EkonomiArtikel

Rupiah dan IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Global, Pasar Menanti Data PDB

Redaksi Intarta

Oleh

Rupiah dan IHSG Menguat di Tengah Ketegangan Global, Pasar Menanti Data PDB
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

INTARTA.com - Pasar keuangan bergerak di tengah dua sentimen yang tarik-menarik pada perdagangan Rabu. Di satu sisi, ada kekhawatiran soal ultimatum Amerika Serikat kepada Iran yang berpotensi memicu gejolak baru di kawasan. Di sisi lain, pelaku pasar dalam negeri menanti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II, yang diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai perhatian pasar saat ini masih tersedot ke perkembangan hubungan AS dan Iran. Menurutnya, pernyataan AS yang pada dasarnya memberi pilihan kepada Iran, berdamai atau menghadapi konsekuensi yang lebih besar, membuat investor bergerak lebih hati-hati dari biasanya.

Baca Juga:Nilai Rupiah Belum Beranjak dari Rp 18.100-an, Gejolak Politik Dalam Negeri Jadi Beban Tambahan

Pelaku pasar akan sangat berhati-hati dengan kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar. Ultimatum AS berpeluang menjadi petaka bagi pasar keuangan jika Iran justru menolak ajakan AS, ujar Gunawan.

Rupiah dan IHSG Kompak Menguat Pagi Ini

Sejauh ini, sentimen tersebut belum menekan pasar Asia secara keseluruhan. Mayoritas bursa saham di kawasan bergerak di zona hijau pada perdagangan pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri dibuka menguat ke level 6.338,591, meski sempat terkoreksi ke zona merah sebelum kembali stabil.

Baca Juga:Pengungkapan Bandar Saham Gorengan Jadi Ujian Kepercayaan Pasar

Rupiah pun ikut menguat, diperdagangkan di kisaran Rp17.935 per dolar AS. Penguatan ini ditopang oleh melemahnya indeks dolar AS (USD Index), yang masih bertahan di bawah level psikologis 100, angka yang biasanya jadi acuan kekuatan dolar terhadap mata uang dunia lainnya.

Menurut Gunawan, pelemahan USD Index tidak lepas dari turunnya harga minyak mentah dunia, yang kembali bergerak di bawah 80 dolar AS per barel. Sentimen ini muncul setelah pejabat AS menyatakan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak kawasan, tetap terbuka, sekaligus menyebut peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat.

Meski begitu, Gunawan mengingatkan bahwa ketenangan pasar saat ini sifatnya masih rentan berubah. Situasi bisa saja berbalik jika ketegangan berkembang menjadi konfrontasi yang lebih serius. Risiko terbesar saat ini adalah jika kedua belah pihak justru meningkatkan konflik, dan potensi eskalasi itu masih menjadi ancaman utama bagi pasar keuangan global, katanya.

Data PDB Kuartal II Jadi Penentu Sentimen Domestik

Di dalam negeri, perhatian investor turut tertuju pada pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026. Gunawan memperkirakan ekonomi nasional masih akan tumbuh di kisaran 5 persen secara tahunan. Angka yang jika terkonfirmasi, berpotensi menjaga optimisme pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Namun ia juga menekankan, sentimen dari data PDB kemungkinan tidak akan sepenuhnya mengalihkan perhatian pasar dari isu geopolitik. Faktor eksternal, terutama perkembangan hubungan AS-Iran, menurutnya tetap menjadi risiko utama yang membayangi pergerakan rupiah maupun IHSG dalam waktu dekat.

Emas Ikut Menguat Seiring Redanya Tekanan Pasar Energi

Harga emas dunia turut bergerak menguat pada perdagangan hari ini, ke level 4.105 dolar AS per troy ons, atau setara sekitar Rp2,38 juta per gram. Penguatan ini terjadi seiring mulai meredanya tekanan dari pasar energi, sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah dunia yang disinggung sebelumnya.

Pola ini memperkuat gambaran bahwa pergerakan harga minyak, dolar AS, dan emas hari ini saling terkait erat. Semuanya bermuara pada satu isu yang sama: bagaimana hubungan AS dan Iran akan berkembang dalam waktu dekat.

Data pergerakan rupiah, IHSG, dan harga emas dalam berita ini merupakan angka pada saat perdagangan berlangsung dan berpotensi berubah sepanjang hari. Pandangan mengenai arah pasar dan risiko geopolitik merupakan analisis Gunawan Benjamin, bukan pernyataan resmi otoritas moneter atau pemerintah.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…

Berita Terkait

Berita Terkini

Lihat Semua