InternasionalArtikel

Kerugian Perang Membengkak Hingga Ratusan Triliun, Beban Anggaran Militer Kian Berat

Redaksi Intarta

Oleh

Kerugian Perang Membengkak Hingga Ratusan Triliun, Beban Anggaran Militer Kian Berat
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Serangan rudal dan drone terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat selama perang beberapa bulan terakhir telah menyebabkan kerugian yang sangat besar. Perhitungan terbaru yang dikutip The Wall Street Journal (WSJ) dari sejumlah sumber serta analisis citra satelit menaksir kerugian mencapai USD15 miliar atau lebih dari Rp271 triliun.

Kerusakan itu semakin menambah beban biaya perang Pentagon yang terus membengkak. Biaya perang sejauh ini telah mencapai hampir USD50 miliar atau lebih dari Rp906 triliun.

Baca Juga:Generasi Muda Turun ke Jalan, Toko-Toko Pasang Pengaman Antisipasi Kerusuhan

Ratusan Bangunan Rusak di Puluhan Instalasi

Analisis WSJ yang diterbitkan pada Jumat (30/10/2026) mengidentifikasi total 274 bangunan yang mengalami kerusakan di 24 instalasi militer yang memiliki kehadiran pasukan AS. Sedikitnya 119 bangunan di 13 instalasi mengalami kerusakan hanya dalam dua pekan pertama perang.

Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain menjadi salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan paling parah. Gelombang serangan balasan itu dilancarkan menyusul serangan yang memicu konflik pada 28 Februari.

Baca Juga:Diplomasi Ditempuh untuk Mencegah Eskalasi Militer Baru

Taksiran Kerugian Masih Berbeda-beda

Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya dan mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada WSJ bahwa Pentagon memperkirakan kerusakan pangkalan militer mencapai sedikitnya USD5 miliar atau lebih dari Rp90,6 triliun. Sumber lain menyebutkan nilai kerusakan itu berpotensi mencapai USD15 miliar.

Banyak instalasi tersebut digunakan bersama oleh Washington dan sekutu-sekutu regionalnya. Artinya, negara-negara sekutu berpotensi ikut menanggung sebagian biaya kerusakan. Laporan WSJ juga menyebut Pentagon mungkin memutuskan untuk tidak memulihkan sejumlah infrastruktur yang rusak.

Dampak yang Perlu Dipantau

Keputusan untuk tidak memulihkan sebagian infrastruktur bukan sekadar soal anggaran. Hal itu bisa mengubah postur kehadiran militer di kawasan, memengaruhi kesiapan operasi, dan memaksa sekutu menanggung beban yang lebih besar.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan semacam ini patut dipantau karena ketegangan berkepanjangan di kawasan penghasil energi kerap berdampak pada ketidakpastian pasar global dan harga energi. Dampaknya tidak selalu langsung, tetapi bisa terasa lewat biaya logistik, harga bahan bakar, dan gejolak pasar keuangan.

Selama perang belum mereda, biaya kerusakan dan biaya operasi akan terus menjadi beban. Pertanyaan berikutnya bukan hanya berapa besar kerugian yang sudah terjadi, melainkan fasilitas mana yang akan dipulihkan, mana yang dibiarkan, dan bagaimana sekutu membagi beban tersebut ke depan.

Sumber: SINDOnews

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua