Bantuan Miliaran Dolar Itu Bakal Berhenti di Akhir Tahun, Ini Alasannya
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Pengumuman mengejutkan datang dari Donald Trump: bantuan militer tahunan senilai hampir 4 miliar dolar yang selama ini diberikan kepada sekutunya akan dihentikan pada akhir tahun ini. Dalam wawancara dengan stasiun televisi konservatif Fox, Trump menyebut kesepakatan itu sudah disepakati berbulan-bulan lalu bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Kami sudah sepakat bahwa pada akhir tahun kami tidak akan lagi membayar," kata Trump dalam acara Fox & Friends, seraya menambahkan bahwa pihak penerima bantuan itu "baik-baik saja" dengan keputusan tersebut. Ia menegaskan bantuan tetap bisa diberikan bila sewaktu-waktu benar-benar dibutuhkan, dan pembelian persenjataan tetap terbuka kapan pun.
Baca Juga:Desakan Serangan Baru Mencuat di Tengah Negosiasi yang Masih AlotKesepakatan Lama yang Dipangkas Lebih Cepat
Bantuan tersebut selama ini mengalir lewat nota kesepahaman sepuluh tahun yang dimulai pada 2019 dan dijadwalkan berjalan hingga September 2028. Nilainya mencapai 3,8 miliar dolar per tahun. Trump tidak merinci mekanisme penghentian yang lebih cepat itu, tetapi ia menegaskan kesepakatan penghentian sudah dibuat jauh sebelum pengumuman ini.
Di sisi lain, Netanyahu sebelumnya pernah menyatakan keinginannya mengurangi ketergantungan pada bantuan luar negeri. Pada Juni lalu, ia mengatakan sangat menghargai dukungan dari "teman-teman Amerika", namun negaranya perlu membangun jaringan persenjataan sendiri yang mandiri.
Baca Juga:Peringatan Keras Pemimpin Tertinggi Jelang Pemilu Penentu Arah KonflikKritik dari Lawan Politik dan Sorotan Publik
Pengumuman itu langsung menuai kritik dari kubu oposisi. Gadi Eisenkot, tokoh oposisi yang berupaya membentuk koalisi penantang Netanyahu, menilai cara pengumuman itu disampaikan lewat media menunjukkan rapuhnya hubungan strategis tersebut. "Dia tidak lagi bisa dipercaya dan harus diganti," kata Eisenkot dalam pernyataan yang diunggah di X.
Konteks politik dalam negeri Amerika Serikat ikut mewarnai pengumuman ini. Pernyataan Trump disampaikan pada hari pemungutan suara pemilihan paruh waktu, yang dipandang sebagai referendum atas masa jabatan keduanya dan berpotensi mengubah peta kekuasaan di Kongres. Sejumlah politisi Partai Demokrat, seperti Abdul El-Sayed di Michigan, mengkritik kelanjutan bantuan luar negeri di tengah warga yang bergulat dengan harga-harga yang naik.
Trump sendiri mengakui salah satu alasannya adalah menangkal serangan politik dari kubu kiri. Ia mempertanyakan mengapa partainya harus menanggung kritik atas isu tersebut bila penerima bantuan dinilai sudah tidak lagi membutuhkannya. Survei yang dikutip bahan ini menunjukkan pergeseran opini publik: jajak pendapat Quinnipiac pada Juni menemukan 48 persen pemilih menganggap Amerika Serikat terlalu mendukung Israel, naik dari 16 persen pada 2017, sementara survei Pew Research Center pada Maret tahun lalu mencatat 53 persen warga memandang Israel secara tidak baik, naik dari 42 persen pada 2022.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengonfirmasi serangan militer Amerika Serikat terhadap sebuah fasilitas pertahanan udara Iran pada malam sebelumnya, yang ia sebut sebagai serangan "kecil". Analis Jon Alterman dari Center for Strategic and International Studies menilai waktu kedua pengumuman itu "menarik", apalagi muncul di tengah spekulasi soal kemungkinan serangan gabungan besar dalam waktu dekat. Perang dengan Iran, menurut bahan ini, telah ikut mendorong lonjakan harga bensin dan menurunkan tingkat persetujuan terhadap Trump.
Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini patut diikuti bukan hanya sebagai kabar politik luar negeri. Setiap perubahan besar dalam aliansi keamanan dan konflik di kawasan itu berpotensi merembet ke pasar energi global, termasuk harga minyak yang pada akhirnya memengaruhi biaya transportasi dan harga barang di dalam negeri. Langkah berikutnya yang paling menentukan adalah kejelasan mekanisme penghentian bantuan itu: apakah benar-benar berhenti total pada akhir tahun, berubah bentuk menjadi kerja sama persenjataan yang lain, atau justru dinegosiasikan ulang setelah pemilihan paruh waktu selesai.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Desakan Serangan Baru Mencuat di Tengah Negosiasi yang Masih Alot

Peringatan Keras Pemimpin Tertinggi Jelang Pemilu Penentu Arah Konflik

Sesumbar Bisa Beres dalam 10 Menit, Ancaman Serangan Baru Kembali Mengemuka

Hakim Menolak Permanen Gugatan Pencemaran Nama Baik Senilai 10 Miliar Dolar

Dimediasi Melania Trump, Rusia dan Ukraina Sepakat Gencatan Senjata di Kota Oleshky

Menang Tanpa Mayoritas, Kekuatan Sang Petahana Diuji di Meja Koalisi
Berita Terkini
Lihat Semua
Ketika Kekayaan Raksasa Mengancam Demokrasi, Sejarawan Ingatkan Bahaya Baru

Pertarungan Sengit Memperebutkan Kendali Parlemen di Tengah Penilaian atas Presiden

Konferensi Keamanan ke-25 Soroti Ancaman Agresi dan Dorongan Reformasi Hukum









