Meta Didenda Rp10,1 Triliun atas Dampak Media Sosial pada Anak
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Pengadilan negara bagian memerintahkan Meta Platforms membayar 567 juta dolar atau sekitar Rp10,1 triliun atas dampak Instagram dan Facebook terhadap kesehatan mental anak-anak dan remaja. Putusan ini dijatuhkan Kamis larut malam waktu setempat, menutup fase kedua dari sidang yang sudah bergulir lebih dari dua tahun. Dengan tambahan ini, total kewajiban finansial Meta dalam kasus tersebut mencapai hampir 942 juta dolar, gabungan dari denda baru dan 375 juta dolar yang sebelumnya diputuskan dewan juri pada Maret 2026.
Denda Baru dan Total Kewajiban
Hakim kepala pengadilan distrik, Bryan Biedscheid, menuliskan dalam putusannya bahwa remaja tengah menghadapi krisis kesehatan mental, dan platform milik Meta menjadi penyebab kontribusi yang signifikan terhadap krisis itu. Dari total 567 juta dolar, sebanyak 420 juta dolar dialokasikan untuk layanan perawatan bagi anak muda, sedangkan sisanya dipakai untuk program kesadaran, pencegahan, skrining, dan penanganan lain selama lima tahun mendatang. Kasus ini bermula dari gugatan kejaksaan agung negara bagian yang dipimpin Raúl Torrez. Torrez menuduh Meta melanggar undang-undang praktik tidak adil negara bagian karena menyesatkan publik soal keamanan Facebook dan Instagram bagi pengguna muda. Pada Maret 2026, juri memutuskan Meta bersalah dan mewajibkannya membayar 375 juta dolar, putusan yang menurut laporan media setempat turut mencatat puluhan ribu dugaan pelanggaran atas undang-undang tersebut. Fase kedua persidangan berlangsung tanpa juri dan berfokus pada langkah pemulihan yang harus dijalankan Meta ke depan. Jaksa pada fase ini meminta hakim memerintahkan perubahan mendasar pada cara kerja platform Meta, yaitu mengurangi fitur adiktif, memperbaiki verifikasi usia, dan mencegah eksploitasi seksual anak lewat pengaturan privasi default yang lebih ketat.
Perubahan Platform Selama Lima Tahun
Selain denda, hakim memerintahkan sejumlah perubahan pada Facebook dan Instagram yang berlaku lima tahun ke depan. Di antaranya batas penggunaan bulanan untuk akun remaja, pembatasan notifikasi, kontrol lebih ketat atas kontak orang dewasa ke akun anak di bawah umur, pengamanan tambahan pada chatbot berbasis kecerdasan buatan, serta peninjauan yang lebih ketat atas laporan konten eksploitasi seksual anak. Meta juga wajib menampilkan banner dan layar informasi yang menjelaskan fitur perlindungan serta cara melaporkan komentar tidak pantas, dan menjalankan kampanye edukasi yang akan diawasi negara bagian.
Baca Juga:Demi Danai Ambisi AI yang Kian Mahal, Meta Siapkan Saham Kelas BaruBatas Kewenangan dan Estimasi Usia
Pengadilan punya batas kewenangan. Hakim menyebut undang-undang perlindungan privasi anak secara daring melarang Meta meminta data pribadi dari anak di bawah 13 tahun, termasuk untuk keperluan verifikasi usia, sehingga langkah semacam itu tidak bisa diwajibkan lewat putusan ini. Pengadilan juga menilai tidak adil bila hanya Meta yang diharuskan memverifikasi usia penggunanya, sementara platform lain tidak dikenai kewajiban serupa. Sebagai gantinya, Meta diminta terus mengembangkan alat estimasi usia berbasis kecerdasan buatan yang membaca sinyal seperti lingkar pertemanan dan jenis konten yang dikonsumsi pengguna. Perusahaan harus membangun model prediksi khusus untuk mendeteksi pengguna di bawah 13 tahun dalam dua tahun ke depan, meminta bukti usia dari akun yang diperkirakan masih anak-anak, memperlakukan akun yang usianya belum bisa dipastikan sebagai akun anak sampai terverifikasi, bekerja sama dengan sekolah atau lembaga perlindungan anak untuk membuka kanal pelaporan, serta menghapus data pribadi yang sudah terlanjur terkumpul dari pengguna di bawah 13 tahun. Laporan kepatuhan wajib disampaikan dua kali setahun.
Banding dan Gelombang Gugatan Berikutnya
Torrez menyebut putusan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan yang produknya terbukti sengaja membahayakan anak-anak, dan menyampaikan bahwa keputusan tersebut memberi kelegaan bagi orang tua yang selama ini khawatir dengan pengaruh media sosial pada anak mereka. Meta, di sisi lain, menyatakan telah bekerja keras menjaga keamanan penggunanya dan selama ini terbuka soal tantangan mendeteksi pelaku serta konten berbahaya di platformnya. Perusahaan menegaskan akan mengajukan banding dan tetap membela diri dari tuduhan yang dinilainya tidak mencerminkan fakta sebenarnya. Meski nilainya besar, 942 juta dolar tergolong kecil dibandingkan proyeksi laba tahunan Meta yang diperkirakan mencapai 60 miliar dolar pada 2025. Reaksi pasar pun relatif datar: saham Meta hanya turun kurang dari setengah persen, ke level 589,44 dolar, dalam perdagangan setelah jam bursa pada hari putusan dijatuhkan. Putusan ini bukan akhir dari masalah hukum Meta terkait dampak platformnya pada anak dan remaja. Pekan depan, Meta dijadwalkan menghadapi sidang di pengadilan federal melawan empat dari 29 negara bagian yang menggugatnya dalam gugatan multidistrik sejak 2023. Gugatan itu menuduh Meta sengaja merancang fitur adiktif pada Instagram dan Facebook yang merugikan kesehatan mental anak muda. Delapan negara bagian lain, termasuk satu negara bagian yang sidangnya tengah berjalan sejak Juli, memilih menggugat lewat pengadilan negara bagian masing-masing. Akhir Juli lalu, Meta bersama TikTok, Snap, dan YouTube turut digugat oleh keluarga empat remaja yang meninggal akibat bunuh diri. Keluarga tersebut menyebut kematian anak-anak mereka sebagai buntut dari dampak buruk yang terus memburuk selama bertahun-tahun akibat penggunaan platform-platform itu. Peneliti media sosial dan keamanan siber Laura Edelson menyebut putusan ini sebagai awal dari rentetan tekanan hukum yang akan terus menghampiri Meta. Menurutnya, Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan melarang media sosial lewat undang-undang, tetapi begitu negara-negara bagian mengetahui sebuah perusahaan merancang produknya dengan menyadari risiko bahayanya, mereka kini mulai menemukan cara untuk menekan perusahaan tersebut. Bagi Meta, tantangan yang dihadapi bukan lagi soal satu putusan pengadilan, melainkan pola yang berulang, dengan kemungkinan negara bagian lain menyusul di belakang.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Meta Digugat Massal di Australia, Dituduh Rusak Anak Lewat Media Sosial

Demi Danai Ambisi AI yang Kian Mahal, Meta Siapkan Saham Kelas Baru

Anthropic Rilis Asisten AI yang Menyapa Duluan Sebelum Anda Bertanya

Anthropic Resmi Ajukan IPO, Valuasi Ditaksir hingga 2 Triliun Dolar AS

Celah Kritis PHP Ditemukan Lewat Kecerdasan Buatan, Sejumlah Negara Tutup Situs Pemerintah

Raffi Ahmad Diserukan Boikot, Sang Ibu Berpesan Jaga Kejernihan Akal
Berita Terkini
Lihat Semua
Kalah di Pasar Ponsel, Raksasa Lama Ini Justru Menang di Balik Layar Penyelamatan

Tujuh Kendaraan Terbang Paling Menarik, dari Mobil Sport Sampai Taksi Udara

Dibuka Sampai Sekrup Terakhir, Ponsel Flagship Ini Ternyata Punya Kejutan Besar

Pengurus Ungkap Detik-detik Penggeledahan Dini Hari yang Bikin Santriwati Ketakutan

