RagamArtikel

Kenapa Tuyul dan Babi Ngepet Tak Pernah Merampok Bank?

Redaksi Intarta

Oleh

Kenapa Tuyul dan Babi Ngepet Tak Pernah Merampok Bank?
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Cerita tentang tuyul dan babi ngepet sudah lama beredar di masyarakat sebagai makhluk gaib yang konon mencuri uang demi membuat pemiliknya cepat kaya. Namun satu pertanyaan kerap muncul: kenapa keduanya tak pernah dikaitkan dengan pencurian uang dari bank? Jawabannya bisa ditelusuri dari sisi logika, sejarah, dan keadaan sosial tempat mitos itu tumbuh.

Mitos yang Lahir dari Ketimpangan Zaman Dulu

Baca Juga:Kerja Keras Saja Ternyata Belum Cukup untuk Keluar dari Kemiskinan

Kepercayaan ini berakar di masyarakat agraris, terutama di Jawa dan sejumlah daerah lain, pada masa ketimpangan ekonomi terasa begitu tajam. Setelah liberalisasi ekonomi sekitar tahun 1870 di era kolonial, banyak petani kecil kehilangan tanah karena perkebunan kolonial dan perusahaan besar meluas, sementara sebagian pedagang dan pengusaha justru makin makmur. Kekayaan yang muncul tanpa usaha yang tampak jelas lalu memicu curiga: jangan-jangan ada bantuan gaib di baliknya. Dari suasana itulah cerita tuyul dan babi ngepet menguat.

Antropolog Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java menjelaskan tuyul sebagai bagian dari tradisi budaya yang berkelindan dengan kondisi sosial dan psikologis masyarakat. Dalam cerita yang beredar, orang yang dituduh memelihara tuyul biasanya digambarkan tiba-tiba kaya tanpa pekerjaan yang jelas, bersikap tertutup dan hemat, tetap berpakaian sederhana, serta enggan memamerkan harta di depan umum. Mitos semacam ini menjadi cara masyarakat menjelaskan ketimpangan yang sulit dipahami.

Tiga Alasan Bank Tak Pernah Jadi Sasaran

Baca Juga:Sudah Menabung tapi Saldo Tak Kunjung Bertambah? Ini Lima Kesalahan yang Sering Tak Disadari
Pertama, sistem perbankan modern terlalu rumit untuk mitos semacam ini. Bank dijaga berlapis, dari pengawasan fisik dan kamera pengawas sampai pengamanan digital dan transaksi elektronik. Sebagian besar uang kini bahkan tidak berbentuk fisik, melainkan tersimpan secara digital, sehingga gambaran makhluk gaib yang mengendap-endap mencuri uang tunai tidak lagi nyambung dengan cara kerja bank.
Kedua, mitos ini lahir dari lingkungan rumah tangga dan permukiman, bukan dari dunia lembaga keuangan. Sasarannya dalam cerita selalu simpanan uang tetangga atau keluarga, tempat masyarakat saling mengamati kondisi ekonomi satu sama lain dari dekat.
Ketiga, tuduhan pesugihan pada dasarnya lahir dari kecemburuan sosial. Sasaran kecurigaan adalah individu yang mendadak kaya, bukan institusi. Sejarawan Ong Hok Ham dalam From Priyayi to Nyi Blorong juga menyoroti bagaimana kekayaan mendadak dalam masyarakat tradisional kerap dikaitkan dengan perjanjian gaib.

Cermin Ketimpangan, Bukan Sekadar Cerita Horor

Pada akhirnya, tuyul dan babi ngepet lebih tepat dibaca sebagai cermin perubahan sosial: ketika jurang ekonomi melebar, penjelasan gaib muncul untuk menjawab akumulasi kekayaan yang dianggap tidak adil. Mitosnya tetap hidup sampai sekarang dalam cerita rakyat dan budaya populer, tetapi secara logis ia tak pernah menyentuh bank karena sistem keuangan modern bersifat digital, berlapis, dan dijaga teknologi canggih. Di baliknya, yang bekerja adalah kecemburuan sosial, ketimpangan, dan peralihan masyarakat agraris menuju ekonomi modern.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua