitar 600 personel angkatan bersenjata dan 250 petugas kepolisian yang bertugas di kompleks tersebut. Laporan BBC menambahkan, sekitar 1.000 petugas penjara turut bertugas di fasilitas itu.

Aturan di dalamnya termasuk yang paling keras. Kunjungan keluarga dilarang, dan narapidana tidak mendapatkan akses ke program pendidikan, pelatihan kerja, maupun rehabilitasi untuk mempersiapkan kehidupan setelah bebas. Pemerintah El Salvador bahkan pernah menyatakan bahwa para penghuni penjara ini tidak akan kembali ke komunitas mereka.

Baca Juga:Ketika Sebuah Garis Memisahkan Masyarakat Adat yang Sudah Menyatu Berabad-abad

Kondisi Sel dan Perdebatan yang Menyertainya

Narapidana juga tidak mendapatkan akses ke jendela, kipas angin, atau pendingin udara. Setiap sel hanya memiliki dua toilet dan dua tempat untuk mencuci. Kondisi semacam ini memicu perdebatan sengit: di satu sisi, pemerintah menilainya sebagai langkah tegas memberantas geng kriminal yang selama puluhan tahun meneror masyarakat; di sisi lain, organisasi hak asasi manusia mempertanyakan perlakuan terhadap para tahanan dan masa depan mereka setelah menjalani hukuman.

Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini relevan sebagai bahan perbandingan dalam perdebatan kebijakan keamanan dan pemasyarakatan. Setiap negara menghadapi dilema yang sama: bagaimana menindak kejahatan berat secara tegas tanpa mengorbankan prinsip kemanusiaan dan pembinaan. Keiko Fujimori tercatat mengunjungi kompleks ini, menandakan perhatian kawasan terhadap model penjara tersebut. Langkah berikutnya yang patut diamati adalah apakah model sekeras ini terbukti menekan kejahatan dalam jangka panjang, atau justru melahirkan persoalan baru di kemudian hari.

Sumber: CNBC Indonesia

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua